Bab 37

9.3K 429 10
                                        

Happy Reading













Sore hari di kediaman keluarga Gixxer sudah seperti kapal pecah, mainan balok berserakan di mana-mana, potongan puzzle yang saling terpisah, bahkan ada potongan-potongan roti yang sudah hancur tak terbentuk di karpet ruang tamu.

Sang pelaku hanya acuh dengan keadaan sekitar, fokusnya kini sudah beralih kepada iPad yang tengah menayangkan kartun Ejen Ali.

Fira yang baru saja selesai mandi sore hanya menggelengkan kepalanya, anak bontotnya benar-benar seperti anak umur lima tahun.

"Adek, mandi yu sayang udah sore" Ujar Fira sedikit merapihkan mainan El agar tidak keinjak.

"Nanti Bundaaa" Membuang kotak susunya sembarangan lalu membalikkan posisi tubuhnya membelakangi Fira.

"Udah sore, nanti kalau Papa tau Adek belum mandi bisa di marahin Papa"

"Iya nanti Bundaa"

"Sekarang sayang, tuh udah jam lima loh"

"Ishhh bunda nanti ihhh"

Fira mengambil box mainan El yang terletak di pojok ruangan, memunguti mainan El satu persatu lalu memasukkan nya kedalam box besar tersebut.

Tidak lama Bara keluar lift dengan tampilan yang sudah rapih, sepertinya baru saja selesai mandi sebab dari siang Bara bekerja di rumah tidak pergi ke kantor setelah makan siang.

"Kotor amat sih, maid pada kemana?" Tanya Bara sambil mendudukkan dirinya di sofa tunggal.

"Ada, ini sengaja aku rapihin biar nanti maid yang bersihin"

Bara menganggukkan kepalanya, tatapan matanya tertuju ke anaknya yang tengah rebahan dengan iPad di hadapannya.

Pakaiannya sudah kotor oleh coklat dan rempah-rempah roti, bahkan rambutnya sudah lepek padahal AC ruang keluarga full bahkan sangat dingin.

Bara bangkit dari duduknya, ia mengambil iPad dengan cara paksa. El yang kaget atas perlakuan sang papa merengut kesal.

"PAPA APA-APAAN SIH!!" El tidak sengaja meninggikan suaranya.

Bara menaikan alisnya, wah sudah jago si bontot sepertinya.

"Lihat jam, sudah waktunya kamu mandi"

"Iya nanti, itu Ejen Ali nya belum selesai"

"Mandi!!"

Bara menggendong El paksa, ia akan memandikan El langsung di kamarnya. Jika tidak dipaksa El akan terus bermain hingga malam hari.

Bara tetaplah Bara, pria dengan kesabaran setipis tisu itu harus selalu berkelahi dengan El si anak yang sangat sulit di atur.

Semenjak El lulus SMA keseharian nya hanya berdiam di rumah.

Tepat lima bulan yang lalu El telah lulus SMA dengan nilai tertinggi di angkatannya, tentu Bara, Fira dan Ernest sangat bangga dengan El.

Ketiga sahabat El keterima di universitas negeri di luar kota, mereka kini sudah menentukan jalannya masing-masing.

Sebenarnya El keterima di dua universitas negeri sekaligus dan di satu universitas luar negeri namun dari ketiga kampus itu tidak ada yang di ambil oleh El karena faktor keluarganya yang tidak mengizinkan El berkuliah jauh dari orang tua dan keluarganya.

ELBARACKTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang