09 - Bantuan

98 17 6
                                        

Awalnya Geon kira mereka berdua sudah dekat dengan jalanan namun ternyata dia salah. Mereka justru semakin masuk kearah hutan hanya saja melewati arah yang lain.

Lengannya terasa mati rasa. Sudahlah tergores pagar besi, ditambah lagi dia harus membantu rivalnya berjalan. Meskipun Gibran terlihat ogah-ogahan, namun apalah daya, dia tidak bisa melangkah tanpa bantuan sang musuh.

Pupil mata Geon melebar kala melihat seorang anak laki-laki yang tengah mengumpulkan kayu bakar. Geon yakin jika ini adalah bentuk dari doa yang semalam ia panjatkan.

"Hei! Tolongin gue!" teriak Geon.

Anak laki-laki berbadan kurus itu menoleh, dia terkejut dan dengan ketakutan anak itu mendekat. Dia tidak berani menatap Geon melainkan hanya menatap Gibran yang tengah terduduk lemah.

"Ke-kenapa Kak?" tanyanya dengan nada gemetar.

"Temen gue sakit,kami tersesat, boleh nggak kami istirahat sementara di rumahmu?" tanya Geon ramah meskipun kesal bukan main karena harus mengatakan bahwa Gibran adalah temannya.

Anak itu masih ketakutan saat menatap Geon. Dia hanya berani menatap Gibran.

Wajar saja karena wajah Geon jauh lebih menyeramkan daripada Gibran. Meskipun kenyataannya Geon lebih memiliki hati yang lembut daripada Gibran.

Setelah berulang kali meyakinkan jika mereka bukan orang jahat, akhirnya anak laki-laki itu setuju. Dia akhirnya mengizinkan Gibran dan Geon untuk beristirahat di rumahnya.

Awalnya Gibran dan Geon senang karena kemungkinan mereka akan cepat kembali menemukan jalanan namun kenyataannya tak semanis itu. Anak laki-laki itu justru berjalan memasuki hutan semakin dalam.

Cukup lama bereka berjalan hingga akhirnya sampailah mereka di sebuah pemukiman. Ada satu rumah besar dan jarak yang cukup jauh terdapat beberapa rumah lain yang berukuran jauh lebih kecil dan kumuh.

Rumah-rumah kecil itu terbuat dari kayu sederhana dan langkah anak laki-laki itu menuntun mereka memasuki rumah kecil paling ujung.

Gibran dan Geon mendapatkan penyambutan yang baik dari si tuan rumah. Mereka diberikan makanan, diperbolehkan untuk membersihkan badan sekaligus mendapatkan pakaian baru yang lebih layak.

Meskipun sudah lebih banyak berinteraksi, nyatanya anak itu masih saja ketakutan melihat Geon dan lebih memilih bersama Gibran. Seandainya anak itu tahu jika Gibran adalah manusia jahat yang sebenarnya.

Mereka berkenalan, dan berbincang-bincang cukup banyak hingga akhirnya duo G itu menemukan fakta mencengangkan mengenai pemukiman ini.

"Aku Panji. Umurku 12 tahun. Aku sudah tinggal di sini sejak aku berumur 5 tahun." Panji menjelaskan.

Geon terkejut. "Maksudnya? Lo pindahan?"

Panji menggeleng, dia menjelaskan dengan nada gemetar. "Aku tidak tahu ini di mana. Yang aku ingat, aku sedang menikmati bermain wahana rumah hantu di pasar malam. Aku rasa, aku pingsan waktu melihat hantu dan saat terbangun aku sudah ada di sini, bersama nenek."

Gibran dan Geon saling tatap. Ini kasus penculikan.

"Kami semua yang ada di sini, di suruh bekerja. Mencari kayu bakar, berkebun dan beternak kambing. Nantinya kami akan dibayar oleh Tuan pemilik rumah besar. Uang itu nantinya kami gunakan untuk membeli pakaian dan kebutuhan lain."

"Beli? Darimana? Lo bilang ini jauh dari jalan besar?" tanya Gibran penuh keingintahuan.

"Ya dari Tuan pemilik rumah besar. Tapi harganya mahal sekali. Harus mengumpulkan uang selama berbulan-bulan," ucap Panji menjelaskan.

"Nggak ada keinginan kabur?" tanya Geon.

Panji mengangguk. "Aku pernah diajak kabur salah satu warga. Tapi ternyata untuk sampai ke jalan besar itu jauh sekali. Belum juga kami sampai, kami sudah dihadang anak buah Tuan besar."

"Jadi singkatnya kalian itu tawanan?"

Panji mengangguk.

Penduduk di sini bukan hanya anak-anak seperti Panji melainkan juga wanita muda dan juga orang berusia diatas 60 tahun. Mereka memungkinkan masih bisa bekerja dan meminimalisir kejadian melarikan diri.

"Panji, sudah makan belum? Nenek sudah buatkan ubi rebus." Seorang nenek tua masuk ke rumah dan terkejut ketika melihat orang asing di rumah Panji.

Sontak, sang nenek langsung menjatuhkan ubi rebus yang dibawanya. Badannya langsung menunduk dan menatap kebawah. Dengan gemetar dia mencoba mengeluarkan kalimatnya.

"Ampun tuan, jangan siksa Panji. Dia hanya anak kecil biasa. Aku hanya memberinya ubi agar dia tidak kelaparan, agar dia tetap bisa bekerja seperti biasanya." Sang nenek masih menunduk sebelum akhirnya Panji mendekat, menenangkan wanita paruh baya itu.

"Nenek, mereka bukan anak buah Tuan Jaka, mereka orang yang tersesat."

Nenek tua itu langsung menatap Gibran dan Geon. Menelisiknya cukup lama. Dia mengangguk saat menatap Gibran namun dia hanya melirik saat matanya bertemu dengan Geon.

"Aku ragu. Kamu pasti anak buah Tuan Jaka. Penampilan kamu hampir sama seperti mereka."

Geon hanya tersenyum dan mengangguk ramah. Sialan, gara-gara wajahnya galak serta rambut gondrongnya, dia sering dikira preman. Enak saja Gibran, mentang-mentang wajahnya polos, orang bahkan tak tahu jika anak itu pernah membunuh orang tuanya.

"Dia teman saya," ucap Gibran yang menjadi penyelamat bagi Geon. Karena jika tidak, pasti dia akan dicurigai oleh si nenek dan semua orang yang ada di sini.

Si nenek mengangguk percaya. Entahlah, Nenek itu sepertinya terkena pelet dengan Gibran. Dia tiba-tiba saja merasa iba setelah mendengarkan Geon yang mengatakan jika mereka bisa sampai disini karena dikejar oleh warga gadungan.

Gibran hanya mendengus. Geon ini memang tidak pandai berbohong demi ketenangan. Maka dari situlah Gibran akhirnya tahu jika ketua Zhero itu memang payah. Pantas saja dia tidak pernah menyusun strategi perang dan justru mengandalkan anggota intinya. Gibran selangkah lebih maju kali ini.

...

Keesokan harinya, seluruh warga akhirnya mengetahui keberadaan Gibran dan Geon. Mereka yang kebanyakan anak-anak dan lansia merasa senang. Mereka beranggapan bahwa dua pemuda itu bisa membantu mereka dalam bekerja dibawah tekanan.

"Jaka, gue kayak familiar." Geon mencoba mengingat-ingat dan seketika dia terdiam.

Gibran melihatnya namun cowok itu sama sekali tidak merasa ingin tahu. Lagipula Cemen sekali Geon ini. Gibran bisa saja melumpuhkan pria bernama Jaka itu dan memaksanya mengantar ke kota. Namun, alih-alih melakukan hal itu, dia memilih untuk diam dan berpura-pura lemah.

...

Sementara itu Resha tengah membersamai Alvares menghadapi Scorpio yang dipimpin oleh Alan, si pengkhianat.

Setiap mengingat fakta di mana Alan adalah orang yang tega melukai kakanya, Resha pasti merasa api tengah berkobar di ubun-ubun. Dia merasa bahwa Alan tidak pantas untuk diterima sebagai manusia.

"Mengkhianati Alvares, mengkhianati Bang Gibran, lo nggak pantas hidup." Resha tersenyum saat matanya bertemu tatap dengan Alan.

Cowok yang dulunya sering diledek julid itu hanya membalas dengan senyuman sinis. "Mana Abang lo? Kok nggak mimpin pasukan? Mati ya?"

Hanya dengan mendengar ucapan Alan, Resha langsung mengepalkan tangannya dan menghantam Alan dengan kekuatan penuhnya.

Meskipun jarak usianya dengan Alan lebih dari 12 tahun, hal itu tak membuat Resha takut. Emosi dan dendanya berhasil mengalahkan ketakutannya.

Satu kalimat dari Alan membuat Resha terdiam sebelum akhirnya dia limbung dan terjatuh setelah merasa terhantam benda tumpul.

"Gue yang jebak Gibran, kemungkinan sekarang dia udah tinggal nama."

...

WITH GIRESHA | GIRESHA 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang