Lampu jalanan berkelebat cepat di sisi kiri dan kanan, menjadi garis-garis cahaya buram yang membelah kegelapan. Hizumi tidak peduli lagi pada sisa maskara yang mungkin luntur atau rambutnya yang berantakan tertiup angin malam.
Ia hanya mengeratkan pelukannya di pinggang Hiroto, menyandarkan keningnya di punggung jaket kulit kakaknya yang keras dan dingin.
Hiroto merasakan jemari adiknya yang meremas kuat di bagian depan jaketnya. Tanpa menoleh, ia melepaskan satu tangannya dari kemudi motor, lalu menepuk pelan tangan Hizumi yang melingkar di perutnya—sebuah gerakan singkat untuk meyakinkan bahwa ia benar-benar ada di sana. Ia kemudian menarik tangan Hizumi agar mendekat, memastikan adiknya terlindung dari terpaan angin malam yang menusuk.
Aroma familiar itu merasuki indra penciumannya—campuran parfum maskulin yang tajam, asap rokok tipis, dan bau aspal yang melekat kuat. Aroma yang selama berbulan-bulan ini ia cari di setiap sudut apartemennya yang kosong, kini terasa nyata di bawah jemarinya.
Hiroto memacu motornya menembus batas kota, menjauhi keramaian supermarket dan distrik pertokoan.
Ia membawa motor itu masuk ke area yang lebih sunyi, di mana deretan bangunan beton tua berdiri kaku dan lampu jalanan begitu berwarna-warni namun tua. Suasana di sekitar mereka berubah menjadi lebih lembap, membawa hawa dingin yang menusuk tulang.
Hizumi merasakan getaran mesin motor yang merambat ke dadanya. Gadis itu memejamkan mata, membiarkan angin menyapu wajahnya, mencoba meyakinkan diri bahwa ini bukan sekadar halusinasi di tengah malam begadang ujiannya.
Motor itu melambat saat memasuki sebuah area apartemen dengan arsitektur yang tampak tersembunyi dari jalan utama.
Hiroto memarkir motornya di sudut yang paling gelap, tepat di bawah bayangan tembok tinggi. Begitu mesin mati, kesunyian mendadak menyergap. Hiroto tidak langsung turun, ia membiarkan Hizumi tetap bersandar di punggungnya untuk beberapa saat, memberi ruang bagi adiknya untuk menenangkan diri.
Perlahan, Hiroto melepas helmnya dan turun dari jok motor. Ia berdiri di samping Hizumi, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu adiknya turun dengan hati-hati.
Saat Hizumi berdiri di hadapannya, memandang rumah susun dengan papan nama Cress Vanue, Hiroto merapikan helai rambut yang menutupi wajah adiknya dengan ujung jari, tatapannya yang biasanya tajam kini melunak, penuh dengan rasa bersalah yang tak terucapkan.
Hizumi turun dari jok motor dengan kaki yang sedikit lemas. Ia menghapus jejak air mata di pipinya dengan kasar menggunakan punggung tangan, lalu merapikan jaketnya dengan gerakan otomatis. Tanpa sepatah kata pun, ia mengikuti langkah kaki Hiroto menuju lift tua yang berderit saat terbuka.
"Ayo," suara Hiroto rendah dan parau, hampir seperti bisikan. Ia menarik jaketnya agar lebih rapat melindungi tubuh Hizumi, lalu merangkul bahu adiknya menaiki tangga besi tua yang berderit.
Mereka naik dalam keheningan yang hangat sementara Hiroto masih terus merangkul bahu Hizumi, memberikan kehangatan yang selama ini hilang dari hidup gadis itu.
Begitu sampai di depan sebuah pintu unit di ujung koridor, Hiroto mengeluarkan kunci dari sakunya. Ia melirik Hizumi sekilas, memberikan senyum tipis yang sangat jarang ia tunjukkan, sebelum memutar kunci itu perlahan.
Klik.
Pintu terbuka, memperlihatkan cahaya lampu kuning yang nyaman dari dalam. Bau masakan yang baru saja matang menyeruak keluar, menyambut mereka dengan aroma rumah yang sesungguhnya.
"Hiroto? Kau lama sekali, aku hampir menghabiskan—"
Suara itu terputus. Di ruang tengah yang tidak terlalu luas itu, seorang pria berdiri mematung sambil memegang mangkuk. Masaki menatap seorang gadis muda di pintu dengan mata membelalak, mulutnya sedikit terbuka seolah semua kata-kata yang ingin ia ucapkan baru saja tersangkut di tenggorokan.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝗦𝗖𝗔𝗥 𝗖𝗢𝗩𝗘𝗡𝗔𝗡𝗧
RomanceDitinggalkan oleh kakak sulungnya tanpa penjelasan, Amamiya Hizumi tumbuh sendirian di tengah dunia yang keras. Pencariannya untuk menemukan kembali saudaranya justru menyeretnya ke dalam konflik berbahaya, hingga ia menyadari bahwa kepergian sang k...
