Agartha, sebuah dunia penuh keajaiban yang berada di dalam perut bumi. Suatu ketika, Sukma Nayaka, seorang penulis artikel lepas tiba-tiba terpanggil memasuki dunia tersebut. Telah dikatakan kepadanya bahwa ia adalah salah satu orang terpilih yang d...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seminggu kemudian.
Hari yang tenang di Distrik Timur.
Dalam tiga hari terakhir, tidak ada Mavros yang menyerang.
Sukma memanfaatkan hal itu untuk mengasah kemampuannya sebagai seorang Atirath. Ia dibantu oleh Jian Dong yang mengawasi langsung latihan Sukma. Sukma merasa sangat beruntung karena ia bisa berlatih dengan Atirath yang terbilang memiliki kecakapan yang mumpuni.
"Sukma, yang harus kau ingat saat kau sedang bertarung adalah, kau bisa menghemat Artheionmu untuk menggunakannya di waktu yang tepat dan efektif. Kau harus ingat bahwa selain dengan manipulasi Artheion, Mavros bisa dikalahkan hanya dengan menggunakan senjata jiwa saja. Seperti yang dijelaskan kepada kita saat hari pertama kita datang ke sini." Ujar Jian Dong yang sedang memberi arahan kepada Sukma sambil mempraktikkan beberapa gerakan akrobatik dengan dua pedangnya.
"Jadi kau juga harus mengasah kemampuan bertarungmu menggunakan senjata jiwamu, apa kau punya dasar beladiri?" Tanya Jian Dong sambil meregangkan badannya.
"Sebenarnya, aku menguasai dasar-dasar Pencak Silat, beladiri yang berasal dari negaraku. Kebetulan, bentuk senjataku ini juga merupakan salah satu senjata tradisional yang biasa digunakan dalam praktisi beladiri." Jawab Sukma sambil menunjukkan kerisnya.
"Hmmm, kalau begitu, coba kau tunjukkan padaku beberapa gerakan yang kau bisa. Kombinasikan serangan tangan kosong dan senjatamu itu." Perintah Jian Dong.
Sukma pun melakukan beberapa kombinasi gerakan bertarung yang ternyata mampu membuat Jian Dong cukup terkesan. Ia tampak lihai dan luwes dalam melakukan gerakan-gerakannya. Jian Dong melihat ada 'rasa' yang berbeda dari beladiri yang selama ini ia lihat sebagai seorang stuntman.
"Cukup bagus, dan aku rasa itu terlihat menarik. Aku belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya. Ada hal yang berbeda dari beladiri ini dan entah mengapa sangat menyatu denganmu. Aku bisa merasakannya dengan jelas." Respon Jian Dong.
"Ya begitulah, aku mempelajarinya sejak aku berada di bangku kelas dua sekolah dasar." Ujar Sukma.
"Tidak, bukan itu maksudku. Entah mengapa seolah-olah beladiri ini mempunyai ikatan yang khusus denganmu. Instingku berkata seperti itu. Ini sama seperti para Biksu Shaolin yang memang memiliki ikatan yang panjang dengan beladiri Kung Fu sejak masa lalu." Jelas Jian Dong dengan wajah yang serius.
Sukma hanya diam karena ia tak tau harus berkata apa.
"Dilihat dari kemampuanmu dalam menguasai beladirimu, apalagi sudah dalam jangka waktu yang lama, harusnya kau bisa menggunakan itu dalam pertarungan terlepas dari senjatamu itu, yang memang dari panjangnya saja aku tidak bisa mengkategorikan itu sebagai salah satu jenis pedang. Tapi, itu juga tidak sependek pisau, jadi harusnya itu menjadikanmu petarung jarak menengah. Tapi, kau selalu saja menggunakan Artheionmu untuk melancarkan serangan besar, apa ini masalah mental? Atau kau hanya ingin pamer?" Tanya Jian Dong dengan analisisnya yang begitu detail.