Jisung baru menyadari setelah 3 tahun kepergian teman satu grupnya itu, menyadari akan perasaannya yaitu bentuk cinta bukan hanya sayang sebagai sahabat baik.
Perasaan menyesal selalu menghantui Jisung sampai ia tidak bisa melupakan sahabatnya itu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bunyi gonggongan anjing adalah hal yang pertama kali Jisung dengar saat membuka pintu rumahnya, anjing putih berbulu lembut itu melompat kegirangan saat Jisung pulang.
"Bibi sudah memberimu makan kan?." Jisung tersenyum menciumi dan menggendong anjing itu.
"Kenapa lama sekali pulangnya?."
Jisung menatap pria didepannya, kenapa juga pria itu ada disini?.
"Ngapain kakak ada disini? Dan kenapa masuk rumah orang tanpa izin?." Jisung menghela nafas, ia menurunkan anjingnya itu dari gendongannya.
"Sudah berapa lama kamu gak kontrol ke rumah sakit? Aku melihatnya di rak obat, obat penenang mu semua habis."
"Aku sudah sembuh."
"Bohong, Haechan mengatakannya padaku bahwa kemarin kau tidur gelisah terus menerus? Jisung, aku kembali dari China karena mamah Chenle terus bertanya padaku bagaimana kadaan mu. Aku juga mengkhawatirkan mu Ji."
"Kak Renjun, tidak perlu susah payah seperti itu." Jisung tersenyum tipis.
Renjun memijat pelipisnya sendiri karena pusing dengan kelakuan adiknya, apa trauma sepanjang 3 tahun ini ia anggap sepele? Apa lagi sekarang ia masih aktif sebagai public figure tapi ia malah semena-mena dengan mentalnya sendiri.
"Sebaiknya kau mengganti password pintu, gampang sekali ditebak." Ketus Renjun.
"Itu karena kakak yang menebaknya jadi gampang."
"Omong-omong, aku membuatkan sesuatu untuk kau makan. Kesukaan mu dan itu ada di meja makan, dimakan Ji. Aku pergi."
Sepeninggalan Renjun, Jisung mendatangi meja makan dan melihat apa makanan yang dimaksud dan ternyata itu hanya telur tomat dengan nasi hangat.
"Apa dia lupa? Aku tidak bisa memakan ini." Gumamnya, walaupun begitu mau tidak mau Jisung memakannya satu suapan namun tidak berapa lama justru rasanya makanan yang baru ia telan itu naik kembali. Hal itu membuatnya langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan satu suap nasi berserta lauknya.
Anjing putih itu mengikuti langkah kaki pemiliknya ke arah kamar mandi, hewan itu menggaruk pintu kamar mandi tanda khawatir pada sang pemilik.
Jisung yang sedang berkelahi dengan isi perutnya itu tidak mendengar gonggongan kecil dari anjingnya, ia sibuk memuntahkan makanan yang ia makan. Sesekali ia memukul dadanya karena rasa sesak yang ia rasakan di dadanya.
Air mata mengalir di kedua matanya, "Chenle...." Racau Jisung. Ia menangis karena teringat sesuatu akan makanan itu—masakan yang selalu Chenle buatkan padanya dahulu.
Renjun mungkin tidak mengetahui bahwa hal yang paling sensitif dari Jisung adalah sesuatu yang bersangkutan dengan Chenle.
_
Wastafel menjadi tempat ke dua yang ia datangi setelah mengeluarkan isi perutnya itu, Jisung membasuh wajahnya dengan air lalu matanya melirik ke arah botol-botol kecil yang sudah kosong.