"Jadi aku harus kerja in proyek tentang pembunuhan berantai gitu loh, kayak aku kan belum pernah melakukan pembunuhan lagian aku juga takut kalau liat pembunuhan di film-film yang ada di televisi. Tapi aku juga serba salah kalau gak aku terima aku gak dapat honor lebih!"
"Tapi bukannya tema ini terlalu bahaya yah? Itu bisa aja memancing pelaku buat mengarah sama kamu, Gantari! Karena sampai saat ini pun polisi masih belum menangkap psikopat itu," ujar Nohan.
"Memancing psikopat? Maksudnya dia merasa tersinggung oleh cerita aku nanti terus nanti aku di bunuh sama dia? Aku gak mau ahh takut! Pokoknya sebelum proyek ini selesai empat bulan lagi psikopat itu harus segera di tangkap dan di hukum mati!"
"Pesanannya Bapak Nohan," ucap seorang pelayan yang terlihat sangat muda, dia juga terlihat akrab dengan Nohan. Sepertinya memang mereka adalah kenalan lama.
"apaan sih gue bukan bapak-bapak, thank ya. Ini semua gratis kan?" ucap Nohan hanya sekedar bercanda.
"lo gak malu makan-makan sama pacar tapi minta gratis!" kemudian ia pergi.
Gantari serentak tertawa lalu mengalihkan pandangannya kepada Nohan, "Siapa dia, teman?"
"Iya teman sewaktu SMA namanya Zaing, dulu sempat kuliah bareng terus ikut tes masuk polisi tapi dia gak lulus. Makanya sepertinya dia melanjutkan kuliah S2 sambil kerja sambilan kalau ada waktu luang."
"Polisi? Kamu pernah ikut tes masuk kepolisian? Terus ke terima gak? Kok gak bilang sih!"
"Iya aku lupa, habisnya udah dua minggu ini aku di suruh untuk tidak bertugas dulu. Sebenarnya aku yang ikut mencari pelaku pembunuh berantai itu, tapi aku selalu mengacau dan anaknya so tahu makannya senior-senior aku pada sebal dan yah aku diliburkan dulu sementara."
"Serius? Kamu benar-benar deh gak bilang dari awal, pantas saja badan kamu kekar kayak gini gak mungkin cuman kerja jadi pelayan restoran. Terus mau mulai kerja lagi kapan? Bukannya kamu juga harus menangkap pelaku itu cepat-cepat."
''kalau di pikir-pikir akun aplikasi dia itu Polandice yang kalau dihapus and nya jadi police. Sumpah Gantari lo bego apa gimana...-
"Bukanya ini ada untungnya juga, kalau aku adalah polisi kamu dapat dengan mudah mendapatkan hal-hal yang berhubungan dengan sosok pembunuhan berantai untuk proyek kamu bulan ini."
"Kamu benar sekali, cerita in dong bagaimana sih psikopat itu beraksi untuk membunuh para korbannya?"
"Jadi kalau korban yang ditemukan pada pertama kali itu dia kan ditemukan di dalam gorong-gorong dengan 12 tusukan di sekujur tubuhnya, namun ada luka cekik juga di daerah lehernya. Sepertinya sebelum korban itu di tusuk pelaku mencekik korban, namun di sana dia yang masih sadarkan diri. Dari situ pelaku mulai menusuk korban dengan 12 tusukan berturut-turut, angka yang tertulis di telapak kakinya juga ia tulis bukan menggunakan spidol namun menggunakan paku. Untuk lokasi pembunuhan juga berada 10km dari tempat gorong-gorong itu berada."
Sebelum Nohan melanjutkan ceritanya lagi, ia menyeruput sedikit kopi yang ada di depannya. "Korban yang di temukan lagi adalah korban ke empat, karena korban yang pertama kali sang pelaku bunuh belum ditemukan begitu juga korban kedua. Korban berinisial TN kepalanya benar-benar hancur, aku bisa melihat otaknya saat itu. Entah mengapa korban berinisial TN itu hanya memiliki luka di kepala sedangkan luka di tubuhnya hanya di sebabkan oleh dia yang mencoba melawan. Si sana juga banyak batu-batu yang roboh, sehingga kemungkinan sang pelaku merusak kepalanya dengan salah satu batu besar di sana. Dan kamu tahu, batu yang digunakan untuk menyerang ada di di mana? Batu itu ada di kantor polisi."
Gantari menghela nafas berat, "Apakah aku sanggup untuk membuat proyek ini? Aku mendengar bagaimana pembunuhan ini terjadi saja sudah ngeri rasanya."
"Ayolah katanya ingin membuat proyek ini sukses besar, asalkan kamu harus berhati-hati dalam ketikan itu supaya tidak menyinggung hal yang ada di dunia nyata soal pelaku yang sedang marak sekarang. Kalau ada hal yang mau kamu tanyakan khususnya di hal hukum, itu aku sudah ahlinya."
"Baiklah terimakasih sudah mau membantu aku."
"Sekarang di kantor banyak sekali bukti kasus pembunuhan berantai itu, tapi tidak ada satu bukti pun yang menuju pada sang pelaku, sehingga kami sangat kesulitan untuk menangkap kebenarannya. Bukannya kami lelet atau bagaimana, namun ini memang sulit."
Gantari tersenyum, "Kami masyarakat akan me wajar kan kal itu, karena pekerjaan sebagai polisi atau detektif itu juga sangat berbahaya, apalagi yang sekarang tengah di cari adalah seorang pembunuh."
*☠️*
"Ibu waktu ke rumahnya rasanya kasihan sama teman ibu, dia menangis kencang sekali. Ibu sampai di rumahnya dia pingsan, ibu mau samperinya lalu mengusap punggungnya dia tiba-tiba pingsan lagi. Ibu di situ ikut nangis gak tega."
"Ibu kalau di posisi itu gimana? Ibu bakalan nangis juga?"
Gantari meringis kesakitan karena tiba-tiba ibu memukul tangan Gantari, "Kalau ngomong suka sembarangan! Kamu itu belahan jiwa ibu, ibu gak punya siapa-siapa lagi selain kamu. Makannya dari sekarang jaga diri, ibu paksa kamu buat cari pacar juga buat kebaikan kamu sendiri. Jadi gimana sama cowok yang pernah nganterin kamu itu?"
"Nohan, orangnya baik Bu. Dia juga sangat perhatian dan selalu mengkhawatirkan Gantari, pokoknya ibu jangan khawatir lagi mulai sekarang. Ibu seharusnya lebih mengkhawatirkan diri ibu sendiri karena psikopat itu gak memandang umur loh!"
"Baguslah kalau begitu ibu jadi sedikit lega, kalau begini terus bisa-bisa dengan terpaksa kita harus pindah. Ibu tidak mau terus-terusan di hantui pembunuh itu."
Tringgg...tringgg
"Sebentar ibu."
Suara dering handphone Gantari terdengar di arah kamar, ia pun meninggalkan ibunya yang sedang melipat baju di hadapannya. Tertera nama Rarangan di layar handphone-nya.
"Halo?!"
"Gan, gue mau bicara sama lo. Lo sekarang ada di mana dan sama siapa?"
"Gue lagi di kamar sendirian, emang kenapa lo kok kelihatan tegang gitu? Ada hal penting yang harus kita bicarakan?"
"Ini tentang lo, lebih tepatnya Nohan. Sebenarnya gue agak takut buat jujur sama lo, tapi kalau gue gak bilang takutnya memang akan hal yang gak diinginkan nantinya."
"Ya udah apa hal apa?"
"Jadi waktu di bioskop waktu itu gue sempat menemukan sebuah foto yang jatuh, dan yang menjatuhkan foto itu Nohan. Yang lebih kagetnya lagi isi dari foto itu adalah mayat, Gantari! Seorang laki-laki yang sudah meninggal dan sepertinya dia di bunuh, jari-jari tangannya cuman sisa enam doang. Dan kayaknya laki-laki itu juga kena tembak."
"Oh lo mau ngomong itu, biar gue jelas in jadi sebenarnya Nohan itu adalah Detektif yang memang sedang bertugas untuk pencari pelaku dari pembunuhan berantai. Cuman emang karena dia terkena masalah jadi dia di liburkan terlebih dahulu sampai atasannya mengizinkan dia untuk kerja kembali, sepertinya foto itu gak sengaja ia bawa."
"Serius? Nohan detektif? Ya ampun akhirnya gue sedikit lega, gue takut kalau sebelumnya Nohan itu orang jahat. Kalau kayak gini ceritanya gue semakin yakin kalau Nohan itu emang cocok buat lo! Okey deh gue cuman mau bilang gitu doang, bye!" tiba-tiba Rarangan mematikan teleponnya tanpa mendengar penjelasan terakhir dari Gantari.
Gantari hanya menggelengkan kepalanya heran, memiliki teman yang matanya melihat sangat detail terhadap hal-hal yang mencurigakan. Tapi di sisi lain Rarangan memiliki niat yang baik, yaitu untuk menjaga sahabatnya tercinta agar tidak salah mengenal orang baru.
KAMU SEDANG MEMBACA
a Memorable Murder
Mystery / ThrillerKejadian yang menegangkan di suatu kota yang terus di usik oleh seorang psikopat gila yang sudah membunuh warga yang tidak bersalah. Gantari Kahiyang seorang penulis yang ditunjuk untuk membuat proyek tentang psikopat dan Nohan Pradipa yang harus me...
