chapter 2

447 10 0
                                    

Mata yang tajam, alis yang tebal, hidung mancung. Aura yang bisa membuat para gadis terpukau olehnya. Mata yang sorotan tajam kini masih terlihat sayu. Dengan enggan ia menjawab sang Ibu.

"Bu, bolehkah aku tidur sepuluh menit lagi. Aku masih mengantuk" ucapnya dengan mata terpejam.

"Tidak bisa. Ini sudah pagi. Nanti kau akan terlambat pergi ke sekolah. Ayo lekas bangun" pinta sang ibu.

Sang ibu terus saja membangunkan putra tunggalnya untuk segera bangun.

"Tapi bu, aku masih mengantuk. Ini semua salah ayah. Mengajakku bertemu klien hingga larut malam" protes sang anak.

"Iya ibu tahu. Ayah sudah bangun daritadi. Dia menyuruh ibu membangunkanmu. Ayo lekas bangun. Jika tidak, ayahmu pasti marah nantinya " kata sang ibu.

"Biar saja ayah marah,bu. HAri ini aku mau tidur seharian. AKu izin sekolah hari ini. Aku lelah dengan kegiatan meeting di kantor ayah setiap hari. " kata sang anak lagi sambil menutupi wajahnya dengan selimut.

Sang ibu menghela nafas panjang. Tiba-tiba sang ibu kaget dengan kehadiran seseorang dari luar.

"Su-suamiku" ucap sang ibu kaget melihat kedatangan sang suami.

"Takeshi lekas bangun. Hari ini kau boleh izin sekolah dan tidur seharian. Namun sebelumnya kau harus berdiskusi dengan ayah di ruang kerja. Ayo lekas bangun. Ayah tunggu di bawah" ujar sang ayah tiba-tiba.

Sang anak yang mendengar perkataan sang ayah langsung membuka selimut yang menutupi wajahnya.

Ia bergegas menuruti perintah sang ayah. Karena ia takut sang ayah akan berubah pikiran dengan menyuruhnya pergi ke sekolah.

Hanya butuh beberapa menit, sang anak untuk siap menemui sang ayah di ruang kerja. Ia mengetuk pintu ruang kerja sang ayah

Tuk.tuk.tuk

"Kau boleh masuk" suara dari dalam. Ia pun masuk.

"Duduklah. Hari ini ayah akan menjelaskan sesuatu hal yang penting untukmu" ujar sang ayah dengan mimik serius.

"Silahkan" jawab sang anak santai.

"Dahulu ayah memiliki sahabat. Ia adalah kawan terbaik ayah. Ia semasa hidupnya selalu membantu ayah jika mengalami kesulitan. " buka sang ayah.

"Lantas?" Kata sang anak.

"Kawan ayah tersebut telah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Ia beserta isterinya mengalami kecelakaan pesawat" lanjut sang ayah.

"LAlu, hubungannya denganku apa? Tanya sang anak lagi.

"Dahulu semasa ia masih hidup. Ayah dan kawan ayah membuat kesepakatan untuk menjodohkan anak kami masing-masing jika sudah besar nantinya". Kata sang ayah.

"Apa!?" Ujar sang anak kaget.

"Ayah tidak mungkin menjodohkan kakakmu sakura dengan anak kawan ayah. Kau tahu sendiri, kakakmu sakura sedang mengurus perceraiannya jadi itu tidak mungkin dilakukan. Ayah harap kaulah yang akan menerima perjodohan ini kelak" terang sang ayah

Sang anak diam terpaku mendengar penjelasaan sang ayah. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi pada dirinya. Ia diam sejenak dan berpikir

"Apakah gadis yang akan dijodohkanku sudah mengetahui hal ini? Kata sang anak dingin.

"Ayah rasa sudah. Sang kakak gadis itu sudah menjelaskan hal ini" jawab sang ayah santai.

"Apakah dia langsung menerimanya?" Tanya sang anak.

"Ayah tidak tahu mengenai hal tersebut. Yang ayah tahu adalah mereka mengajak keluarga besar kita bertemu dengan keluarga mereka" jelas sang ayah.

"ApAkah ada keuntungan lain yang akan ayah dapatkan dari perjodohan ini? Misalnya saham keluarga mereka?" Selidik sang anak tajam. Ia tahu betul watak asli sang ayah yang selalu menimbang sesuatu dari untung dan ruginya.

"Mengenai hal tersebut tidak ada. Dalam hal ini ayah tidak berpikir hal tersebut. Ayah hanya ingin membalas jasa budi baik kawan ayah yang telah tiada itu. Dialah yang memodali ayah untuk memajukan usaha keluarga kita. Hanya saja kawan ayah sudah tiada. Puteri tunggal mereka hidup sendirian dikota ini. Sang kakak yang menggantikan posisi sang ayah selalu pergi keliling dunia menjalankan bisnis keluarga. Sang puteri juga selepas kedua orang tuanya tiada. Ia tidak mau tinggal di rumah keluarga mereka lagi. Ia memilih hidup sederhana dengan jalannya sendiri" ujar sang ayah panjang.

"Begitukah?" LAlu berapa usia puteri itu?" Tanya sang anak lagi.

"Usianya sama denganmu. Ia bersekolah di sekolah elite. Dengan prestasi yang luar biasa. Ia bersekolah dengan dana bantuan beasiswa. Padahal bisa saja ia bersekolah di sekokah manapun yang paling mahal sekalipun. Tapi ia tidak lakukan" puji sang ayah

"Lalu, bukankah kami masih bersekolah. Bagaimana mungkin kami menikah dengan situasi sekarang ini?" UJar takeshi.

"Hal itu tak perlu kau risaukan. Semua sudan kami atur sebagus mungkin. KAlian hanya perlu menikah dan menjalankan aktifitas sekolah kalian masing-masing" jelas sang ayah

"Alasan utama ayah memajukan pernikahan itu apa?" Kata sang anak dingin

"Ai itu hidup sendiri. Sang kakak yang selalu bepergian tak pernah menemaninya. Ia khawatirkan sang adik. KArena ia sudah tahu mengenai perjodohan ini maka ia langsung menghubungi ayah" terang sang ayah.

"Baiklah, segera adakan pertemuan tersebut. Aku akan ambil keputusan setelah bertemu dengannya empat mata nanti" kata takeshi membuat sang ayah tersenyum

"Baiklah, ayah akan segera atur jadwal pertemuan besar itu" kata sang ayah sambil menyodorkan profile gadis tersebut untuk takeshi baca.

Sang ayah meninggalkan ruangan. Membiarkan Takeshi menilainya sendiri. Ia tahu anaknya bisa menganalisis secara sempurna.

Takeshi's POV

Huft, hal yang menyebalkan terjadi pada hidupku. Bagaimana mungkin ada hal semacam ini. Coba lihat, puteri macam apa dia. PEnampilan yang sangat sederhana. Tidak menunjukkan kelasnya berasal dari kelas atas. Tetapi kemampuannya sungguh luar biasa. APA ini, prestasinya melebihi yang aku punya. Sangat menarik berhadapan dengan hal semacam ini. Akan aku lihat seperti apa ia sebenarnya

Next ➡Chapter 3

Marry meTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang