06. Retak Yang Terdengar

440 51 13
                                        

Pagi itu, salah satu unit di partemen Cress Venue yang dihuni keluarga Amamiya terasa seperti gua yang tenang namun pengap. Cahaya matahari hanya mampu menerobos melalui celah-celah gorden yang tidak tertutup sempurna, membiarkan garis-garis debu emas menggantung dan bergerak pelan di udara.

Suara penyiar berita dari televisi mengisi ruangan—melaporkan rentetan gempa susulan yang kembali mengguncang wilayah Jepang Timur. Bagi Hizumi, itu hanya terdengar seperti suara latar yang membosankan.

Hizumi bersila di atas sofa, ponsel berada di tangannya. Jemarinya menggeser layar Instagram dengan malas. Tidak ada yang menarik. Foto makanan estetik. Keluhan soal ujian. Gosip jalanan yang bahkan sudah ia ketahui sebelum diposting.

Napas panjang keluar begitu saja. Tangannya menjulur ke meja kopi, meraba permukaan kayu sebelum menemukan gelas berisi cairan bening. Es batu di dalamnya berdenting pelan ketika ia mengangkatnya, bunyi klang kecil yang terdengar jernih di tengah ruangan yang pengap.

Bibir gelas itu nyaris menyentuh bibirnya—

SET!

Sebuah tangan besar dan dingin menyambar dari samping. Gelas itu lenyap dari genggamannya sebelum ia sempat memahami apa yang terjadi. Detik berikutnya, sentilan keras mendarat tepat di tengah dahinya.

TAK!

"Aduh!" Hizumi langsung memegangi dahinya, sorot matanya menyalang tajam. "Sakit, Bodoh!"

Di depannya sudah berdiri Hiroto. Wajahnya lebih gelap dari mendung di luar jendela. Tanpa sepatah kata pun, ia mengangkat gelas itu dan menenggaknya dalam satu tarikan napas hingga es batu tersisa di dasar. Bunyi kaca membentur meja terdengar keras saat ia membantingnya kembali.

"Sejak kapan kau menyentuh barang haram ini, bocah?" Suaranya rendah. Dingin. Sarat nada interogasi.

Hizumi mendengus, mencoba merebut kembali gelas kosongnya. "Cuma alkohol ringan! Lagi pula hari ini cukup dingin. Ini membuatku rileks!"

"Rileks apanya?!" sembur Hiroto, matanya memicing tajam.

"Umurmu baru tujuh belas tahun. Kau masih punya waktu tiga tahun lagi sebelum otak kecilmu itu legal untuk diracuni alkohol."

Hiroto berhenti sejenak, matanya menyipit seolah sedang menghitung kalender di dalam kepalanya. "Tunggu... kau lahir bulan Februari, kan?"

Hizumi mendongak, sedikit terkejut kakaknya masih ingat. "Iya. Dua bulan lagi aku delapan belas tahun. Sudah hampir dewasa, Hiroto-niichan. Jadi sepasrah itu saja, oke?" Senyum kemenangan paling manis langsung dipasang, berharap bahwa angka delapan belas cukup untuk meluluhkan pertahanan kakaknya.

Namun, harapan itu pupus dalam sedetik.

Hiroto justru mendengus kasar, wajahnya kembali mengeras. "Dua bulan lagi delapan belas? Terus kenapa? Di negara ini kau baru dianggap manusia dewasa yang boleh merusak diri sendiri itu umur dua puluh tahun. Kurang dua tahun dua bulan lagi. Masih lama, Bocah."

"Dua tahun itu sebentar!" bantah Hizumi, suaranya meninggi. "Dan aku tidak berniat merusak diri! Aku cuma sedang merasa suntuk sampai mau gila!"

"Omong kosong! Kau mau berakhir pecandu jalanan? Hah?!"

Hizumi tersentak mendengarnya namun ia segera memasang wajah defensif.  "Oh, jadi kau lebih suka aku begadang sambil menangis merindukan kalian daripada minum segelas sake? Begitu?!"

𝗦𝗖𝗔𝗥 𝗖𝗢𝗩𝗘𝗡𝗔𝗡𝗧 [ 𝗥𝗘𝗩𝗜𝗦𝗜! ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang