Chapter 9

115 9 2
                                        


Taman bunga yang membentang luas kedepan terlihat begitu cantik dimata pangeran manis kita yang tengah duduk santai di sebuah gazebo kayu berwarnakan cokelat tua disana.

Warna-warni bunga juga ratusan atau bahkan ribuan kupu-kupu cantik hadir menjernihkan mata, dengan kolam buatan yang tak terlalu besar berisikan ikan dan jembatan kayu kecil diatasnya sebagai penambah, membuat Jaemin betah memandang lama, netra miliknya tak berpaling walau sebentar.

Siur angin menerpa wajah manis Jaemin, membuat Jaemin beberapa kali memejamkan mata nyaman.

Jaemin harap, ada hewan lucu kegemarannya disana, tengah bermain berlompat-lompat kesana kemari dengan riang.

Suasana yang tenang dan damai, hanya ada dirinya disana, membuat Jaemin semakin menyukai kastil ini saja.

Jaemin membuka netra miliknya memandang langit biru yang membentang luas, sekumpulan awan Jaemin lihat seperti tengah membentuk sebuah keranjang buah, juga hewan kegemarannya di lain tempat.

Jaemin tersenyum kecil.

Betapa damai nya dirinya saat ini.

Jaemin bawa wajah miliknya menatap memutar taman bunga, sembari tersenyum kecil, Jaemin tatap perlahan, hingga..

Jaemin dapati sesosok bayangan hitam seperti tengah mengawasinya dari kejauhan, arah timur taman bunga, dibalik pohon besar dengan beberapa semak belukar yang dibiarkan tumbuh, entah ini halusinasinya atau apa, tapi sungguh, sosok itu seperti tengah memandanginya secara terang-terangan.

Jaemin sipitkan matanya perlahan, namun sesaat matanya kabur tiba-tiba, membuat Jaemin mengerjap sembari meringis pelan, lalu Jaemin arahkan lagi pandangannya pada pohon besar itu, dan, sosok tadi,..

Menghilang.

"Apa itu tadi?" gumam Jaemin pelan.

"Nana?" panggilan dari sebalik tubuh Jaemin membuat Jaemin tersentak pelan, dengan cepat Jaemin balikan tubuhnya menghadap seseorang yang baru saja menepuk pundaknya.

"Ah! Hyung." seru Jaemin pelan.

"Nana kenapa? Apa yang terjadi? Sedari tadi Hyung panggil Nana tidak dengar?" pertanyaan beruntun dari Renjun, Jaemin dapatkan.

"Ah itu, Nana tidak apa. Maaf Hyung, Nana tidak mendengar Hyung memanggil Nana tadi." ujar Jaemin sembari menundukan kepala miliknya.

Renjun tersenyum kecil sembari mengelus pucuk kepala sang adik sayang.

"Tak apa. Apa yang sedang Nana lakukan tadi? Apa yang Nana liat? Terlihat sangat serius." ujar Renjun sembari menatap objek pohon besar yang sebelumnya sang adik perhatikan.

Jaemin hanya diam sembari memperhatikan sang kakak yang sangat serius menatap pohon besar itu.

"Tidak ada apa-apa disana, apa yang sedang Nana coba perhatikan?" tanya Renjun pada Jaemin sembari ikut mendudukkan dirinya pada gazebo kayu.

"Oh itu, tidak ada, Nana hanya menguji mata Nana, apa dari jarak sejauh ini, ulat atau serangga kecil lainnya masih bisa terlihat atau tidak."

Sontak pertanyaan lugu sang adik dibalas tawa pingkal milik Renjun, tidak kencang memang, tapi hey, lihatlah, Renjun sampai memegangi perutnya yang keram karena terlalu lama menahan geli pada perutnya.

Jaemin yang melihat sang kakak tak henti-hentinya tertawa pun bingung, Jaemin tatap sang kakak tak berkedip: Hey, apa ada yang lucu?

"Ada apa Hyung?"

"Hahaha astaga hahaha, Nana, Nana tidak berpindah profesi menjadi seorang pelawak kecil bukan? Sungguh Nana sangat menggemaskan tadi hahaha." bukannya memberikan jawaban yang pasti dan dapat dengan mudah ditangkap oleh Jaemin, Renjun memberikan jawaban yang malah semakin membuat Jaemin bingung.

Prince Na | MarkminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang