5 : Lima detik

6 2 0
                                    

"Arlo, dimana?"

Asha mengedarkan pandangan di sekitar, mencoba menemukan sosok cowok itu diantara orang-orang yang ada di sana.

"Sabar, baru mau keluar lift ini."

"Gue udah di lorong. Belum liat lo."

Di ujung sambungan telpon ada denging berisik yang cukup menganggu. Sepertinya disekitar cowok itu sedang ramai sekarang. Refleks Asha sedikit menjauhkan telepon dari telinga.

"Tunggu lagi jalan," tukas Arlo dari sebrang.

"Jangan dimatiin telponnya."

Dengusan terdengar. Sabar, Arlo menuturkan, "Iya."

"Masih lama?"

"Bentar lagi. Lo di lorong mana?"

Asha mencari-cari petunjuk disekitarnya. "Deket ruang polio. Ada vas bunga imitasi juga disini."

"Oke. Gue udah liat lo."

Gadis itu menoleh kanan-kiri. Mencari-cari.

"Kok gue nggak liat lo."

Tangan besar seseorang tetiba saja merangkul leher Asha, dan wangi maskulin yang khas seketika menguar. Aroma tropical bercampur aquatic. Aroma seseorang yang sangat Asha kenal.

"Oi!"

Begitu berbalik badan, dan mendongak. Satu geplakan tangan dengan kekuatan penuh meluncur mulus menganiaya  punggung si laki-laki hingga meninggalkan bekas kemerahan yang samar.

"Aduuhh!" ringis Arlo. Mengusap-usap punggungnya yang terasa panas. "Sakit, Sha.."

"Lo tuh ya!" Asha menatap Arlo gregetan. "Minimal kasih tau gue juga kalau Tante masuk rumah sakit! Tadi siang gue udah mikir kalau lo kabur nggak mau ikut kunjungan karena ada hal yang nggak penting! Hampir aja gue berburuk sangka sama lo tauuu!"

Alih-alih merasa bersalah, cowok itu nyengir kuda.

Rentetan omelan Asha yang mengalahkan panjang kereta terlihat lucu di matanya. Iya, kayanya Arlo udah mulai gila.

Kedua tangan Asha menolak di pinggang. Padahal ia sangat serius dengan apa yang ia katakan, tapi Arlo menganggapnya bak guyonan.

"Arlo, lo itu dengerin gue nggak sih?!"

"Ya kan cuma pemeriksaan biasa. Ngapain ngasih tau lo juga."

Pelototan Asha kian bertambah garang. Disusul aksi penganiayaan mendadak lain yang lagi-lagi luput Arlo antisipasi. Dia dalam posisi tak siap begitu Asha mencubit pinggangnya.

"Aih, sakiiiit!" ringis Arlo nelangsa.

Kalau terus begini, bisa-bisa bukan hanya Mami-nya saja yang dirawat, Arlo kemungkinan jadi ikut-ikutan berobat.

Asha melengos tak peduli.

Mengambil tapakan pertama, Asha memimpin langkah sembari bertanya, "Tante di kamar nomor berapa?"

"205." Di belakangnya, Arlo membuntuti.

"Tante gimana sekarang?"

"Tadi hipertensinya kambuh lagi. Sempet tinggi, tapi ini udah mendingan sekarang. Udah turun kok."

"Lo-nya juga sih! Sekali-kali jadi anak baik apa susahnya sih, Arlo. Tiap hari cuma bisa bikin Tante darah tinggi aja."

"Percuma juga. Bagi Mami, gue diam aja tetap dianggap salah."

Di persimpangan koridor, Asha merasakan sentuhan tangan di pundak yang memutar badannya secara otomatis.

"Belok kanan." Arlo memperingatkan.

Kelas Simulasi Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang