"Ibu emang benar korban yang kemarin meninggal itu anaknya teman ibu? Kok aku gak tahu sih? Masa sih!" Gantari merebahkan badannya di sofa, menunggu ibunya menyiapkan makan di dapur untuk sarapan sebelum berangkat kerja.
"Benar, kamu lupa sama Biang? Itu loh kamu memang selalu saja beda sekolah sama dia, tapi kalau tidak salah kita pernah jalan-jalan ke rumahnya. Dia yang suka sama Dinosaurus itu, anaknya Tante Raya."
"Oh Biang yang itu, ya ampun ibu aku ingat sekarang. Kenapa harus Biang yang di bunuh Bu perasaan dia anaknya baik kok dari kecil gak banyak bertingkah, dia juga cantik dan cukup pintar. Sudah lama sekali aku gak bertemu dengannya, mungkin terakhir kali saat ulang tahun aku waktu SD ya kan, Bu?"
"Tante Raya juga jarang sekali sekarang kumpul-kumpul sama ibu-ibu yang lainnya, kata teman ibu yang lain rumornya sih Tante Raya itu bisnis suaminya bangkrut lalu pindah rumah. Tapi kemarin ibu sudah mencoba menghubungi dan akhirnya dia mau bicara sama ibu, nanti siang ibu mau ke rumahnya."
"Gantari titip salam ya Bu, pasti Tante Raya syok banget kehilangan Biang."
Ibu mengangguk, "Katanya kemarin Biang pergi sendirian ke bioskop, awalnya sih ia janjian dengan pacarnya tapi ternyata pacarnya tidak datang. Makannya kemarin polisi memeriksa pacarnya apakah ada kaitannya atau tidak."
--
"RARANGAN! GANTARI! SERIUS KEMARIN KALIAN BERDUA ADA DI TEMPAT KEJADIAN PERKARA? KALIAN LIHAT MUKANYA GAK?" teriak kenceng Meizi di tengah kesibukan Gantari yang sedang bergelut dengan komputernya.
"BERISIK LO KIRA INI PASAR LOAK?! INI KANTOR!" balas Rarangan dengan suara teriakan yang tak kalah kencang dari Meizi.
"Gila, kenapa kalian berdua bisa ada di sana? Kalau kayak gini mungkin nanti pembunuhnya bisa membunuh kita juga, haduh kita harus bagaimana sebagai masyarakat kita benar-benar khawatir sama lingkungan sendiri."
"kita kemarin lagi double date ehalah ada psikopat, aneh emang hidup. Tapi, gue mau bicara serius sama lo, Gan!" Rarangan menyeret kursi rodanya mendekati Gantari, di susul oleh Meizi yang mendekatkan telinganya di hadapan Rarangan.
"Soal Nohan gebetan lo, gue tuh agak aneh lihat dia. Soalnya di tengah-tengah film dia itu kan izin ke toilet walaupun di situ gue juga gak sadar, gue tahu dia dari toilet karena tasnya yang ketinggalan kan. Nah, kemudian dia itu memakai toilet yang sama berhadapan dengan korban itu di bunuh. Mungkin aja kan ketika Nohan ada di toilet, pembunuhan itu berlangsung. Terus gue juga lihat dia lagi berbincang sama seseorang gitu, pokoknya orang-orangnya memakai jaket hitam dan pakai topi."
"Tapi dia juga sempat di tanya sama polisi dan detektif yang ada di sana, kayaknya dia gak tahu apa-apa. Buktinya para detektif biar in dia pergi."
"Kayaknya kita harus minta tolong sama orang Jepang, yang anak kecil itu yang pakai kaca mana mungkin aja kan dia bisa bantu kasus kota kita yang emang benar-benar di luar logika," ucap Meizi.
"Kalian ini kerjaannya apakah hanya gosip? Gantari kamu barusan di panggil sama atasan, kayaknya mau ngasih proyek." tiba-tiba Lamont datang dengan membawa setumpuk berkas, tatapannya terlihat sinis menatap Gantari.
"okey makasih!" sebelum Gantari benar-benar pergi, Lamont membisikkan sesuatu kepada Gantari.
"Kalau kamu nanti minta bantuan saya untuk bantu kamu, saya sepertinya tidak akan mau kecuali kamu masih ingin menemani saya pergi ke pantai atau gunung, danau juga boleh."
'Siapa juga yang mau minta tolong sama lo, gak Sudi juga kali gue!' batin Gantari yang tambah sebal kepada Lamont.
"Gantari bulan ini saya akan memberikan proyek kepada kamu jadi tolong kerjakan dengan sangat baik karena kesuksesan itu ada pada tangan kamu sendiri, pikirkan baik-baik cerita yang bulan ini yang akan kamu kerjakan. Kamu dapat menyelesaikan proyek ini paling lambat empat bulan, kamu harus senang karena orang lain hanya saya kasih waktu selama tiga bulan saja." Atasan Gantari bukanlah atasan yang memang pilih kasih antar anak bawahannya, ia adalah sosok orang yang adil. Jika bawahannya tidak mampu untuk menciptakan sebuah karya yang baik ia tidak akan mau untuk memberikan sebuah proyek padanya.
"Baik Pak! Saya sudah menunggu proyek saya kali ini, lagian sudah lama saya tidak mendapatkan proyek. Rasanya sangat hampa pak, kalau begitu tema cerita apa yang harus saya tulis?"
"Psikopat, tulis cerita tentang sebuah pembunuhan berantai. Kamu mau kan sukses? Hanya ini cara agar kamu bisa sukses dengan waktu empat bulan saja, kamu tahu kan sekarang negara ini khususnya kota ini sedang gempar karena pembunuhan berantai? Maka buku ini akan banyak peminatnya karena berada di tema yang nyata!"
Gantari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia merasa ragu-ragu untuk menerima tawarannya namun di sisi lain ia juga butuh pendapatan lebih karena tiga bulan terakhir pendapatannya menurun drastis. "Tapi apakah gak bahaya pak menulis sesuatu yang lagi ramai di kalangan masyarakat?"
"Tidak apa-apa, kan ini hanya cerita orang-orang di luar sana juga tidak akan menganggapnya serius. Karena saya yakin proyek ini pasti akan laku besar, jadi kamu mau atau tidak? Kalau tidak biarkan orang lain saja yang melakukannya."
"Tidak pak, biarkan saya saja yang mengerjakan proyek ini. Walau memang saya sering menulis cerita romance tapi dalam gentre thiler juga saya sudah ahlinya."
"Baik lah kalau begitu selamat bekerja, saja mempercayakan proyek ini kepada kamu!"
*☠️*
"Korban ke tiga yang ditemukan dalam toilet bioskop bukanlah korban ke tiga, tapi korban ke lima," ucap Pak Detektif yang bernama Detektif Pilar, berusia empat puluhan yang sudah menjadi senior bertahun-tahun. Sudah memiliki pengalaman lebih akan pembunuhan, tapi menurutnya pembunuhan berantai kali ini benar-benar menguras fisik dan otaknya.
"Korban ini adalah korban ke lima karena angka yang ada di telapak kakinya, tapi korban yang pertama di temukan dua minggu yang lalu berinisial RC di telapak kakinya bertulisan 3 korban selanjutnya TN bertulis 4, berarti ada dua korban lagi yang belum ditemukan. Lalu korban pertama dan kedua, pasti mereka sudah di bunuh sekitar satu bulan yang lalu," jelas Radap sebagai senior sekaligus asisten Detektif Pilar.
"Ah sial!" Detektif Pilar mengacak-acak rambutnya dengan kesal, ia sudah tidak bisa berpikir lagi. Psikopat itu benar-benar mempermainkan para detektif dan polisi, ia juga benar-benar bermain secara rapi.
"Saya yakin setelah ini dia akan beraksi lagi, mulai lah memperketat penjagaan di daerah sekitar yang memang belum ada korban. Lalu himbaulah masyarakat untuk mengurangi kegiatan di luar rumah ketika malam hari, mau bagaimana pun kita harus bekerja sama dengan masyarakat sekitar. Oiya sudah benar-benar memeriksa CCTV di bioskop? Apakah tidak ada CCTV yang menyala saat itu?"
"CCTV nya benar-benar disadap saat itu, tidak ada CCTV yang menyala selama 30 menit lamanya. Para penjaga di bioskop pun tidak sadar kalau CCTV nya mati, karena ruang pengintai CCTV sering ditinggal. Bioskop di sana memang kurang penjagaan yang ketat. Dan kemungkinan juga bahwa CCTV nya telah di hapus oleh sang pelaku!"
"Saat itu di bioskop saya bertemu dengannya, saya tidak tahu kenapa dia bisa ada di sana dan di waktu yang tepat pembunuhan itu terjadi."
"Jangan hiraukan dia Pak, mungkin ini semua hanya sedang kebetulan saja."
KAMU SEDANG MEMBACA
a Memorable Murder
Mistero / ThrillerKejadian yang menegangkan di suatu kota yang terus di usik oleh seorang psikopat gila yang sudah membunuh warga yang tidak bersalah. Gantari Kahiyang seorang penulis yang ditunjuk untuk membuat proyek tentang psikopat dan Nohan Pradipa yang harus me...
