WhatsApp Message
Kapten Adya : De, angkat teleponnya.
Kapten Adya: De, kucingnya Zhao Lusi lahiran. Masa kamu gak mau jengukin baby nya.
Kapten Adya: De, Go send in seblak dong. Mupeng nih, liat postingan kamu. Atau kamu buka gerai aja kali yak, dekat kampus Abang. Nanti jadi tren 2022 tuh, Seblak go to Shanghai.
Kapten Adya: De, De, de de deee...
Me : Paansik?, Rusuh banget.
Kapten Adya: De, tau gak?
Me : Gak tau.
Kapten Adya: belom sayangku
Me : iye, ape?
Kapten Adya: Barusan kan Abang beli obat tidur di apotek,
Me: Alprazolam? Dosis berapa?
Kapten Adya: Dengerin dulu
Me: hmm, iya, gimana?
Kapten Adya: Abang beli obat tidur kan, abis itu Abang bawanya pelaaan banget.
Me: bawa mobilnya?, yaa emang kalau dosisnya tinggi, cepet banget efeknya. Makanya minumnya dirumah aja pas mau tidur.
Kapten Adya: tanya dong, kenapa Abang pelan bawa obatnya.
Me: yaampun ribetnya, iye kenapa tuh☺️😤?
Kapten Adya: Kalau gak pelan takutnya nanti bangun, kan obatnya tidur.
Me: 😌😌😌😏 Gelud yok...😤
And et Cetera....
Si paling Spam WhatsApp cuma untuk share jokes jokes recehannya yang gak mutu. Si paling Video call, cuma mau nunjukin hamster-nya yang lagi Gelud atau lahiran. Si paling annoying, tengah malam kirim video random, isinya hantu Malaysia yang lagi debat sama Poci, perkara siapa yang mau duluan nakut nakutin manusia yang lagi lewat depan gang kuburan. Dan masih banyak lagi jokes receh Abang lainnya yang memenuhi memori ponselku. Memori tiga tahun silam pasca tragedi itu.
Momen dimana aku benar-benar merasa bahwa dunia sedang menghentikan rotasinya. Menarikku lebih dalam ke dasarnya. Menghimpitku dengan segala kekuatannya.
Aku kehilangan fokus, setiap hari begitu berat menjalani hidup, sedih berkepanjangan, blame myself, menyesali bahwa akulah penyebab kedua orangtua ku pergi.
Ditengah segala kesibukannya di negara bambu sana, mulai dari kuliah, develop start up, dan kesibukan lainnya, Abang selalu berusaha siaga untukku. Meski tidak hadir secara fisik, tapi dukungan secara moril maupun materil sepenuhnya ia berikan.
Dia, Adya Sakha Abimana, yang paling berjasa dalam pemulihan kesehatan mentalku. Padahal, dia lebih rapuh dari yang kukira. Tapi, kenapa sih cowok tuh selalu gengsi buat ngeluarin airmata. Apa karena gak mau dipandang lemah sama wanita?
Aku jadi teringat satu momen sendu bersama Baba, saat kami sedang sparing Father with Daughter Time.
******
"Putri Baba sudah siap?" Tanya Baba di balik pintu kamar.
Aku yang baru selesai touch up dan sedikit merapikan jilbab, segera menyambar knop pintu untuk menemui tuan rajaku.
"I'm ready My heros, to spend our date tonite."
"Nice, so beautiful my sweet heart. Here we go!" Baba melingkarkan tangan kanannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sakeena's Journal (From This => Fraternal, To This => Marital)
Teen FictionSakha dan Sakeena telah tumbuh bersama sejak kecil dalam keyakinan bahwa ikatan mereka terlibat karena hubungan sedarah. Namun keadaan berubah drastis saat hal besar terungkap, hingga membuat Sakha mengambil tindakan nekat, demi melindungi perempuan...
