Masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya seorang pria matang bermarga Chawarin lagi-lagi harus menekan segala hasrat ingin mencekik bocah keparat yang kini duduk bersila dengan segala angkuh yang ia tunjukkan, dan meski dengan enggan ia tetap melangkah memasuki ruangannya hanya sekedar ingat bahwa tumpukan laporan di mejanya jauh lebih penting ketimbang menanggapi si pemuda Panich.
"Pagi sayang." Sapanya sembari mengulas senyumyang terlampau tampan. Sial.
Nu New bungkam, memilih duduk pada kursinya dan mulai menyalakan komputer di meja sampingnya. Benar-benar acuh pada sosok bocah priyayi di hadapannya.
"Ini masih pukul tujuh pagi, kenapa tidak sarapan dulu?" Suara Zee Pruk terdengar, sedangkan Nu New enggan menanggapi, menyibukkan diri dengan membuka laporan ditumpukan paling atas.
"Tch." Zee Pruk mendecih.
"Jangan mengabaikanku."
Pada akhirnya Nu New mengarahkan pandangannya pada Zee, terlihat jelas gurat tak suka di wajah tampannya, lantas hanya membuat si manis Nu New menghebus nafas kasar.
"Ini di kantor, tempat dimana saya bekerja. Seharusnya anda mengerti tuan muda Panich, saya berada disini untuk bekerja karena semua yang ada dihadapanku sekarang adalah tanggung jawabku."
"Salah aku menyuruhmu untuk sarapan? Persetan dengan segala dokumen ini, jangan lewatkan sarapanmu." Netra tajamnya mengunci Onyx Nu New yang dibalut kaca mata bening yang bertengger cantik dipangkal hidungnya. Lagi-lagi Zee Pruk terpesona.
"Tidak perlu___"
Dan suara berontak dari perut Nu New seketika membuatnya membeku, perlahan semburat merah menjalar pada telinganya. Dia malu sekali, dengan pongah mengatakan tidak sedangkan perutnya memang kosong tidak bisa diajak kompromi, setidaknya didepan si bocah ini.
"See?? Turunkan egomu atau kau pingsan bahkan sebelum menyentuh pekerjaanmu itu."
Nu New yakin, ia melihat seringai yang terpatri disudut bibir bocah keparat didepannya ini. Dan kesialan apa lagi yang menimpanya pagi ini?
Dan pada akhirnya disinilah Nu New berada, dikantin gedung perusahaan dimana dia bekerja. Seharusnya tidak ada yang salah jika melihat dirinya adalah salah satu karyawan disana dan sedang menikmati sarapan disalah satu meja di ruangan luas tersebut.
Yang membuat risih dan menjadi hal yang tidak lazim untuk pemandangan pagi ini adalah Zee Pruk Panich, bagaimana bisa seorang anak tunggal Panich Group pemilik perusahaan tersebut kini dengan santai bertumpu dagu dihadapan Nu New, mengabaikan segala pandangan bertanya disekelilingnya__apalagi ketidaknyamanan yang terpancar jelas dari wajah manis pria matang dihadapannya kini.
Zee Pruk terlampau acuh, tatkala hanya ada satu nama yang kini memenuhi relung hatinya berada didepannya, dengan gerutuan kecil melahap makanannya. Cantik sekali. Dan Zee Pruk sangat suka.
"Bagaimana kau bisa cantik begini?"
Seketika raut kesal tanpa sungkan menghiasi wajah Nu New. Apa-apaan batinnya.
"Jaga ucapanmu Zee, kita ada di tempat umum dan ini adalah perusahaan milik ayahmu. Jangan membuat orang-orang berspekulasi tentang kita berdua."
"Urusanku? Zee Pruk membenarkan posisi duduknya bersandar tanpa mengalihkan pandangan dihadapannya.
"Kau mungkin tidak, tapi aku iya. Hanya pekerjaan ini yang bisa membiayai kehidupanku dan posisi yang aku dapat sekarang adalah segala kerja kerasku, mana mau aku membiarkan orang-orang mengira aku bisa mendapatkan jabatanku karena dekat dengan anak pemilik perusahaan?"Nu New menggeram kesal, kesal sekali hingga rasanya tangannya gatal ingin menjambak surai Zee Pruk bar-bar. Tapi ia sadar, itu tidak akan pernah bisa terjadi.
"Tch, omong kosong apa yang kau bicarakan? Kau bahkan sudah menjabat sebagai General Manajer Keuangan sebelum aku ada disini. Mengekorimu."
"Tapi orang lain mana tau itu Zee? Kau tidak akan tau seburuk apa pemikiran orang lain."
"Persetan dengan semua orang, buktinya kau terus saja menendangku menjauh saat jelas-jelas aku menginginkanmu. Spekulasi mana yang memperlihatkan kau menjilat demi pekerjaan disini?"
"Kau tidak tau apapun Zee, umurmu bahkan belum matang, tau apa kau tentang kehidupan orang dewasa?" Nu New menekuk dahinya, seketika abai dengan semangkuk bubur yang ada dihadapannya.
Dengusan Zee terdengar, bahkan tawa kecil mengiringi wajah tampannya.
"Aku sembilan belas tahun, dan cukup tau apa yang aku rasakan dengan perasaanku. Aku tidak bodoh."
"Perasaanmu semu, bisa saja minggu depan kau bertemu dengan orang lain yang tidak sengaja kau tiduri, lalu kau jatuh cinta dengan orang itu. Remaja sepertimu itu labil."
Dan saat sebuah gebrakan kecil terdengar kala kursi yang bergeser secara kasar berderit, dilihatnya sosok Zee Pruk berdiri dengan tatapan marah? Atau seandainya Nu New tau, Zee Pruk merasa begitu kecewa saat cintanya ternyata tak pernah dihargai. Diinjak terlampau jauh didasar jurang tak berujung.
"Aku tidak peduli dengan segala pemikiranmu, tapi aku tau pasti tentang perasaanku, jangan mengguruiku tentang semua yag aku rasakan saat kau sendiri payah dengan hal itu Nu New Chawarin yang terhormat."
Kemudian dirinya berbalik, melangkah dengan segala perasaan berkecamuk, menguatkan hati bahwa perjuangannya memang belum usai dan memang akan menjadi terlampau berat.
Sedangkan Nu New terpaku menatap punggung Zee Pruk yang kini perlahan menjauh, tanpa sadar membuat hatinya terasa nyeri dengan segala rasa bersalah yang kini memenuhi segala akal logisnya.
Nu New begitu tinggi, ego yang terlampau besar untuk sekedar meyakini sebuah rasa yang mulai terselip.
Sedangkan Zee Pruk tau, sendirinya harus rela membungkuk, dan terus berlari mengejar Nu New yang terus menjauh hingga saat dimana Nu New merasa lelah, dia akan menjadi sigap berada di belakangnya untuk merengkuh tubuh lelahnya dan mengatakan bahwa ia selalu disini bersamanya.
TBC
Next??
