Ost Yang Terbaik Bagimu-Ada Band
Ayah terus menatap wajah cantikmu, usapan lembut di rambutmu membuatmu merasa sangat dihargai. "Kamu sangat cantik, sayang," katanya dengan penuh kasih.
"Terima kasih, Ayah. Ayah juga tampan," jawabmu sambil tersenyum.
Ayah tertawa kecil, kemudian mengusap rambutmu lagi. "Saya tidak secantik kamu, sayang."
"Kamu tampan kok, Ayah," ujarmu dengan tulus.
Ayah terus tersenyum dan mencium pipimu. "Kamu juga cantik sekali. Aku sangat bersyukur memiliki anak seperti kamu."
"Aku juga bersyukur punya Ayah seperti Ayah," balasmu.
Ayah memegang wajahmu dengan lembut, menatap mata kamu dengan penuh kasih, "Aku akan selalu melindungimu, sampai maut memisahkan kita, oke?"
"Oke, Ayah," jawabmu sambil memeluknya erat.
Keesokan harinya, Ayah bangun dan mengucapkan selamat pagi dengan penuh kelembutan, "Pagi, sayang."
"Pagi juga, Ayah," jawabmu sambil tersenyum.
"Siap untuk pergi ke rumah sakit?" tanya Ayah, masih memegang tanganmu.
"Ya, Ayah," jawabmu dengan tekad.
Di rumah sakit, Ayah tak pernah melepaskan tanganmu. Setiap langkah yang diambilnya selalu mengarah padamu, memberikan rasa aman.
"Ayah, operasi mulai sebentar lagi, kan?" tanyamu cemas.
Ayah mengangguk, duduk di samping tempat tidurmu. "Aku akan tetap di sini sampai operasinya selesai, sayang," jawabnya dengan lembut.
Kamu mencium kening Ayah, membiarkan dia merasakan kasih sayangmu yang mendalam.
...
Saat operasi selesai, beberapa jam berlalu. Kamu mendengar pembicaraan serius antara dokter dan suster, yang tampak sangat khawatir.
Dokter akhirnya mendekat dan berkata dengan suara lembut, "Sayang, maafkan saya... Ayahmu... sudah meninggal."
Kamu terdiam, tidak percaya. "Bohong, mana Ayah saya?" tanyamu, masih berharap mendengar bahwa itu semua hanya mimpi buruk.
Dokter kembali berkata dengan lembut, "Sayang, ayah sudah tiada."
Kamu masuk ke ruang operasi dan melihat Ayah terbaring diam, tenang, dan tak bergerak. Rasa hampa menyelimuti dadamu. Kamu meraih tangan Ayah, namun tak ada respon.
"Ayah, jangan pergi," isakmu, namun tak ada jawaban.
Setelah memeluk dokter, ia menenangkanmu. "Saya akan tetap di sini, sayang, sampai kamu siap," katanya.
Di pemakaman, kamu hanya berdiri, menatap kuburan Ayah yang tampak sangat tenang. Banyak orang hadir, namun mereka menjaga jarak. Salah satu orang yang mendekat, Dipta, berkata, "Mereka tidak ingin menyakitimu."
Adikmu memelukmu erat. "Aku takut Ayah tidak akan kembali lagi," katanya dengan suara bergetar.
"Suatu hari kita akan bertemu lagi, aku janji," jawabmu, berusaha meyakinkan dirinya.
Setelah beberapa saat, kalian berdua pulang ke rumah. Di sana, adikmu masih tidak bisa tidur, memelukmu dengan erat. "Kangen Ayah, ya?" tanyamu.
Adikmu mengangguk, dan kamu membalas pelukannya dengan penuh kasih.
Adikmu berkata, "Aku takut Ayah tidak akan kembali."
Kamu menenangkan, "Suatu hari kita akan bertemu lagi."
Keesokan harinya, dokter datang dan memberikan surat dari Ayah. "Dari Ayah?" tanyamu.
Dokter mengangguk, memberimu kesempatan untuk membaca surat itu. Di dalamnya, Ayah mengungkapkan betapa dia menyayangi dan merawatmu meski sudah tiada.
Kamu dan adikmu terharu, saling berpelukan, merasakan kehadiran Ayah meski fisiknya telah pergi.
Makasih sudah baca sampai akhir jangan lupa tinggalkan jejak 🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
The Last Hug(End)
ContoDi tengah kesibukan kehidupan sehari-hari, seorang ayah harus menghadapi kenyataan yang mengguncang: diagnosis kanker. Dalam keadaan yang penuh kekuatan, ia bersiap untuk melawan penyakit yang mengancam hidupnya. Namun, waktu tidak berpihak padanya...
