Kelas X-4 gempar!
Sebagai wali kelas X-4, Bu Lani sudah memprediksi bilamana hal ini akan terjadi. Maka jauh-jauh hari, ia sudah mengantisipasi dan berdiskusi bersama Asha selaku ketua kelas untuk memberitahukan dan mengarahkan lebih lanjut pemahaman para siswa-siswi X-4 yang lain agar terpresuasif dan ikut menyetujui tanpa kata tapi.
Asha berdeham keras sekali. Sengaja, agar semua atensi teralihkan padanya.
Selesai dengan kewajibannya membuka pengumuman terkait akan diadakannya kelas simulasi, Bu lani pun kembali ke mejanya dan mendudukan diri.
Kini auditorium kelas menjadi milik Asha seutuhnya.
"Seperti kata Bu Lani tadi, bahwa kegiatan ini tidak akan menganggu jam pelajaran dan kegiatan akademis kita selama di kelas maupun di sekolah. Malahan sebaliknya, kita diberi wadah dan kebebasan berekplorasi dengan kapasitas yang jauh lebih banyak dan tanpa batas!"
Beberapa anak saling pandang memandang.
Banyak yang masih tidak paham.
"Contohnya begini, kalian pernah nggak liat vlog the day on my life, atau mini vlog dari seorang blogger yang disetel di durasi 5 atau 10 menit aja?"
Kompak, mereka mengangguk.
"Nah, kelas simulasi itu juga sama. Secara sederhananya, kelas simulasi itu mendokumentasikan kegiatan para murid yang sedang belajar di kelas dalam bentuk rekaman video audio. Kaya vlog-vlog sederhana yang biasanya kalian liat di Youtube Short, dan Tik Tok itu. Hanya saja kelas simulasi ini jangkauannya lebih multi dan kompleks lagi."
"Jujur ya, aku tau perasaan kalian sekarang. Nggak menyangka dan masih bertanya-tanya, ini beneran nggak? Soalnya selama ini kita cuma sekedar tau aja, kan? Memang kesempatan eksklusif kaya gini nggak bisa didapatkan sembarangan. Beruntungnya sekolah kita tahun ini mendapatkan kesempatan. Lebih beruntungnya lagi! kelas kita yang dipilih mewakili nama Pelita Bangsa untuk kegiatan kelas simulasi nantinya."
"Sha.." Dika mengangkat tangannya. Setelah mendapatkan konfirmasi positif, ia melanjutkan, "Lo sebagai ketua kelas pasti tau sendiri kan keadaan kelas kita seperti apa. Bukan bermaksud rendah diri, tapi.. lo yakin mau menyetujui hal ini?"
"Ya, realistis aja sih, kita ngerasa belum mampu, Sha. " Cheril menyuarakan pendapatnya.
"Bukannya bermaksud keberatan, tapi kalau kita gagal takutnya nanti citra Pelita Bangsa yang jadi tercemar," tukas Fahmi.
"Halah, pede aja."
Khusus untuk hari ini, Asha setuju dengan celetuk Faiz barusan. Gadis itu tersenyum.
"Pede sih pede, tapi risikonya itu loh.. kaya, serius nih kita yang kaya gini dikasih tanggung jawab sebesar itu? Ya emang kedengarannya kelas simulasi ini seseru itu, tapi tetap aja kan kita bawa nama sekolah kita nantinya. Iya kalau berakhir baik, tapi kalau buruk gimana? Adanya kita nanti bakal jadi acuan penilaian semua orang tentang Pelita Bangsa. Iya kalau memuaskan dan sesuai dengan ekpekrasi yang diharapkan. Kalau.. gagal?" Cheril mengedarkan pandangan ke para teman-temannya yang lain. "Citra Pelita Bangsa yang jadi taruhannya."
"Maaf. Kita belum siap, Sha," seru mereka nyaris bersama.
Air muka Asha tak banyak mengalami perubahan. Ia tetap tenang, walau kini kelas jadi berisik dengan bisikan dan diskusi tumpang tindih dari para teman sekelasnya yang rata-rata menyerukan keberatan.
Nggak. Ini belum berakhir. Bahkan Asha belum mengatakan alasan paling krusial yang barangkali bisa merubah pikiran semua orang.
Bukan tentang royalti 100% dari Studi-TV itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Kelas Simulasi
Ficțiune adolescențiDaftar pengurus kelas X 4. Ketua kelas: Alaya Asha. Dipandanginya papan pengurus kelas itu dengan perasaan nestapa. Ia menghela napas. Teramat gundah gulana. Seolah segala beban di dunia kini berpindah di kedua pundak ringkih Asha. Jika ada yang bi...