WHITE SHADOW
BAGIAN 4
©2024 Seishunira
____________
“Ayo! Ayo! Cepatlah sedikit Elise!” Marie tak sabaran.
Elise mengalihkan pandangannya, “Harusnya kamu pergi saja sendiri..” Gerutunya pelan.
Seperti biasa, temannya itu menyeretnya, pergi bersama menghampiri Michael. Kali ini bukan kelas atau kantin tapi lapangan.
Pertandingan internasional yang akan dilakukan oleh klub basket sekolah mereka, berlangsung 2 bulan lagi. Klub basket terlihat sangat sibuk untuk prepare dan latihan.
Dan hari ini, mereka memiliki jadwal latih tanding dengan sekolah lain.
Jangan terkejut darimana Elise mengetahuinya. Pacar Marie adalah anggota inti dari klub basket.
“Oh gosh! Latih tanding saja seramai ini?” Marie terkejut melihat penuhnya tribun sekolah dengan para siswa, dari sekolahnya dan luar sekolah.
“Marietta!” Seorang siswa perempuan memanggil Marie dari bangku depan. “Sini!” Imbuhnya saat Marie menoleh.
Marie menarik Elise menuju temannya. Dia tersenyum lebar dan memeluk perempuan bersurai hitam itu. “Abigail! Long time no see!” Sapanya riang.
“Huh? Long time no see? Kamu saja yang tidak pernah datang berlatih!” Abigail menyentil dahi Marie.
Elise memperhatikan dalam diam, dia baru ingat Marie adalah anggota cheerleaders.
Klub basket dan klub cheerleaders selalu beriringan, bila klub basket memiliki turnamen besar, harusnya klub cheerleaders juga.
Kenapa Marie sangat santai? Elise membatin. Dia tersenyum kikuk saat menangkap Abigail sedang memperhatikannya.
“Oh! Aku lupa mengenalkan temanku. Dia Elise!”
Abigail tersenyum dan mengulurkan tangan, “Hi, Elise! Nice to meet you.”
“Senang bertemu denganmu juga, Abigail.”
Marie tersenyum bangga melihat Elise dan Abigail yang berkenalan. Dia berbisik kepada Elise, “Fun fact, Abigail adalah saingan cintamu.”
“Apa maksudmu?” Elise mengernyit.
“Dia menyukai Julius!” Marie tersenyum menggoda.
Matanya berkedut, kesal.
“Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Berhentilah bersikap menyebalkan.” Elise membuang muka dan mendudukkan dirinya di beton keras.
Marie mengangguk kepala. “Tidak ada yang tahu masa depan..” Gumamnya kecil.
Elise menoleh, menatap tajam Marie lagi.
Dia mendengarnya.
“Iya! Iya! Maaf!”
. . . . .
Latih tanding berakhir. Kemenangan mutlak diraih oleh klub basket Agrilus School, dengan score yang cukup jauh.
“Huah! Ini menyenangkan!” Keenan berseru.
“Tch! Kalau tidak ada aku, kita kalah!” Brian menyahut tidak mau kalah.
Keenan melirik Brian dan tersenyum angkuh. “Aku mencetak 43 poin!” Dia menaikkan alisnya, “Kamu hanya 15 kan?”
“Brengsek! Lihat saja! Aku akan menyalip di latih tanding selanjutnya!”
Brian melempar handuk bekas keringatnya ke arah Keenan. Sayangnya, lelaki dengan rambut dikuncir bak air mancur itu menghindar, membuat handuk itu mengenai wajah laki-laki yang sedang duduk berbincang dengan pacarnya.
“Mike!” Marie terkejut melihat sebuah handuk basah mendarat wajah tampan Michael.
Michael memejamkan mata, dia tersenyum ke arah Marie sebelum dia berlari mengejar Brian.
“BAJINGAN KEMARI KAU!”
Keenan terkikik di tempat.
“Apa yang terjadi?” Julius mendekat, dia bingung melihat Michael tampak meledak, mengejar Brian.
“Brian melempar handuk bekas keringatnya ke Mike.”
Wajah tenang Julius memucat. Tubuhnya bergidik jijik. “Sementara ini, aku tidak akan dekat-dekat dengan Mike..” Dia bergumam.
“Julius!” Suara perempuan memanggilnya.
Laki-laki itu menoleh.
“Hi Abigail.”
Abigail tersenyum ceria. “Permainanmu luar biasa!”
“Thanks.” Julius menyahut singkat. “Aku pergi-”
“Aku membawakanmu minum. Terimalah ya?” Abigail menyodorkan sebotol ion drink yang biasa diminum Julius dan anak basket lainnya.
“Kamu tidak membawakanku, Abigail?” Keenan merangkul bahu Julius.
“Tidak, untuk apa?” Abigail menggeleng.
“Jahatnya..” Keenan mendengus panjang.
Sudah menjadi rahasia umum di klub basket, Abigail menyukai Julius sejak kelas 1. Sayangnya, Julius tidak menyukai balik Abigail. Dia hanya menganggap gadis itu sebagai rekannya.
Julius pernah mengatakannya.
Klub basket dan cheerleaders adalah berada di kubu yang sama ‘kan? Kerja sama itu penting.
“Elise?”
Julius menoleh.
Tubuhnya membeku melihat perempuan dengan rambut dikuncir yang duduk di barisan depan tribun.
Angin sepoi seolah membantunya terlihat lebih cantik.
Tapi, mengapa captain klub basket menghampiri Elise?
“Jarang melihatmu di tempat seperti ini.” Kata laki-laki bersurai ikal.
“Aku ditarik Marie..” Lirihnya.
“Sungguh? Kalian tidak berubah. Haha!” Billy tertawa.
Julius melihat interaksi keduanya dalam diam.
Dia tidak mengerti apa yang dia rasakan. Hatinya berdenyut lebih kencang dari biasa. Kepalanya terasa panas.
“Aku terima ya. Thanks Abigail.” Julius meneguk ion drink yang diberi Abigail sampai habis.
Tapi, dia tidak bisa menghilangkan rasa panas ini.
Sungguh-!
____________
Jangan lupa bantu vote dan komentar
untuk bagian selanjutnya ya
Terimakasih
KAMU SEDANG MEMBACA
WHITE SHADOW (On-going)
RomansaR-17 Bagaimana, jika dua orang figuran dalam kehidupan bertemu? Dimana mereka saling terikat bagai benang merah yang kusut. Cerita di publish dalam kondisi DRAFT PERTAMA, belum dilakukan REVISI atau REPUBLISH. Masih banyak kekurangan dalam cerita...
