Kedelapanbelas : Ketahan di Kampung Husen

426 41 7
                                        

Warning typo ya wkwk ga sempet detail edit tapi semoga menikmati dan please ramein kolom komen dong kasian aku kek gak punya temen 😭🙏🏻
Oh ya sekali lagi aku ngga rasis ya temen-temen cuma ini fiksi cerita yang aku buat dengan penggambaran tokoh cerita dari salah satu suku di Indonesia. Jadi kalau merasa yang salah lapak silahkan banget keluar dan jangan report ya 😭💔

•••

Husen memainkan kakinya di lantai bandara, matanya menunduk menatap sepasang sepatu miliknya dan seseorang yang berada di sebelahnya.

"Wah, udah deket jam buat masuk gate ini. Pak Marshall, Husen, kita pergi dulu ya." Suara Tatan memecah fokus pemuda paling muda itu.

Husen langsung mendongakkan wajahnya, begitu juga dengan si bos yang langsung berdiri dan menyalami ketiga bawahannya.

"Selamat sampai tujuan. Kabarkan saya kalau sudah mendarat di Soetta." Ujar si bos.

Husen yang mengintil menundukkan kepalanya, "Hati-hati ya Mas Tatan, Mas Juwi, Mas Tyo. Maaf ya saya gak bisa ikut balik bareng."

Tyo tersenyum kecil, "Santai wae toh, Sen."

"Iya. Alasan lu juga lebih udah di acc bos." Tambah Tatan sambil menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal.

Juwi melangkah mendekat, "Harusnya kamu yang hati-hati, ehe~"

Semburat merah muncul di wajah Husen, lain dengan Marshall yang sempat mendengar gurau dari bawahannya hanya berdeham.

Juwi pun mundur dan ketiganya mulai berjalan menjauh dengan tangan Husen yang melambai kepada mereka.

Setelah beberapa saat mereka pergi, kecanggungan berada di antara keduanya. Husen menggigit bibir bawahnya.

"Kita mau pergi kapan?" Tanya Marshall yang memecah kecanggungan.

Husen menghembuskan nafas gusar dan mulai berjalan pergi diikuti oleh pria tinggi yang asik bersenandung ria di belakangnya.

---

Beberapa saat yang lalu Husen mendapatkan panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal. Nomor yang cukup asing itu pun diangkat Husen.

"Eh nyambung dia!" Pekikan yang lantang dari ujung telepon mau tidak mau Husen mengangkat menjauhkan ponselnya.

"Halooo! Apa kabar kau anakku, Husen? Baik aja kan, nak?" Suara lantang terdengar dari balik telepon.

Husen menyerngitkan dahi. Suara ini persis dari bounya dari pihak sang ayah yang berdarah batak.

"Masih ingat kau sama udamu ini? Eishh, jangan kau ambil-"

"Husen, bou mau nikah pekan depan datang ya kau. Mamak mu bilang sama bou kau lagi di Medan. Ish, abang apanya kau ambil hapeku-?!"

"Kau datang lah. Jangan kayak alm. bapakmu merantau gak ingat tempat asal-woi kenapa kau dorong aku, anggi?!"

"Husen, jangan dengar cakap uda kau. Kau dibutuhkam di sini sebagai ganti adanya ayah kau, ya-ISHH LETI BEDAGIG KAU AMBIL HAPENYA?!"

"Hape aku ini juga! Ekhem, Nang datang lah~"

Hanya dengan sekali hembusan nafas.

"Maaf, salah sambung."

Pemuda itu langsung mematikan panggilannya dan merenungkan rasa sakit hati yang masih tersisa dari pihak ayahnya dulu.

"Pas aku udah bergaji pun, baru mereka lirik..." Desis Husen.

Dari kejauhan Marshall melihat Husen yang terpejam mata sedang duduk di salah satu meja di restoran hotel. Setelah melihat kondisi yang sedikit aman dari indikasi pegawainya yang lain, dia mendekati Husen sambil membawakan dua cangkir kopi.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 06, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

After Corporate's Cubicle - Markhyuck Local Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang