Motor Hiroto dan Masaki menderu pelan memasuki sebuah gang sempit di pinggiran distrik Oya.
Di ujung jalan yang sedikit berlubang, berdiri sebuah bangunan dua lantai yang tampak lelah dimakan waktu. Cat temboknya yang dulu mungkin berwarna krem kini sudah mengelupas, menampakkan semen abu-abu di baliknya.
Unit-unitnya berjejer dengan pintu besi yang seragam, dihubungkan oleh balkon kayu yang berderit setiap kali ada langkah kaki.
Tepat di samping gedung itu, sebuah bengkel sedang beroperasi penuh. Suara mesin gerinda yang beradu dengan logam menciptakan desingan memekakkan telinga disusul bau oli terbakar dan bensin menyengat di udara.
Masaki mematikan mesin motornya, lalu melepas helm dengan dahi berkerut. Ia menatap bangunan itu, lalu menatap bengkel di sebelahnya dengan ekspresi tidak percaya.
"Hizumi..." Masaki menoleh ke arah adiknya, suaranya harus sedikit ditinggikan agar terdengar di atas kebisingan gerinda. "Kau serius tinggal di sini? Apa suasana seberisik ini terjadi setiap hari? Bagaimana bisa kau belajar matematika dengan suara mesin gila itu?"
Hizumi baru saja hendak membuka mulut untuk menjawab, namun sebuah suara parau mendahuluinya.
"Tidak setiap hari, Nak. Bengkel itu biasanya sepi pengunjung, hari ini saja mereka sedang banyak kerjaan."
Beliau adalah nyonya Koyama, sosok pengelola apartemen Hizumi, sosok yang selama ini menjadi saksi kemandirian gadis itu. Ia menatap Masaki dan Hiroto bergantian dengan tatapan selidik, sebelum beralih pada Hizumi.
"Jadi, ini kakak-kakak yang kau ceritakan di telepon kemarin, Hizumi-chan?" Nyonya Koyama tersenyum tipis. "Ah... syukurlah. Kau sudah bilang padaku tempo hari kalau kau akan segera pindah, kan? Aku hampir mengira kau akan menghilang begitu saja tanpa pamit."
Masaki segera membungkuk sopan, mencoba memberikan senyum terbaiknya untuk menutupi rasa bersalah. "Ah, maafkan kami, Koyama-san. Kami baru muncul sekarang. Terima kasih sudah menjaga adik kami selama ini."
Nyonya Koyama mengibaskan tangannya pelan. "Tidak perlu sungkan. Anak ini sangat rajin. Selalu bayar sewa tepat waktu meski harus kerja paruh waktu sampai larut malam. Tapi aku lega dia akhirnya punya keluarga yang menjaganya lagi. Suasana di sini memang tidak cocok untuk gadis sepintar dia."
Hiroto hanya diam, namun rahangnya mengeras mendengar kesaksian Nyonya Koyama tentang adiknya yang harus bekerja sampai larut sendirian. Tidak bisa dibayangkan adiknya berjuang sendirian di tempat sesempit dan seberisik ini selama berbulan-bulan sementara ia dan Masaki berada begitu jauh.
"Ayo naik," gumam Hiroto datar, suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin bengkel.
Masaki membungkuk dalam-dalam sekali lagi kepada Nyonya Koyama sebagai tanda terima kasih yang tulus sebelum berlari kecil menyusul Hiroto dan Hizumi yang sudah lebih dulu menaiki tangga.
Langkah kaki mereka menciptakan suara berderit yang menyedihkan. Masaki meringis setiap kali sepatunya berpijak pada anak tangga besi yang sudah termakan karat di berbagai sisi. Warna oranye kusam dari korosi itu tampak mengelupas, kontras dengan pegangan tangga yang terasa kasar dan dingin.
"Astaga, Hiroto... kau dengar ini? Aku takut tangga ini rubuh sebelum kita sampai ke atas," bisik Masaki dengan wajah ngeri, mencoba mencairkan suasana yang masih terasa tegang di punggung Hiroto.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝗦𝗖𝗔𝗥 𝗖𝗢𝗩𝗘𝗡𝗔𝗡𝗧
ActionDitinggalkan oleh kakak sulungnya tanpa penjelasan, Amamiya Hizumi tumbuh sendirian di tengah dunia yang keras. Pencariannya untuk menemukan kembali saudaranya justru menyeretnya ke dalam konflik berbahaya, hingga ia menyadari bahwa kepergian sang k...
