...•• happy reading ••...
Malam yang dingin, hujan datang dengan sangat lebat, kilat terang sekali membuat siapapun takut akan keluar.
Dingin ini membuat siapapun merasa mencekam untuk keluar, hujan terus saja turun, hampir menginjak waktu 1 jam.
Semua orang akan menikmati dinginnya malam ini di temani dengan makanan yang panas-panas dan pedas.
Tapi tidak dengan Doyoung.
Yang sekarang sedang menahan sakit sekujur tubuhnya, rubuh yang sekarang telah di hukum oleh para saudaranya,
Jihoon membawa Doyoung masuk kedalam gudang dengan ikat pinggang di tangannya. Takut, melihat ikat pinggang itu saja membuat tubuh Doyoung bergetar ketakutan, apakah itu akan mengenai tubuhnya.
Jihoon tiada henti melayangkan ikat pinggang itu ke tubuh putih Doyoung tanpa ampun. Suara itu nyaring di telinga Doyoung, memejamkan mata, menerima dengan perasaan pasrah, keringat nya bercucuran, air matanya lolos membuat dia sangat kacau dengan pukulan itu.
Ctakk
Ctakk
"Ampun, hyung"ucapnya dengan gemetar, tidak mampu mengatakan apapun kecuali ampun, dia lelah, dia ketakutan, dia benci perlakukan ini.
Apa yang harus dia lakukan?, membiarkan ini akan membuat dia semakin kesakitan, ini bukan hukuman lagi, melainkan penyiksaan.
Jihoon seolah menulikan pendengarannya dan sibuk dengan ikat pinggang itu. Doyoung hanya bisa menangis karena cambukan tersebut, itu sangatlah sakit mengenai badannya.
Ctakk
"Ini hukuman, karena kamu berkelahi disekolah!" Kata Jihoon dengan nada keras agar Doyoung mendengar nya.
Dia memeringati Doyoung dengan cara ini, agar Doyoung ingat perbuatan nya, yang dia lakukan sangatlah merugikan, bagimana jika nanti semua orang tahu jika adiknya ini sering memukul, dan menindas teman-temannya, dia tidak mau di cap sebagai Hyung yang tidak bisa menjaga adik-adiknya.
Ctakk
"Dan ini hukuman karena kamu kabur dari sekolah!!" Iya Doyoung ingat jika dia baru saja bolos dari sekolah, Doyoung hanya ingin ketenangan.
Dia tidak bermaksud seperti itu, dia lelah dengan cibiran orang-orang kepadanya, dia hanya butuh kesendirian.
Ctakk
Cambukan itu terus mengenai tubuh milik Doyoung, dia berharap agar Jihoon menghentikan aksinya. Dia tidak kuat menahan rasa sakit di sekujur badannya. Tetapi apa yang harus dia lakukan, hanya menyerah dan menyerah lah yang bisa dia lakukan.
"DAN INI HUKUMAN KERENA KAMU MENDAPATKAN NILAI DIBAWAH 80!!"Kata Jihoon dengan penuh amarah, dia benar-benar tidak sabar ingin membunuh adiknya, tapi dia masih memiliki akal sehat untuk tidak melakukan itu.
Nilai?, kenapa nilai itu selalu saja salah di mata Jihoon, Doyoung lelah.
Doyoung sangat tidak tahan, tubuhnya sangat sakit sekarang bahkan ada yang sudah berdarah.
"Hyung, lepaskan aku, aku minta maaf"lirihnya.
Jihoon berhenti dengan nafas yang memburu saking capeknya memukul Doyoung. Jihoon sedikit menjauh, lalu dia menatap Doyoung dengan keadaan yang sudah kacau, luka berdarah di punggungnya, dan juga biru-biru di tepi-tepi lukanya. Melihat itu tidak membuat dia iba, dia justru menatap Doyoung dengan jijik, darah itu sedikit menetes di lantai.
"Malam ini tidur Disini"ucap Jihoon lalu meninggalkan Doyoung sendirian disana.
Dia sudah tahu, tempat ini selalu menjadi sandaran keduanya, gudang ini selalu menemani kesunyian hidup nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Doy
Ficção Adolescente[AYO MAMPIR] Menceritakan sosok seorang anak laki-laki yang berusaha mendapatkan kata maaf, dan juga kasih sayang kembali dari para saudaranya. Menunggu waktu yang lama, dimana dia harus bisa membuat saudara-saudaranya menyayangi dia kembali, lelah...
