Bagian 6

24 6 1
                                        

WHITE SHADOW
BAGIAN 6
©2024 Seishunira
____________

Jari kurus putih itu mengambang di udara. Sang empu menghela nafas panjang dan mematikan ponsel, alih-alih menekan pesan yang sudah diketik selama beberapa menit.

Elise meletakkan ponselnya di atas meja. “Harusnya aku menerimanya saja!” Dia menangkup kepalanya dan mengacak rambutnya.

Matanya membola, melihat ponselnya menyala. Dia mengangkat kepalanya dan meraih ponselnya.

Semangatnya hilang saat tau pesan yang masuk bukan dari Marie, tapi dari adiknya.

Aku akan mampir ke apartemen mu, kuharap ada cola.

“Anak ini!” Elise berdiri, dia beranjak memakai jaket dan membawa dompet menuju minimarket.

Kuharap ada cola. Keluarganya masih menganut patriarki. Hal ini membuat Elise kurang dihargai dan pesan dari adiknya itu bagai sebuah ancaman.

Adiknya adalah anak laki-laki. Dia bisa saja mengadu, membuatnya terpaksa pergi untuk membelikan sang adik cola, di tengah malam.

Biasanya Elise tidak merasa takut untuk pergi sendiri ke minimarket, bahkan jika malam hari.

Tapi kali ini terasa menyeramkan.

Matanya melirik cepat beberapa kerumunan laki-laki dengan motor sport besar di pinggir jalan. Tubuhnya bergidik merasakan banyak tatapan tertuju padanya.

Langkahnya terhenti saat sepasang sepatu berada menutupi jalan.

“Maaf-” Elise mendongak takut.

“Wah! Dia benar-benar manis!” Laki-laki dengan piercing di bibirnya mendekatkan wajahnya ke Elise.

“Seleramu payah Yoel. Masih cantikan Gisel.”  Suara tawa mereka mendengung.

Laki-laki bernama Yoel itu mendesis sinis. Dia kembali menatap Elise berbinar. “Siapa namamu?”

“El-Ella..” Elise memilin lengan jaketnya yang oversize. Dia tidak berani menyebutkan nama aslinya.

“Oh.. Ella?” Yoel mengangguk sesaat tersenyum. Tapi detik selanjutnya, laki-laki itu merampas dompet Elise dan membukanya. “Elisabeth Carmia.”

Yoel tersenyum lebar, “Nama yang cantik, Elise."

Elise terkesiap.

“Kembalikan dompetku.. Aku harus segera kembali.” Elise mendongak, melihat Yoel yang lebih tinggi.

Mata coklat Yoel tampak bergetar, bibirnya berkedut. “Pfft! Tenang saja, kami bukan pencopet kok~ Aku akan mengembalikan dompetmu setelah mengetahui nomormu. Bagaimana?”

“Sialan, Yoel. Dia benar-benar gigih!” Seruan dari salah satu anak lelaki, meledek.

Elise menggigit pipi dalamnya. “Aku-” Dia terperanjat saat bahunya ditepuk dari belakang. Elise menoleh, matanya melebar. “Julius!”

“Eh, El-Elise?” Julius terkejut.

Dia tadi hanya tidak sengaja lewat melihat kerumunan laki-laki yang sedang mengganggu satu perempuan. Julius berniat menolong.

Tapi dia tidak menduga, perempuan itu adalah Elise!

Wajahnya sontak memerah. Sadarlah, bodoh! Julius membatin. Dia berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.

“Apa dia pacarmu, Elise?” Yoel mengernyitkan dahi.

“Kamu mengenalnya?” Julius berbisik kaget saat dengar laki-laki yang berada paling dekat dengan Elise, memanggil gadis itu dengan nama.

Elise menoleh dan menggeleng. “Aku tidak kenal dan dompetku di dia..”

Julius berkedip.

Dia menggigit bibirnya, Elise terlihat sangat manis.

Julius memejamkan mata sejenak dan bergumam kecil. “Maaf..”

Elise tersentak saat tangannya digenggam lelaki itu. Hatinya berdesir saat Julius membuka mulut.

“Dia pacarku. Jadi kembalikan dompetnya.”

“Hah! Tidak masuk akal! Ini hanya akal-akalan kalian-” Yoel membantak tak percaya. Tapi dia berhenti bicara saat temannya mendekat dan merampas dompet biru itu dari tangannya, melempar ke arah Elise. “Hei, Adrian!”

“Kau membuang waktu Yoel.” Lelaki bernama Adrian itu melirik Elise sekilas.

Tch.” Yoel berdecak kesal. Lelaki itu menyempatkan melihat Elise sebelum menaiki motor dan pergi.

Deru motor yang pergi meninggalkan jalan membuat Elise lega. Gadis itu menatap Julius dan tersenyum. “Terimakasih Julius! Kamu menyelamatkanku..”

Julius terpaku. Dia menatap arah lain. “Aku- tidak, itu kewajibanku menolongmu..” Katanya malu.

Elise melihat Julius dengan tawa kecil. Lelaki itu lebih pemalu dari yang terlihat. Matanya melihat tangannya yang masih menyatu dengan Julius.

Jantungnya berdetak. Ini pertama kali, dia berpegangan tangan dengan laki-laki.

Keterdiaman Elise membuat Julius heran.

Namun dalam beberapa detik, wajahnya menjadi semerah tomat.

Dia melepaskan genggamannya, “MA-MAAF! Aku, hanya, tadi, itu, menolong, mengaku, jadi-”

Bibir Elise berkedut. Dia tertawa lepas.

Julius menutup mulutnya. Dia mengusap rambutnya kasar, “Aku selalu terlihat bodoh depanmu..” Gumam lelaki itu kecil.

“Tidak.. Haha! Kamu benar-benar lucu Julius.”

“Tolong hentikan..” Julius malu.

“Aku akan mengajarimu.” Elise mengusap matanya yang berair karena banyak tertawa.

Julius melihat Elise, “Mengajari?” Ulangnya.

Elise mengangguk kecil. “Marie memintaku mengajari 4 anak dari klub basket, salah satunya kamu ‘kan?”

Oh- Benar! Julius baru ingat. Ketiga temannya minta agar Elise mau mengajari mereka. Tapi Julius, tidak memiliki nomor Elise untuk dihubungi.

“Apa tidak merepotkan-?” Julius memastikan.

Elise terdiam sejenak, “Aku hanya akan mengajarimu. Untuk teman-temanmu, aku tidak dapat melakukannya. Apa tidak apa-apa?” Mengajari 1 orang tidak seberat mengajari 4 orang.. Begitulah pikir Elise.

“Itu tidak masalah!” Julius menjawab cepat. Dia menggigit bibirnya, dan membukanya ragu. “Kalau begitu.. Apa kamu mau bertukar nomor denganku?”

Elise mengejapkan mata.

“Tentu!”

____________

Jangan lupa bantu vote dan komentar
untuk bagian selanjutnya ya

Terimakasih

WHITE SHADOW (On-going) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang