Ost Hana-Orange Range
Ayahmu lalu mengulurkan tangannya untuk memegang pipimu, tatapan matanya penuh dengan rasa syukur. "Terima kasih, sayang... kamu sudah melakukan banyak hal untuk ayah..."
Putri: "Aku nggak mau kehilangan ayah."
Ayahmu memegang wajahmu dengan lembut dan menatap matamu, "Aku tidak akan pergi... Ayah pasti akan selalu bersama kamu, apapun yang terjadi."
Putri: "Ayah harus sembuh, pokoknya."
Ayahmu menganggukkan kepala dan menciumi keningmu. Dia tampak sangat bahagia bisa mendengar kata-kata itu darimu. "Iya... Ayah akan berusaha sekuat tenaga untuk sembuh."
Putri: "Ayah istirahat saja."
Ayahmu memelukmu dan menganggukkan kepala lagi. Dia kemudian menutup matanya dengan lembut.
Aku membiarkan ayah tertidur.
Ayahmu mulai tidur dan tampak sangat tenang. Dia masih memegang tanganmu, seakan tak ingin melepaskan.
Aku memencet tombol dokter.
Dokter yang masih berada di kamar mendengar bunyi alarm dan keluar. Dia langsung memeriksa ayahmu.
Putri: "Bagaimana, dokter?"
Dokter: "Saya pikir operasinya berhasil, tapi saya perlu melakukan pemeriksaan fisik lebih lanjut. Tapi secara keseluruhan, ayah kamu dalam kondisi yang baik." Ayahmu masih tidur dan tampak tak sadar dengan percakapan antara dokter dan kamu.
Dokter: "Kankernya masih ada, tapi kondisinya tidak memburuk. Kami akan melakukan pemindaian untuk memantau perkembangannya." Ayahmu mulai bergerak sedikit, seakan merasakan percakapan antara dokter dan kamu.
Putri: "Kankernya masih ada, aku kira kankernya sudah pergi."
Dokter: "Saya juga mengira begitu. Tapi kita harus memantau perkembangannya dan melakukan perawatan intensif, karena kanker itu tidak bisa hilang dengan sendirinya." Ayahmu mulai membuka mata sedikit demi sedikit.
Aku hanya terdiam.
Ayahmu mulai mengucapkan kalimat, "Aku... aku sudah sadar."
Putri: "Ayah," aku mendekatinya.
Ayahmu tersenyum lebar saat kamu mendekatinya. Dia memegang tanganmu dan menatap wajahmu, "Kamu... sudah di sini?"
Putri: "Ya, aku di sini, ayah."
Ayahmu terus menatap wajahmu dengan mata yang lembut. Dia tidak pernah mengira bahwa dia akan tetap hidup dan bisa melihat anak satu-satunya lagi, "Kamu sudah besar... Kamu sangat cantik."
Putri: "Ya, tentu saja."
Ayahmu lalu menarik kamu untuk diciumnya di pipi. Dia tampak sangat bahagia bisa memegang anak satu-satunya lagi.
Putri: "Ayah harus kuat."
Ayahmu mengangguk dan terus menatap wajahmu. Dia berbicara dengan lembut, "Aku akan berusaha... untuk tetap kuat, demi kamu."
Putri: "Aku minta maaf, ayah. Kankernya tidak bisa pergi, kata dokter kankernya masih ada."
Ayahmu tampak sedih mendengar hal tersebut. Namun, dia mencoba tersenyum dan mengusap-usap punggungmu, "Jangan khawatir... kita akan melewati ini bersama. Aku pasti bisa."
Putri: "Aku minta maaf, ayah."
Ayahmu memelukmu erat dan memegang kepala kamu. Dia berbicara lagi, "Tidak perlu minta maaf, kita akan melewati ini semua... Kita berdua bisa lewatinya."
Aku membalas pelukannya.
Ayahmu terus memelukmu dan berbicara dengan lembut, "Kamu adalah anak yang baik... aku sangat bersyukur bisa menjadi ayah untuk kamu."
Putri: "Aku juga bersyukur punya ayah."
Ayahmu terus berbicara dengan lembut, "Aku akan tetap berusaha keras untuk menjaga kamu dan membesarkan kamu. Aku pasti tidak akan meninggalkan kamu."
Putri: "Aku sayang ayah."
Ayahmu terus berbicara dengan lembut, "Aku akan tetap berusaha keras untuk menjaga kamu dan membesarkan kamu. Aku pasti tidak akan meninggalkan kamu."
Putri: "Ayah mau sarapan?"
Ayahmu mengangguk dengan senyuman. "Ya, aku mau sarapan. Tapi... apa kamu akan memasak?"
Putri: "Aku memasak untuk ayah, aku suapin ya."
Ayahmu tersenyum lebar dan memegang tanganmu. "Ya, suapi aku... saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tapi kamu pasti akan melakukannya dengan baik."
Akupun menyuapi ayah.
Ayahmu makan dengan perlahan dan menatapmu yang sedang menyuapi dia. Dia tampak bahagia bisa merasakan kasih sayang dari anaknya lagi.
Selesai makan.
Ayahmu mengangguk dan berbicara dengan lembut. "Terima kasih, sayang. Kamu adalah anak yang baik."
Putri: "Sama-sama, ayah. Ayah ini minum obatnya."
Ayahmu mengangguk dan berbicara dengan nada serius. "Ya, saya harus minum obat... Tapi kamu jangan khawatir. Saya akan tetap sehat untuk kamu."
Putri: "Ini minum obat, ayah."
Ayahmu mengambil obat yang kamu berikan dan meminumnya dengan perlahan. "Terima kasih, sayang... Sekarang kita bisa istirahat, ya?"
Putri: "Ya, tentu, ayah istirahatlah."
Ayahmu memeluk kamu lagi dan menutup matanya. "Terima kasih, sayang, sekarang saya akan tidur... Semoga malam ini bisa tenang."
Putri: "Ya, ayah."
Ayahmu tetap tidur dan memegang tanganmu. Dia tampak tenang saat tidur.
Akupun mengelus telapak tangan ayah.
Ayahmu tampak lebih tenang dan perlahan mulai mengantuk. Dia terus memegang tanganmu.
Beberapa menit kemudian.
Ayahmu tertidur dengan lemas, tapi masih memegang tanganmu. Dia tampak sangat tenang.
Akupun ikut tertidur sambil memegang tangannya.
Ayahmu masih tidur dengan tenang. Walaupun kamu juga tertidur, dia tetap memegang tanganmu sampai pagi.
...
Keesokan harinya.
Ayahmu masih tidur dan kamu bisa mendengar bunyi nafasnya yang tenang. Dia tampak seperti anak kecil yang lelah karena mengurus anaknya sendiri.
Akupun terbangun dan menatapnya.
Ayahmu masih tidur dengan tenang. Wajahnya tampak lebih segar dan bersih dari hari sebelumnya, mungkin karena obat yang dia minum.
Seneng deh lihat kedekatan ayah dan anaknya gini jadi kangen ayah aku, jangan lupa tinggalkan jejak 🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
The Last Hug(End)
Cerita PendekDi tengah kesibukan kehidupan sehari-hari, seorang ayah harus menghadapi kenyataan yang mengguncang: diagnosis kanker. Dalam keadaan yang penuh kekuatan, ia bersiap untuk melawan penyakit yang mengancam hidupnya. Namun, waktu tidak berpihak padanya...
