Hanya kata maaf mampu melepaskan sakit seseorang
•
•
•
Anak kecil berusia satu tahun itu berlari kecil menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah tertatih namun penuh kegembiraan. Hari ini adalah hari yang sangat indah baginya. Ia baru saja mendapatkan adik kembar, teman yang kelak akan selalu bersamanya.
Saking senangnya, ia tak menyadari seseorang berdiri di depannya. Tubuh mungil itu menabrak kaki pria dewasa dan seketika terjatuh. Bokongnya membentur lantai dingin rumah sakit, membuat wajahnya meringis menahan perih.
Pria bertubuh tegap itu menunduk, menatap anak kecil yang terjatuh di hadapannya. Wajahnya datar, tanpa sedikit pun perubahan ekspresi, seolah kejadian barusan tak berarti apa-apa baginya.
Doyoung yang ditatap seperti itu langsung menunduk. Jantungnya berdebar kecil. Ia tak mengerti mengapa tatapan pria itu terasa begitu menakutkan. Ada aura asing yang membuat tubuh kecilnya gemetar, meski ia tak mampu menjelaskannya dengan kata-kata.
“Ya ampun, Doyoung. Kamu tidak apa-apa?”
Suara Jaehyuk membuat pria itu mengalihkan pandangannya. Jaehyuk segera menghampiri adiknya, berlutut, lalu membantu Doyoung berdiri dengan hati-hati.
Tatapan pria itu kembali menyipit, mengamati Jaehyuk dengan saksama. Ada jeda singkat sebelum akhirnya pandangannya berpindah pada wajah Jaehyuk yang menunduk sopan.
“Mianhae, ajusshi,” ucap Jaehyuk pelan.
Namun pria itu sama sekali tak menanggapi. Ia melangkah pergi begitu saja, meninggalkan dua anak kecil itu dalam kebingungan dan rasa asing yang tertinggal di udara.
Jaehyuk menoleh ke arah Doyoung, mengusap kepala adiknya dengan lembut.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya khawatir.
Doyoung hanya mengangguk pelan, masih memeluk rasa takut yang belum sepenuhnya pergi.
“Ayo, kita ke ruang eomma. Pasti semua sudah menunggu kita,” ajak Jaehyuk.
Dengan langkah kecil yang lebih hati-hati, mereka berjalan berdampingan menuju ruangan sang ibu, tanpa tahu bahwa pertemuan singkat barusan akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
...••Happy reading••..
Matahari perlahan terbit, menyinari Kota Seoul dengan cahaya keemasan. Udara pagi yang sejuk menyelinap masuk melalui celah jendela, menyentuh tubuh mungil namun berisi itu yang terbaring lemah di atas kasur.
Sinar terang yang menusuk kelopak matanya membuatnya terbangun. Ia langsung duduk, mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya yang terasa berat. Tatapannya beralih ke jam dinding. Seketika tubuhnya menegang.
Terlambat.
Tanpa membuang waktu, ia bergegas menuju kamar mandi.
Tak lama kemudian, seorang laki-laki tampak mengambil buku pelajaran yang akan dibawanya hari ini. Ia bersiap berangkat ke sekolah, meski kondisi tubuhnya jelas tidak baik-baik saja. Atau mungkin, ia memang sudah terbiasa mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Tentu saja.
Bagaimana bisa baik-baik saja, jika semalam ia pulang terlambat dan hal itu memicu amarah besar kedua hyung-nya? Terlambat pulang berarti hukuman. Selalu begitu.
Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa kemarahan itu wajar, bahwa semua itu demi mendidiknya agar lebih disiplin. Ia ingin percaya bahwa apa yang dilakukan para hyung-nya adalah bentuk kepedulian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Doy
Teen Fiction[AYO MAMPIR] Menceritakan sosok seorang anak laki-laki yang berusaha mendapatkan kata maaf, dan juga kasih sayang kembali dari para saudaranya. Menunggu waktu yang lama, dimana dia harus bisa membuat saudara-saudaranya menyayangi dia kembali, lelah...
