03. Marga Berdarah

498 57 5
                                        

Koridor sekolah tampak seperti lorong tak berujung yang pengap. Hizumi berjalan dengan langkah berat, kedua tangannya mendekap tumpukan kertas kisi-kisi ujian yang tebalnya cukup untuk memukul pingsan seseorang.

Harusnya ia fokus pada deretan soal matematika di tangannya, tapi otaknya justru memutar ulang kejadian tadi pagi di apartemennya.

"Kau sentuh lagi pakaianku, akan kupastikan tempat ini rata dengan tanah, bocah!" Nada serak itu menggema di kepalanya, kasar dan mengandung ancaman yang tidak perlu. Hizumi mendengus pelan.

"Dasar anjing gila," gumam Hizumi pelan.

Ia hampir saja menendang Hyuga keluar jendela kalau saja ia tidak ingat pria itu adalah adalah salah satu ketua geng SWORD yang jelas akan menimbulkan masalah jika mencari masalah dengannya.

"Siapa yang anjing gila, Amamiya-chan?"

Hizumi berjengit kecil. Di depannya, berdiri Seiji Kirihara. Pemuda itu baru saja keluar dari ruang guru dengan tumpukan buku di tangan. Seiji adalah sedikit dari orang di sekolah ini yang mampu akrab dengannya karena sering berada dalam lomba yang sama.

"Bukan urusanmu," jawab Hizumi ketus, meski ia tidak benar-benar marah. Matanya menatap Seiji yang kini sudah berdiri di sampingnya, mengambil alih separuh tumpukan kertas di tangan Hizumi tanpa diminta.

"Galak sekali. Habis bertengkar dengan hantu lagi?" Seiji terkekeh, menyesuaikan langkahnya dengan Hizumi.

"Seiji," panggil Hizumi tiba-tiba.

"Hum?"

Pandangannya lurus ke depan. "Pernah tidak kau merasa membawa masalah besar ke rumahmu sendiri, tapi justru merasa itu hal paling masuk akal yang bisa kau lakukan?"

Seiji melambat, menatap Hizumi dengan dahi berkerut. "Maksudmu memelihara kucing liar yang suka menggigit? Kurasa itu keahlianmu, Amamiya."

Hizumi memutar bola matanya. "Lupakan saja."

Mereka kembali berjalan berdampingan. Suara langkah sepatu memantul pelan di lantai keramik, bercampur celoteh Seiji tentang ujian yang sebentar lagi datang. Ia berbicara terus-menerus, mungkin sadar bahwa keheningan di sekitar Hizumi selalu terasa terlalu canggung.

Di depan ruang guru, Seiji berhenti. "Pergilah," Seiji sedikit membungkuk lalu berucap dengan nada rendah yang jail, "... Anak emas." Anak itu langsung kabur sebelum mendapatkan kemarahan Hizumi.

Hizumi hanya mengeluarkan helaan napas panjang sebelum pintu geser didorong perlahan.

Di dalam, aroma kertas tua dan kopi instan menyambutnya. Ia berjalan menuju meja wali kelasnya, berdiri dengan sikap formal yang tampak dipaksakan.

"Amamiya-san," guru itu memulai, matanya mengintip dari balik kacamata tebal sambil membolak-balik lembar riwayat nilainya. "Nilaimu masih yang terbaik. Peringkat satu di seluruh angkatan. Itu pencapaian luar biasa."

Hizumi hanya membungkuk kecil. "Terima kasih, Sensei."

"Tolong, Amamiya-san. Pertahankan prestasimu. Jangan sampai kesehatanmu merusak masa depanmu yang gemilang ini."

Nasihat itu terus mengalir, masuk ke telinga kiri dan keluar ke telinga kanan Hizumi. Ia hanya menjawab dengan "Iya" dan "Baik, Sensei" secara mekanis. Baginya, angka-angka di kertas ujian ini hanyalah cara untuk membuktikan bahwa ia masih memiliki kontrol atas hidupnya yang kacau.

𝗦𝗖𝗔𝗥 𝗖𝗢𝗩𝗘𝗡𝗔𝗡𝗧 [ 𝗥𝗘𝗩𝗜𝗦𝗜! ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang