Hizumi melangkah keluar dari kamar mandi yang masih mengepulkan uap hangat. Aroma sabun bergamot yang tajam memenuhi ruangan apartemennya yang sunyi.
Ia hanya mengenakan tank top putih polos yang sedikit lembap di bagian leher, dipadukan dengan celana jeans pendek yang memperlihatkan kulit kakinya yang bersih dan terawat.
Handuk putih masih melilit kepalanya dengan rapi agar sisa air tidak menetes ke lantai kayu. Ia duduk di depan meja rias, memandangi pantulan dirinya di cermin dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Matanya yang indah sedikit meredup, dikelilingi kantong mata yang menghitam karena ia terus begadang selama dua minggu terakhir. Ambisinya untuk mendapatkan ranking satu seangkatan telah menyita waktu tidurnya, namun ia tetap terlihat menawan bahkan dengan ekspresi lelah itu.
Ia duduk di depan meja rias kecil di sudut kamar. Cahaya dari lampu meja yang temaram memantulkan bayangannya di cermin. Hizumi mendekatkan wajahnya ke kaca, jemarinya menyentuh permukaan kulit di bawah matanya.
Ia mengambil eye cream yang hampir habis lalu mengoleskannya dengan gerakan memutar yang pelan. Jemarinya berhenti sejenak saat matanya menangkap foto empat orang di sudut cermin.
Tiga singa dan satu anak kucing.
"Kalian pasti akan menertawakanku kalau tahu aku sampai begadang cuma buat angka di kertas," bisiknya pada bayangan Masaki dan Hiroto di foto itu.
Detik berikutnya, suasana haru itu seketika pecah oleh protes dari dalam tubuhnya.
Lambungnya seolah sedang melakukan demonstrasi besar-besaran, menciptakan sensasi perih yang melilit dan suara gaduh yang bergema di keheningan apartemen. Pantas saja, terakhir kali ia menyentuh makanan padat adalah saat jam makan siang di kantin sekolah, itu pun hanya salad porsi kecil karena ia sedang malas mengunyah.
"Oke, oke, aku dengar," gumamnya kesal pada perutnya sendiri. "Bisa-bisanya kau berulah di saat seperti ini," ia memijat ulu hatinya yang mulai terasa nyeri.
Gadis itu bangkit dengan gerakan gusar, menyeret langkah kakinya menuju dapur minimalisnya. Dengan harapan setinggi langit—setidaknya untuk menemukan sebungkus ramen instan—ia membuka pintu kulkas.
Hanya ada sebotol air mineral yang tampak menyedihkan dan deretan masker wajah yang tersusun rapi. Harapan terakhirnya adalah lemari penyimpanan makanan. Namun saat membukanya, Hizumi hanya menemukan selembar roti tawar sisa kemarin yang pinggirannya mulai mengeras. Tanpa selai, tanpa mentega, bahkan tanpa aroma yang menggugah selera.
Hizumi menatap roti itu dengan tatapan menghina—benar-benar tak sudi
Pada akhirnya, ia menggigit sudut roti yang hambar tersebut. Kunyahannya lambat dan lesu, mencoba membohongi rasa lapar yang justru semakin menyiksa.
Tak butuh waktu lama hingga lambungnya kembali berdenyut perih, kali ini lebih intens hingga ia harus sedikit membungkuk. Rasa sakit itu seketika meruntuhkan seluruh tekadnya untuk tidak mengeluarkan uangnya dalam tiga hari ini.
"Sialan! Benar-benar tidak tahu diri!" Hizumi menggerutu, entah memaki roti itu atau memaki lambungnya yang rewel.
Ia melempar sisa roti itu ke meja, lalu bergerak secepat kilat. Ia menyambar jaket bomber hitamnya yang tergantung di dekat pintu, mengenakannya asal-asalan di atas tank top sutranya. Dompet mungilnya ia selipkan ke saku, lalu ia duduk di lantai untuk memakai sepatu boots berhak tingginya dengan terburu-buru dan mengunci pintu apartemen dengan tenaga ekstra.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝗦𝗖𝗔𝗥 𝗖𝗢𝗩𝗘𝗡𝗔𝗡𝗧 [ 𝗥𝗘𝗩𝗜𝗦𝗜! ]
Romance𝗥𝗘𝗩𝗜𝗦𝗜!!! Ditinggalkan oleh kakak sulungnya tanpa penjelasan, Hizumi tumbuh sendirian di tengah dunia yang keras. Pencariannya untuk menemukan kembali saudaranya justru menyeretnya ke dalam konflik berbahaya, hingga ia menyadari bahwa kepergia...
![𝗦𝗖𝗔𝗥 𝗖𝗢𝗩𝗘𝗡𝗔𝗡𝗧 [ 𝗥𝗘𝗩𝗜𝗦𝗜! ]](https://img.wattpad.com/cover/362770882-64-k739123.jpg)