Ost I Loved Her First-heartland
Ayah menganggukkan kepala, "Iya, kamu boleh ikut ayah. Tapi... apakah kamu benar-benar ingin pergi ke surga?"
Putri: "Ya, ayah, aku mau. Aku ingin bersama ayah."
Ayah tampak sangat sedih, "Jika kamu memutuskan itu, aku akan memberitahu dokter semuanya. Tapi jangan khawatir, ayah tidak ingin kamu merasa bersalah karena harus meninggalkannya."
Putri: "Apa maksud ayah?"
Ayah berbicara dengan pelan, "Aku hanya tidak ingin kamu menyesal karena keputusanmu. Tapi aku percaya jika kamu sudah memutuskan, ayah akan memberitahu semua kepada dokter..."
Putri: "Aku tidak mau sendirian, kalau ayah pergi, aku harus cari ibu kemana?"
Ayah tampak berpikir sejenak, "Jika kamu tidak punya ibu, ayah akan mencarikanmu keluarga yang baik untuk merawat dan mengasuh kamu. Tapi... apakah ada yang bisa membiayai hidup kamu setelah ayah pergi?"
Putri: "Aku tidak tahu, ayah."
Ayah memeluk kamu dengan lembut, "Itu tidak menjadi masalah. Ayah akan mencarikanmu keluarga yang baik. Ayah juga akan tetap bersamamu di surga sampai akhir..."
Aku membalas pelukan ayah.
Ayah membalas pelukan kamu dan berbicara dengan lembut, "Jangan khawatir, ayah akan selalu ada untukmu. Apakah kamu siap jika kami pergi ke surga sekarang?"
Putri: "Tapi aku mau bersama ayah di sini. Aku ingin ayah sembuh."
Ayah memeluk kamu dengan erat, "Ayah juga ingin sembuh, tapi ayah tidak bisa... Tapi jangan khawatir, aku akan terus berusaha bertahan agar bisa merawat dan mencintai kamu sampai akhir."
Putri: "Dokter, apa ayah tidak bisa dioperasi?"
Ayah tampak sedih dan menganggukkan kepala, "Dokter tidak bisa menyembuhkan kanker..."
Putri: "Dokter, apakah bisa menyembuhkan ayah saya?"
Ayah berpikir sejenak dan menganggukkan kepala lagi, "Mungkin bisa... tapi itu akan membutuhkan waktu yang lama."
Aku menoleh ke arah dokter.
Dokter menatap kamu dengan penuh kesedihan, berusaha keras menyembuhkan ayahmu. Namun, tampaknya tidak bisa. Dia menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa kanker memang sangat sulit diobati.
Putri: "Apakah tidak bisa dioperasi, dok?"
Dokter menganggukkan kepala sekali lagi, kali ini berbicara dengan nada sedih dan bergetar, "Ya... kanker tidak dapat dioperasi. Apakah kamu masih mau tetap di sini?"
Putri: "Transplantasi otak bagaimana, dok?"
Dokter berbicara dengan tegas, "Transplantasi otak tidak bisa menyembuhkan kanker, itu hanya akan memperlambat kematiannya. Tapi kami dapat mencoba yang lain..."
Putri: "Apakah itu bisa?"
Dokter berbicara dengan penuh harap, "Ya... ada cara lain, tapi itu membutuhkan biaya yang sangat mahal."
Putri: "Apa itu?"
Dokter tampak berpikir sejenak, "Ini akan menjadi operasi yang sangat berbahaya dan sulit, tapi jika kamu bersedia, kami bisa mencoba. Apakah kamu masih mau?"
Putri: "Operasi apa itu, dok?"
...
Dokter berbicara dengan nada lembut dan tenang, "Operasi transplantasi sumsum tulang belakang. Itu adalah operasi yang akan mengubah sumsum tulang belakang kamu menjadi darah, sehingga kanker tidak dapat lagi menyebar di tubuh ayahmu. Tapi ini akan membutuhkan waktu yang lama dan harus menggunakan obat-obatan kimiawi... apakah kamu bersedia?"
Aku menoleh ke arah ayah.
Ayah memandang kamu dan menganggukkan kepala, dia tampak tidak sabar untuk menunggu jawabanmu.
Putri: "Baiklah, sepertinya ayah siap."
Dokter tampak bahagia dan lega, "Terima kasih, itu akan menjadi operasi yang sangat berat, tapi mungkin bisa membuat ayahmu lebih baik. Apakah kamu siap untuk memulai operasinya?"
Putri: "Ya, aku siap. Maksudmu aku harus mendonorkan sumsum tulang belakangku?"
Dokter berbicara dengan nada serius dan menganggukkan kepala lagi, "Ya, kamu harus melakukannya. Tapi sebelum itu... saya perlu mengambil sampel darah dari kamu untuk mengecek apakah kamu dapat menjadi pendonor sumsum tulang belakang yang cocok untuk ayahmu."
Putri: "Baiklah, ayo."
Dokter memeriksa darah kamu dan setelah beberapa saat dia tampak berbicara dengan tenang, "Aku sudah mengecek sampelnya, dan tampaknya kamu adalah pendonor yang cocok buat ayah kamu. Apakah kamu siap untuk operasi?"
Putri: "Aku harap ayah siap."
Dokter menganggukkan kepala sekali lagi, "Saya rasa ayahmu juga siap, jadi kami akan memulai operasinya. Apakah kamu mau ikut dengan saya?"
Putri: "Ya, tentu."
Dokter lalu menarik kamu ke ruang operasi dan mempersilahkanmu masuk. Di dalam ruangan itu ada banyak peralatan medis dan juga perawat.
Aku mulai tertidur karena efek obat bius.
Dokter mulai menyiapkan peralatan medis untuk operasi dan mulai memasukkan sel-sel sumsum tulang belakang dari tubuhmu ke dalam tubuh ayahmu.
Beberapa jam kemudian, kamu terbangun dan merasakan perubahan yang terjadi di tubuhmu. Ada rasa sakit yang luar biasa, namun juga rasa tenang setelah operasi selesai.
Aku melihat ke arah ayah.
Ayahmu masih dalam keadaan tertidur, sedikit pucat, tapi tampaknya sudah lebih baik dari sebelumnya. Dia juga memegang tangan kamu.
Aku membalas genggamannya.
Ayahmu masih tidak sadar, namun mulai merangkul kamu dengan lembut dan berbicara, "Suara ayah yang lemah dan tenang terdengar dari bibirnya... 'Kamu baik-baik saja?'"
Putri: "Ya, ayah. Aku baik-baik saja. Ayah sudah sadar?"
Ayahmu menganggukkan kepala dan mulai membuka matanya sedikit demi sedikit. Dia memandang kamu dengan tatapan penuh kasih sayang. "Iya, ayah sadar. Tapi... aku masih tidak percaya bahwa operasinya berhasil."
Putri: "Aku senang ayah mulai sembuh."
Semoga cepat sembuh ya pak Pramana, putri akan selalu menemani kamu penasaran dengan kelanjutannya? Jangan lupa tinggalkan jejak 🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
The Last Hug(End)
Historia CortaDi tengah kesibukan kehidupan sehari-hari, seorang ayah harus menghadapi kenyataan yang mengguncang: diagnosis kanker. Dalam keadaan yang penuh kekuatan, ia bersiap untuk melawan penyakit yang mengancam hidupnya. Namun, waktu tidak berpihak padanya...
