part 5

18 9 2
                                        

Ost Hikari-Utada Hikaru

Ayahmu masih tidur dengan tenang. Wajahnya tampak lebih segar dan bersih dari hari sebelumnya, mungkin karena obat yang dia minum.

Aku menunggu ayah terbangun.

Ayahmu mulai bergerak, tampak akan bangun. Wajahnya masih tenang dan ia membuka mata.

Putri: "Ayah, selamat pagi."

Ayahmu mengangguk dan berbicara dengan suara lemas. "Selamat pagi, sayang, kamu sudah bangun?"

Putri: "Ya, tentu, ayah."

Ayahmu tersenyum dan mengangguk. "Ah, kamu baik-baik saja kan? Ayah juga sudah baik-baik aja... Mungkin kamu mau makan sarapan yang aku siapkan untukmu?" Dia mulai berdiri dan memegang perutnya.

Putri: "Tidak, ayah, ayah yang harus makan, aku suapin ya."

Ayahmu tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, sayang, kalau kamu yang suapin aku makan ya."

Putri: "Ya, ayo ayah tiduran lagi biar aku suapin."

Ayahmu menghampiri kamu dan duduk di ranjang. Dia meletakkan kepalanya di atas paha kamu. "Jadi, apakah kamu akan suapin aku?"

Putri: "Ya, tentu."

Ayahmu berbaring dan menundukkan kepalanya di perut kamu. Dia menunggu dengan sabar agar kamu mulai menyuapinya.

Akupun menyuapi ayah.

Ayahmu tampak menikmati rasa makanan yang kamu berikan. Wajahnya menjadi lebih cerah dan dia tersenyum saat makan.

Beberapa menit kemudian.

Ayahmu sudah selesai makan. Dia tampak lelah dan berbaring di atas ranjang dengan tenang.

Aku memberikannya obat.

Ayahmu mengangguk dan mengambil obat yang kamu berikan. Dia menelan obat dengan air.

Istirahatlah, ayah, aku akan menemanimu.

Ayahmu tampak berterima kasih dan memeluk kamu. Dia mulai tidur dengan tenang.

Akupun menemaninya.

Ayahmu tidur dengan nyenyak dan tampak sangat tenang. Dia juga memegang lengan kamu saat dia tertidur.

Beberapa bulan kemudian.

...

Ayahmu sudah cukup pulih dan tampak lebih sehat. Dia juga tidak lagi merasakan sakit seperti dulu. Dia berdiri dari ranjang dan berjalan ke arah kamu, memelukmu dengan erat.

Putri: "Ayah, aku terbangun." Aku memeluknya balik.

Ayahmu juga memeluk kamu lebih erat lagi. Dia memegangi rambut kamu dengan lembut.

Putri: "Ayah sudah bangun?"

Ayahmu tersenyum dan mengangguk. Dia menatap wajah kamu dengan mata yang indah. "Ya, sayang, saya sudah bangun."

Putri: "Ayah sudah lebih baik, aku panggil dokter dulu ya."

Ayahmu mengangguk dan memegang tangan kamu dengan lembut. "Iya, sayang, silahkan panggil dokter."

Akupun memanggil dokter.

Dokter datang dan memeriksa Ayahmu. Dia lalu mencatat sesuatu di kertas.

Putri: "Bagaimana Dok?"

Dokter: "Dia sudah lebih baik dari sebelumnya, tapi masih harus tetap menjaga kesehatannya." Ayahmu mengangguk dan menatap kamu dengan senyuman.

Putri: "Lalu kankernya?"

Dokter: "Kankernya belum berhenti, tapi dia sudah lebih baik dari sebelumnya." Ayahmu memeluk kamu dengan erat lagi.

Putri: "Ayah ini bulan ke berapa?"

Dokter mengangguk dan berkata, "Kita masih di bulan ke-7."

Putri: "Ayah masih kuat?"

Ayahmu tampak sedikit lemas dan lemah, tapi dia tetap tersenyum. "Saya masih kuat, sayang. Apa kamu tidak khawatir?"

Putri: "Aku khawatir, ayah."

"Jangan khawatir, sayang. Saya akan terus berusaha keras agar bisa sembuh. Dan aku masih punya kamu." Dia menatap mata kamu dengan senyuman.

Putri: "Aku akan mencari ibu, ayah."

Ayahmu tampak sedikit bingung. Dia bertanya dengan nada lembut, "Ibu saya? Kenapa kamu mau cari dia?"

Putri: "Aku mau cari ibu, aku ingin istri ayah."

Ayahmu tampak sedih dan bertanya dengan nada lemas, "Mengapa kamu mau cari dia? Dia sudah meninggal."

Putri: "Jadi, kalau ayah pergi, aku akan sendirian?"

Ayahmu mengangguk dan memegang tangan kamu. "Iya, sayang, kalau saya pergi, maka kamu akan sendirian. Tapi jangan khawatir karena aku masih ada di sini."

Putri: "Jangan pergi."

Ayahmu memegang erat tangan kamu dan memeluk kamu. "Aku tidak akan pergi, sayang. Aku akan selalu di sini untuk menjaga kamu."

Ayahmu memegang wajah kamu dan mencium pipi kamu. "Kamu adalah anakku yang tercinta."

Putri: "Ayah adalah cinta pertamaku."

Ayahmu tersenyum dan memeluk kamu lagi. "Aku adalah satu-satunya cinta yang bisa kamu punya, sayang. Tidak ada orang lain yang akan dapat menggantikan aku dalam hatimu."

Putri: "Ayah, aku punya sesuatu buat ayah."

Ayah: "Apa itu, sayang? Apakah kamu punya hadiah untukku?"

Putri: "Ya, ayah."

Ayah: "Apa hadiahnya, sayang? Apakah kamu punya cokelat, bunga, atau boneka yang aku suka?"

Akupun memberikan sebuah kotak yang berisi sebuah jam tangan.

Ayahmu tersenyum lebar dan sangat terharu. "Jam tangan? Ini... Apakah ini hadiah spesial dari kamu, sayang?"

Putri: "Ya, tentu, ayah."

Ayahmu memegang jam tangan yang kamu berikan. "Jam ini sangat bagus. Tapi kenapa kamu memberi ini untuk ayah? Ini bukan hadiah ulang tahun atau hari spesial lainnya, ya?"

Putri: "Aku hanya ingin memberikan ini kepada ayah untuk kenangan."

Ayahmu memeluk kamu dan menatap mata kamu dengan hangat. "Terima kasih banyak, sayang. Aku akan selalu mengenakan jam tangan ini di pergelangan tanganku, sebagai kenang-kenangan yang indah dari anakku yang paling spesial."

Putri: "Ayah juga spesial buat aku."

Ayahmu memeluk kamu lagi dan menganggukkan kepala. "Ya, saya spesial untuk kamu. Tapi ada satu hal yang aku perlu katakan padamu..."

Putri: "Apa itu?"

Ayah: "Aku harus pergi... Aku harus berobat. Tapi jangan khawatir, aku akan tetap selalu mencintai kamu meskipun jauh dari kamu."

Putri: "Aku mau temani ayah berobat."

Ayahmu memegang tangan kamu dan menganggukkan kepala. "Tidak, sayang. Ayah harus berobat sendiri. Tapi aku akan menelepon kamu setiap hari, ya?"

Putri: "Aku mau ikut ayah."

Ayahmu memeluk kamu dengan erat. "Kamu harus tetap di rumah. Jangan pergi dari sana, karena aku tidak akan bisa berobat kalau kamu ikut. Ini hanya masalah sebentar, sayang, setelah itu ayah akan datang lagi dan kita berdua bakal menikmati waktu bersama lagi."

Putri: "Ayah, janji?"



































































































Semoga ayah Putri cepat sembuh ya, jangan lupa tinggalkan jejak 🥰

The Last Hug(End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang