3 : Pop mie

9 2 0
                                    

Arlo mengakui, tempat servis ponsel yang direkomendasikan oleh Asha ini terbilang bagus sekali. Memang tempatnya agak tersembunyi dan masuk ke dalam gang, tapi pelayanannya tak lagi perlu diragukan.

Mas-mas tukang reparasi HP itu bertanya keluhan yang Arlo miliki, tipe hp nya, dan kemudian bilang kalau dalam dua hari akan dihubungi kembali. Dikarenakan tak punya nomor lain untuk dihubungi, Asha pun memberikan nomernya dan meminta tolong untuk diberitahukan kalau HP milik Arlo sudah benar.

Mereka tak berlama-lama di sana. Hari sudah terlalu petang. Sebentar lagi sepertinya magrib akan berkumandang, setelah dari sana, mereka pun langsung pulang.

Ini mungkin perasaan Arlo saja, atau memang sejak pulang dari rumah Anin hingga mampir ke counter hp, Asha lebih banyak diam.

Bahkan di sepanjang jalan pun demikian. Nyaris tidak ada percakapan diantara mereka andai saja Arlo tidak lebih dulu buka suara.

"Sha.." panggil Arlo.

Tidak ada respon.

"Asha!!"

"Ih! Apaan?"

Cengiran Arlo terbit membayangkan kening cewek itu yang kini berkerut dongkol.

"Lo sakit gigi?"

"Gak."

"Sariawan?"

"Astaga, enggak!" seru Asha setengah berteriak. "Apaan sih, Arlo! Mulai nggak jelas deh."

Arlo melirik ke kaca spion bentar. "Trus kenapa diem?"

"Ya lo mau gue ngapain? Goyang upin ipin?"

"Boleh," goda Arlo. Terkekeh tak menduga atas jawaban yang Asha lontarkan. "Pingin liat gue."

Gigi Asha bergemeletuk sebal. Ekpresinya makin bertambah masam. Bibirnya mengerucut tak senang.

"Nyebelin banget!"

Salah satu alis Arlo naik beberapa mili. Tak tau apa yang sedang gadis diboncengannya ini pikirkan hingga berkeluh kesah sedemikian kesal.

"Sha," panggil Arlo untuk kedua kalinya.

Untuk yang ini ada jawaban.

"Hm."

Setelah menimang sejenak, dan membuat keputusan secara sepihak. Arlo mengambil rute berputar dan mulai mengendarai di jalur yang berlawanan dengan jalan pulang.

Asha yang terima di bonceng hanya bisa membuka mulut dengan wajah bingung. "Kok balik lagi?"

"Di depan tadi kita ngelewati Alfamidi."

Itu jawaban yang tidak nyambung sama sekali. "Trus?"

"Lo mau pop mie?"

***

Ada yang pernah bilang padanya hal tersulit yang dilakukan adalah menolak makanan. Apalagi gratis! Nikmat mana lagi yang kamu dustakan?

Iya sih, Asha awalnya sok jaim menolak ajakan Arlo.

Namun karena cowok itu cukup memaksa, akhirnya Asha pun menerima. Walau tak dapat dipungkiri hatinya sedikit.. Benar-benar sedikit berbunga-bunga.

Cepat Asha menurunkan lengkungan garis bibirnya yang tertarik bersemangat keatas begitu melihat Arlo yang keluar dengan dua cup pop mie di tangan. Samar-samar dari bibir cup mie itu mengeluarkan kalor yang mengepul-ngepul.

Aromanya yang khas mampu memanjakan indra Asha hingga senyum yang ia paksa luruh itu terbit seketika. Bahkan lebih lebar dari yang tadi.

Kelas Simulasi Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang