Author's POV
Semuanya berawal dari peristiwa yang terjadi satu minggu lalu, ketika Grace memutuskan untuk pergi ke sebuah toko buku karena merasa jenuh dengan aktivitas hariannya dirumah.
Grace memang gemar membaca, karena dengan membaca, waktu akan terasa semakin cepat berlalu tanpa disadari.
Setelah puas membaca dan membeli beberapa buah buku, Grace berniat untuk pulang.
But suddenly the rain was coming.
'What the fucking fuck?!! Aarggh Goddamned with this fucking rain!!' Rutuk Grace dalam hati, mengingat ia sangat membenci keadaan yang basah dan hujan pun termasuk kedalamnya.
* Skip after the rain *
Setelah hampir 1 jam menunggu disebuah cafe, hujan pun akhirnya mereda. Grace menyebrang kesebuah halte untuk menunggu taxi datang. That was about 9 PM and the sky was so dark after the rain.
Kondisi jalan pada saat itu sangatlah sepi, mungkin karena semua orang lebih memilih untuk menghangatkan dirinya didalam rumah, daripada berkeliaran keluar mengingat dinginnya udara pada saat itu.
Seketika rasa takut bercampur panik datang menerpa Grace ketika matanya sukses menangkap 3 orang lelaki bertubuh tinggi yang tengah berjalan mendekat kearahnya.
Entah apa yang salah dengannya pada saat itu. Grace hanya bisa mematung, menatap ketiga lelaki yang semakin lama semakin dekat dengannya itu.
Bukannya tidak ingin melarikan diri, hanya saja Grace merasa tubuhnya seketika menegang dan kakinya terasa sulit digerakkan seakan telah menyatu diatas tanah yang tengah dipijaknya.
Keringatpun mulai membanjiri sekujur tubuh Grace. Namun, bukan karena suhu udara yang tiba-tiba saja meningkat, melainkan suhu didalam tubuhnyalah yang seketika memanas.
Grace mengedarkan pandangannya kesekeliling, berharap menemukan seseorang yang dapat dimintakan pertolongan. Namun hasilnya? NIHIL!! Tidak ada satu orangpun yang datang menolongnya.
Grace mundur beberapa langkah ketika jarak mereka hanya kurang dari 2 meter dihadapannya. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Ingin berteriak namun tidak bisa, suaranya seolah tercekat dipangkal tenggorokannya. Lagipula, jika ia berteriak sekalipun siapa yang akan mendengarnya?.
Kini ketiganya telah berada dihadapan Grace. Mereka menatap Grace lekat, terutama lelaki berkaus hitam yang menatap Grace dengan tatapan memburu, seolah terpesona dengan kecantikan wajah dan tubuhnya yang nyaris sempurna itu.
'A-Apa yang kalian inginkan?!' Wajah Grace memucat, takut kalau sesuatu yang buruk akan menimpa dirinya malam itu.
Lelaki berkaus hitam itu menyeringai 'Kau tanya apa yang kami inginkan? Tentu saja kami menginginkan dirimu sayang.'
'Dont touch me!!' Grace segera menepis tangan lelaki yang berusaha menyentuh wajahnya.
Ketiganya pun tertawa bersamaan, seolah menganggap ucapan Grace hanyalah sebuah lelucon bagi mereka.
'Kau tahu? Tingkahmu yang seperti itu malah semakin membuatku ingin menyentuhmu sayang.' Lelaki-lelaki itu terus saja berusaha menyentuh Grace, namun Grace tetap membalasnya dengan tepisan-tepisan kasar.
Lelaki berkaus hitam dihadapan Grace mengarahkan tangannya kearah wajah Grace dan perlahan menghapus air mata yang mulai membanjiri wajahnya.
'Ayolah, kau tidak akan menyesal jika ikut dengan kami. Kami berjanji akan membuat malammu terasa menyenangkan, sehingga kau tidak akan melupakan setiap detik-detik yang berlalu. Karena, kita akan bersenang-senang malam ini.' Lelaki berkaus hitam itu menggidikkan dagunya kearah Grace, seolah tengah memberikan sebuah aba-aba.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Endless Love ( Justin Bieber's Love Story)
FanficJustin Bieber. Lelaki berparas tampan dengan pesona yang sangat tinggi. Siapa wanita yang tidak menyukainya? Justin adalah bintang di campusnya. 'The Most Wanted Arrogant Man' Itulah gelar yang diberikan kepada Justin dari para wanita yang menggilai...