Apa benar jika kau telah membuat seorang seniman jatuh cinta, kau akan abadi dalam karyanya?
Tapi, seniman itu jatuh cinta pada arwah.
***
"Haruno-san, mengapa kau bunuh diri?"
"Sasu-chan," panggilnya. "Aku tak pernah mengakhiri hidupku. Tapi aku d...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rasa-rasanya jika yurei itu masih setia mengikutinya, Uchiha Sasuke akan mati kelelahan. Semalam lagi-lagi ia tak dapat tidur nyenyak. Alasan tak masuk akalnya, yurei itu bernyanyi sepanjang malam. Jujur saja, suaranya memang 'tak buruk', tapi ia bisa menilai demikian jika tak tahu sumber nyanyian di tengah malam itu bukan berasal dari si yurei.
Setelah lelah akan adegan kejar-kejaran di rumahnya, mau tak mau ia menyerah dan membaringkan tubuhnya, berharap lelap bisa membantunya melewatkan malam mencekam ini.
Akibat ketakutan yang membesar maupun rasa putus asa, ia pun membungkus tubuhnya serapat mungkin dengan selimut di tengah-tengah suhu tinggi musim panas, demi tak membiarkan yurei yang masih disibukkan acara menyanyi itu menyentuhnya.
Dia itu semasa hidup ingin menjadi seorang idol ya, erang Sasuke sebal dibalik selimut. Ia tahu benar, lagu-lagu yang dinyanyikan tak jauh-jauh dari mahakarya AKB 48. Ingin sekali ia melemparkan sesuatu yang menyakitkan untuk yurei itu supaya membungkam mulutnya, tapi bagaimana jika makhluk itu justru marah dan mencekik lehernya.
"Hei bisa hentikan nyanyianmu!" Tak kuasa menahan tekanan, ia pun memberontak.
Yurei itu menahan tariannya, pun menghentikan nyanyiannya, lalu berdiri mendekat ke Sasuke yang masih gemetaran. "Mana bisa begitu, Sasu-chan. Malam adalah waktuku beraktivitas," ungkapnya santai.
Mendapati yurei itu tak marah, ia pun tak tanggung-tanggung menerjangkan kekesalannya, "Berisik, aku butuh tidur!"
"Di siang hari ketika aku butuh tidur kau juga sangat berisik!" sergah yurei itu, memandangnya dari jarak yang sangat dekat, helai rambut panjangnya bahkan sempat menyapu wajah Sasuke yang dialiri keringat dingin.
"Maka dari itu jangan mengikuti, pergi kau yurei sialan!" Rasanya cukup puas mulutnya sanggup melemparkan makian, walau nyawanya terancam.
"Apa kau bilang, kau ingin aku mencekik lehermu ya. Beraninya memanggilku Yurei sialan!" sambar yurei itu kesal. Tangannya yang bagaikan es beku pun berusaha menarik selimut Sasuke.
"Jauh-jauh dariku! Jangan ganggu aku!" pekik Sasuke menahan sekuat tenaga demi mempertahankan selimutnya. "Kau jangan bepikir untuk bertindak tak senonoh denganku, ya. Aku ini anak baik-baik. Kami-sama tolong aku!"
"Jaga mulutmu bocah sialan!" perintah yurei itu. "Aku tak sudi bertindak senonoh dengan bocah macam kau! Harga diriku terluka tahu akibat ucapanmu." Raut memberengut pun tercetak jelas pada wajah suramnya, yurei itu terbang menjauh dan memunggunginya. Mirip seorang gadis yang kesal terhadap sesuatu.
Baguslah sebaiknya memang begitu, supaya aku bisa tidur nyenyak, batin Sasuke sambil menyembulkan kepalanya dari balik selimut tebal.
Namun, nampaknya yurei itu tak akan rela Sasuke terlelap, jadi sebelum sempat kelopak mata Sasuke terpejam, ia kembali bersuara, "Aku punya dua syarat supaya tak mengganggumu terus-terusan!"