09. Api Tanpa Nama

360 40 14
                                        

Suasana di area belakang parkiran Club Castle sore itu terasa seperti ruang kedap udara yang siap meledak. Bagi Lala, ketegangan itu nyata—mendekam di balik punggung Hizumi dengan jantung yang berdegup kencang, ia bisa merasakan haus darah yang menguar dari gerombolan pria di depan mereka.

Namun, pemandangan di depannya justru terlihat absurd.

Hizumi Amamiya berdiri tegak tanpa sedikit pun gestur defensif. Gadis itu justru terlihat sibuk membuka bungkus permen karet baru, menyesap aromanya sejenak, lalu memasukkannya ke mulut dengan gerakan yang sangat santai.

Meskipun matahari masih menggantung di ufuk, area parkir ini sudah tertelan bayangan abu-abu yang pekat karena terapit oleh dua gedung tinggi yang saling mengunci di kedua sisinya. Cahaya hanya menyelinap tipis-tipis dari celah bangunan, memantul di mata sayu Hizumi yang kini menatap si botak Takano dengan dingin.

"Oi, kau tidak dengar? Aku bilang serahkan gadis itu dan aku mungkin akan melepaskanmu," ujar Takano, langkahnya maju satu tindak, membuat bot-nya berderit di aspal lembap.

Hizumi mengunyah permen karetnya dua kali, lalu meniupnya hingga membentuk gelembung kecil, dan meletus—Pop!

"Kau tahu..." Hizumi memulai, suaranya terdengar sangat jernih di tengah kesunyian lorong itu. "Di sekolah, kami para murid diajarkan untuk membuang sampah pada tempatnya. Tapi melihat kalian berlima berdiri di sini, sepertinya aku harus melakukan cleaning service lebih awal."

Lala menahan napas. Ia tidak percaya bahwa di situasi di mana mereka terpojok, Hizumi masih bisa memancing amarah pria-pria brutal itu dengan nada bicara yang begiu meremehkan.

"Jalang sialan... Kau benar-benar ingin mati, ya?!"

Dua anak buah Takano merangsek maju dengan pipa besi di tangan. Gerakan mereka serampangan, penuh amarah yang dipicu oleh ego yang tersinggung. Namun, saat logam itu terayun membelah udara, Hizumi tidak menghindar jauh. Ia justru melangkah masuk ke dalam jangkauan serangan, sebuah gerakan berbahaya yang hanya dilakukan oleh mereka yang sudah sangat terbiasa dengan pertarungan jalanan.

Dua batang pipa besi berdesing membelah udara, mengincar kepala Hizumi dari sisi yang berbeda.

Alih-alih melompat mundur, Hizumi justru merendahkan tubuhnya secara ekstrem—nyaris mencium aspal—membiarkan dua logam berat itu beradu keras di atas kepalanya dengan bunyi klang yang memekakkan telinga.

Dalam satu gerakan yang mengalir seperti air, ia menumpukan kedua tangannya di lantai parkiran yang lembap, lalu melemparkan kedua kakinya ke atas. Tubuhnya berputar vertikal seperti kincir, dan sepasang sepatunya menghantam keras dagu kedua musuh secara berurutan.

BRAK! BRAK!

Belum sempat keduanya jatuh ke tanah, Hizumi sudah kembali berpijak dengan tegak. Ia tidak berhenti di sana. Melihat satu orang lagi menerjang dengan pisau lipat, Hizumi berlari lurus ke arah dinding beton di sampingnya.

Ia memijak tembok itu dua kali—melawan gravitasi—lalu memutar tubuhnya di udara. Dari ketinggian itu, ia menyambar pundak lawan dengan lengannya, menggunakan berat tubuhnya sendiri untuk membanting pria itu ke aspal dengan teknik kuncian leher yang mematikan.

Lala hanya bisa mematung, matanya melebar tak percaya. Ia terbiasa melihat anggota Rude Boys melompat di antara atap bangunan Nameless Town, tapi apa yang dilakukan Hizumi berbeda.

Gadis itu mendarat dengan ringan, nyaris tanpa suara, tepat di tengah-tengah tiga tubuh yang kini mengerang kesakitan. Ia merapikan kerah seragamnya yang sedikit berantakan, lalu meniup poni yang menutupi matanya.

Melihat kawan-kawan mereka tumbang dalam hitungan detik, lima bawahan yang tersisa meledak dalam amarah. Mereka merasa terhina karena dipermalukan oleh seorang gadis berseragam sekolah di depan mata pemimpin mereka. Takano yang sudah kehilangan kesabaran merangsek maju, mendorong kasar salah satu anak buahnya hingga terhuyung ke depan.

𝗦𝗖𝗔𝗥 𝗖𝗢𝗩𝗘𝗡𝗔𝗡𝗧 [ 𝗥𝗘𝗩𝗜𝗦𝗜! ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang