PELUK AKU SEKALI SAJA, AYAH!
"Apa ini? Kamu berulah lagi?" Farhan melemp4r selembar kertas ke udara. Emos1nya perlahan mulai naik karena ulah Mika, sang putri yang telah beranjak remaja. Farhan mendapat surat panggilan dari sekolah tempat putrinya itu belajar, karena Mika telah keperg0k membolos sekolah.
Farhan merasa heran dengan Mika yang selalu saja membuat masalah, dia sudah bosan mendapat surat panggilan dari sekolah Mika. Selalu saja ada ulah Mika yang membuat Farhan hilang kesabaran.
Farhan baru saja pulang dari bekerja ketika melihat selembar kertas tergeletak di meja kamarnya. Dia pun langsung mengambil kertas tersebut dan membacanya. Farhan menggelengkan kepala begitu mengetahui isi dari surat tersebut. Am4rahnya perlahan naik, dengan langkah panjang dia menuju kamar dari sang putri.
Sedang Mika memandang kem4rahan sang ayah dengan datar, dia sudah terlalu terbiasa dengan keadaan ini.
Dirinya tidak terlalu terkejut dengan kem4rahan sang ayah. Jika dulu, dia akan bersedih mendengar Farhan m4rah padanya, kini dia sudah mulai terbiasa dengan sikap Farhan yang sangat acuh padanya.
Sekarang kem4rahan Farhan selalu dia nanti-nantikan. Entah apa yang ada di benak Mika hingga dia menantikan kem4rahan sang ayah.
"Bisa tidak kamu membuat hidupku tenang untuk sejanak saja?" Farhan mengusap kepalanya k4sar. Suara tinggi Farhan memenuhi kamar Mika yang tidak terlalu besar. Kamar dengan dinding berwana hitam dan putih, tanpa hiasan apapun.
Mika bergeming mendengar suara Farhan yang meninggi, dia tetap tidak membuka suaranya untuk menjawab pertanyaan Farhan. Seperti biasa, dia akan hanya diam saat Farhan menumpahkan am4rahnya. Seolah memberi kesempatan sang ayah untuk mem4rahinya.
"Kenapa diam saja? Harusnya kamu menjawab saat orangtuamu bertanya!" Farhan semakin emos1 melihat Mika yang tampak tak peduli dengan kem4rahannya. Farhan merasa bahwa putrinya itu semakin kurang 4jar.
"Aku harus jawab apa, Yah?" Mika membuka suaranya tenang tanpa menatap sang ayah, dia malah asyik memainkan kuku-kukunya yang panjang.
Farhan mer4dang melihat sikap kurang 4jar Mika. "Baiklah jika kamu terus kurang 4jar begini, mulai sekarang semua fasilitas yang kamu gunakan akan aku c4but, terutama motor kesayanganmu itu. Dan aku tidak akan mengembalikannya sebelum kamu merubah sikapmu itu."
Farhan berlalu pergi meninggalkan Mika seorang diri di kamar, dia tidak mau berlama-lama melihat putri yang dibenc1nya itu. Melihat wajah Mika membuat hatinya sesak, dia akan selalu teringat kepergian sang istri karena berjuang melahirkan putrinya itu.
Apalagi wajah Mika sangat mirip dengan Astri, hingga Farhan selalu terbayang bagaimana Astri pergi meninggalkannya untuk selamanya.
Jika saja dulu Farhan tahu Astri menyembunyikan penyakitnya, tentu saja Farhan tidak akan membiarkan istrinya itu mengandung hingga membahayakan ny4wanya.
Farhan rela hanya hidup berdua dengan sang istri tanpa hadirnya seorang anak, yang terpenting dia tidak terpisahkan dengan istri yang sangat dicintainya. Tetapi semua sudah terlanjur, ibarat nasi sudah menjadi bubur. Farhan hanya bisa meratapi kepergian Astri, dan menjalani hidupnya tanpa sang belahan jiwa.
Sejak kepergian Astri, Farhan tidak pernah bisa melupakan kesedihannya. Dia terlalu berlarut-larut meratapi kepergian sang istri, hingga tidak pernah mau merawat Mika sampai putrinya itu beranjak remaja.
Sejak bayi, Mika hanya dibesarkan oleh pengasuhnya. Dia tidak pernah merasakan kasih sayang Farhan sama sekali. Hanya luk4 yang Farhan berikan pada gadis itu semenjak dia kecil.
Di lain sisi Mika menerbitkan senyumnya melihat kepergian Farhan, tangannya bergerak merogoh liontin yang menggantung di lehernya. Liontin tersebut berbentuk bulat dan bisa dibuka.
