Manusia Galau
Liv gue di depan rumah lo
Bisa bicara sebentar?
Nyatanya memandang langit malam itu lebih mengasyikkan daripada memperjelas tujuan Jonathan datang malam hari ke rumah Olivia. Padahal cowok itu sudah menyiapkan segala kata-kata dan nyali untuk menjelaskan perihal masalah yang membuat dirinya dan Olivia dilanda kebisuan akhir-akhir ini pake alias ga ada ngomong sama sekali.
Pertanyaan tentang putus di kantin beberapa hari yang lalu bagaikan debu yang di bawa terbang angin, hilang, tak ada dari dua insan ini yang ingin membahas nya lebih lanjut. Terhitung sudah beberapa menit Jonathan sampai ke rumah Olivia, namun keduanya tak saling tegur sapa, hanya duduk berdua di taman belakang rumah Olivia dengan dua gelas teh yang disajikan oleh Mama Olivia.
"Lo ke sini ada perlu apa?"
Tak tahan dengan atmosfer yang ada di antara mereka, akhirnya Olivia buka suara, cewek itu bingung sebenarnya harus memulai dan membuka percakapan mereka dari mana, karena jujur banyak hal yang perlu mereka bicarakan.
"Gue mau minta maaf Liv," ujar Jonathan seraya menatap wajah Olivia yang dipenuhi rasa bingung.
"Minta maaf?" beo Olivia membalas tatapan Jonathan.
"Gue mau minta maaf soal gelang couple kita itu, gue ga bermaksud ngasih ke Tania sebenarnya, tapi karena doi suka gelang nya dan dia bilang cantik jadi gue kasih pinjem," jelas Jonathan panjang lebar.
Olivia mengambil nafas panjang. Sebenarnya dari awal dia tau Jonathan bukanlah orang yang seperti itu, tapi rasa kecewa Olivia lebih besar kala melihat gelang yang ia beli untuk Jonathan malah bersemayam dengan manis di tangan Tania. Rasanya ada yang mengganjal di hatinya kala itu, dan memberikan ego nya menguasai dirinya.
"Gapapa gue paham kok, gue yang salah paham waktu itu, terus ga ngasih lu space buat jelasin lebih soal masalah itu, gue juga minta maaf ya Jo," balas Olivia lalu tersenyum kecil yang di balas anggukan oleh Jonathan.
Olivia juga berpikir kalau dirinya akan sangat childish, memusuhi Jonathan hanya karena gelang couple yang di belinya untuk lelaki itu.
"Jadi lu ke sini mau ngomongin itu aja?" tanya Olivia lagi, gak mungkin hanya ini saja yang ingin Jonathan bicarakan kepadanya.
"Sebenarnya ada lagi yang mau gue omongin,"
"Yaudah, sok ngomong,"
"Kita putus yuk? Soalnya gue sama Tania udah pacaran,"
•••
Cewek berambut panjang itu tertawa melihat dirinya yang acak-acakan setelah bangun tidur di depan cermin. Matanya sembab, bibir nya pucat dan hidung nya merah. Di pergelangan tangan nya, kanan dan kiri sudah terikat indah gelang berwarna hitam. Satu miliknya dan satu milik Jonathan.
Tadi malam sebelum hujan mengguyur penjuru kota dengan rintik yang deras, Jonathan dan Olivia resmi putus dari hubungan formalitas serta hubungan pura-pura mereka tersebut. Olivia senang, beban nya hilang dan lepas begitu saja, apalagi sebelum putus Jonathan sudah membelikan cewek itu Netflix 2 bulan sesuai dengan perjanjian. Akan tetapi kini tak ada lagi cowok yang bisa ia tumpangi, Jonathan pasti akan selalu berada di samping Tania, teman nya yang baik itu akhirnya bisa berpacaran dengan gadis impian nya.
Mulai sekarang Olivia memutuskan untuk pergi ke kampus dengan menaiki mobilnya sendiri, menjaga jarak dari Jonathan dan belajar giat di semester ini, karena sebentar lagi ujian akhir semester akan di mulai.
Namun ada yang beda rasanya pagi itu, entah kenapa hati Olivia rasanya berat sekali hendak pergi ke kampus. Sedari tadi cewek itu berdiri di cermin besar yang terletak di ujung kamarnya, melihat tampilan dirinya yang kacau karena menangis semalaman, menangis karena kisah cintanya yang tragis.
Sudah Olivia bilang dari awal bukan? Dia tak pernah setuju dengan ide gila Jonathan yang mengajak nya menjalin hubungan bohongan karena sebenarnya di dalam lubuk hati nya yang paling dalam Olivia menyimpan sedikit rasa untuk Jonathan.
"Astaga gue kenapa sih...,"
•••
Gadis bermata kucing itu mendongak kala sebuah tas bermerek berwarna putih terjauh di depan nya, lebih tepatnya di depan batagor nya siang itu. Setelah menyingkirkan earphone yang tadi menghalangi pendengaran Olivia mendongak lalu tak lama langsung mengalihkan pandangan kala bertatapan dengan seseorang yang berdiri di depan meja nya di kantin kala itu.
Olivia malas untuk ribut, gadis itu memilih hendak beranjak walaupun batagor level 2 nya belum habis. Karena menurut nya berhadapan dengan Tania sama dengan berhadapan dengan sampah, busuk, Olivia tak tahan dengan bau nya yang menyengat, apalagi dengan pacar baru gadis itu, Jonathan, yang dari tadi diam membisu tak bersuara.
"Kok pergi? Batagor nya belum habis tuh, mubazir," ujar Tania lalu mendudukkan tubuhnya di bangku sebrang yang tepat berhadapan dengan Olivia.
"Yang makan gue, yang gamau ngabisin juga gue, kenapa lu yang ribet?" balas Olivia jengkel, "Lagian kalo ngerasa mubazir ya lu aja yang makan bantuin gue ngehabisin, udah gue bayar kok tenang aja,"
Mendengar itu Tania mendecih marah, gadis itu bangkir dari duduknya, menahan tangan Olivia yang hendak pergi dari meja tadi.
"Mau apa?" tanya Olivia malas.
"Lo tuh—,"
"Udah Tan, pindah aja yuk, itu ada meja kosong," Jonathan langsung memotong, membuat Olivia menatap ke arahnya, begitu juga dengan Tania.
"Tapi aku maunya disini," ujar Tania manja, Olivia yang melihat itu mau muntah.
"Di sana aja dengan kipas, tadi katanya kamu kepanasan kan? Yuk," ajak Jonathan dengan lembut membuat Tania menurut dan melepaskan cekalan tangan Olivia.
"Yaudah deh," balas Tania lesu, gadis itu mengambil tas nya kemudian menatap Olivia bengis, "Bye gembel,"
"Sialan,"
haloo guys, semoga suka yaa hihi. lagi mengingat-ingat alur dan keseluruhan cerita karena yg di draf jelekk bgttt huhu 🤚🏻
KAMU SEDANG MEMBACA
Girlfriend.
Romance[on hold] Tentang Olivia yang terjebak dengan teman nya, Jonathan dan terpaksa menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih karena Tania si ratu kampus. Karena hal itu Olivia jadi menyimpan rasa dengan Jonathan yang jelas-jelas menyukai Tania, lantas...
