Bagian 5

16 5 0
                                        

WHITE SHADOW
BAGIAN 5
©2024 Seishunira
____________

“Kalian..” Wanita itu menghela nafas panjang melihat kertas yang digenggam.

“Saya tahu, kegiatan klub basket sangat padat. Tapi sebagai siswa, prioritas kalian tetaplah belajar.” Mrs. Helga meletakkan 4 lembar kertas di atas meja. Setiap lembar memiliki angka merah di kanan atas halaman.

“Wuah! Nilaiku lebih tinggi dari Julius!” Brian mengambil kertas miliknya.

Tch. Kau pasti menyontek Tamara.” Celetuk Michael asal.

Brian tersentak. Matanya membola, bergetar. “Tidak!” Dia melirik Mrs. Helga takut.

Julius melihatnya, gelagat aneh Brian. Dia melempar pandangannya ke atau lain. Julius bergumam sendiri, “Siapapun tau dia menyontek..”

“Sudah cukup. Hah…  Mau nilai Brian lebih baik atau tidak, kalian semua tetap gagal dalam ujian!” Mrs. Helga menengahi keributan antara Brian dan Michael. Wanita itu melihat kalender sesaat. “Tanggal 21, kalian akan menjalani ujian ulang.”

Mrs. Helga menoleh dan tersenyum. “Dan jika kalian gagal.. Saya akan meminta kalian di istirahatkan dari klub basket selama 1 bulan.” Imbuhnya.

Bagai petir menyambar di siang hari. Keempat lelaki itu terpaku. Rata-rata nilai mereka saja tidak sampai 60, bagaimana bisa mereka lulus ujian? Terlebih Agrilus School memasang nilai minimun lulus ujian di angka 80.

Tangan Julius mengambang di udara. “Tu-tunggu Mrs. Dalam waktu 1 minggu kami tidak mungkin-”

“Mungkin. Saya yakin kalian bisa.” Potong Mrs. Helga cepat. Dia menutup dokumennya, dan beranjak. “Saya memiliki pekerjaan lain. Sampai Jumpa anak-anak.”

Ketenangan yang dimiliki oleh Julius seolah hilang. Lelaki itu membeku, rohnya tampak hilang. Sangat.. Berbeda dengan Brian dan Michael yang histeris panik.

Keenan tertawa. Dia meremat kertas ujiannya, “Kita hanya perlu belajar ‘kan?”

“Hanya?!” Brian menoleh sengit.

“Benar! Hanya?!” Michael melihat Keenan seram.

Hm! Lagipula bukannya kau memiliki teman yang sangat pintar ya, Julius? Kita minta dia mengajari kita saja!” Keenan menatap Julius. Matanya melebar, “Eh? Elisabeth- dia temanmu kan?”

Elisabeth. Hanya dengan mendengarnya, Julius terbatuk. Wajahnya terasa panas. “Apa hubungannya, ujian kita dengan Elisabeth?”

Eh, Elisabeth ‘kan peringkat 2 di angkatan kita? Dia pasti bisa mengajari kita!” Keenan menyahut lagi.

“Elisabeth.. Teman Rietta?” Michael terperangah melihat anggukan Keenan.

Brian melihat ke Keenan dan Michael linglung. “Siapa dia?” Lelaki penyuka warna biru itu mengernyit, nama Elisabeth terdengar familiar.

Aku pernah mendengarnya.. Dimana ya?

. . . . .

“Tidak.” Keningnya mengernyit, mengajar anak-anak dari klub basket? Elise membatin geli.

Marie berlutut di samping kursi Elise. “Please, El!”

Elise menatap Marie. Dia tidak buta untuk menyadari beberapa siswa memperhatikan mereka. “Untuk hal ini, jangan memaksaku Marie.” Gadis itu menutup bukunya dan pindah ke bangku lain.

Berbagi ilmu adalah hal yang tidak akan Elise lakukan. Dia selama ini berjuang untuk mempertahankan nilai dan peringkatnya mati-matian, dan kini dia harus membaginya untuk anak yang tidak dekat dengannya? Elise bergumam kecil, “Gila..” Dia meremas bukunya.

Satu hal yang dapat mengguncang ketenangan seorang Elise, hanyalah masalah nilai dan belajar.

“Apakah mereka bertengkar?”

“Ini pertama kali aku melihat Elisabeth menjauhi Marie seperti itu.. Apa yang Marietta lakukan sebenarnya?”

“Tidak. Ini salahnya, Elisabeth. Dia angkuh!”

“Hah? Angkuh?”

“Dia menolak untuk mengajari Marie belajar tahu? Bukannya ‘angkuh’ sebutan yang tepat?”

“Pfft! Tapi, aku akan melakukan hal yang sama bila menjadi Elisabeth. Enak saja, anak seperti Marie yang tidak pernah belajar memintaku untuk mengajarinya dari awal?”

Tidak. Elise memejamkan matanya. Hatinya semakin gusar, bisik-bisik dari beberapa anak di kelas membuat Elise ingin menjelaskan.

Dia tidak bertengkar dengan Marie.

Elise hanya sedikit kesal. Kedua hal itu adalah hal yang berbeda ‘kan?

Lagipula, bukan Marie yang minta diajari. Tapi Marie meminta agar dia mengajari 4 anak dari klub basket, salah satunya Michael, pacar Marie.

Angkuh?  Elise bergumam kecil. “Aku hanya bersikap realistis..”

Hatinya tak nyaman. Matanya terarah kepada Marie yang duduk seorang diri, badannya bergetar, dia menangis.

Apa dia sedang bertengkar?

Elise tidak mengerti… 

____________

Jangan lupa bantu vote dan komentar
untuk bagian selanjutnya ya

Terimakasih

WHITE SHADOW (On-going) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang