Chapter 10

193 13 3
                                        

"Lantas, bagaimana tanggapan orang-orang disana?"

"Ya, seperti yang kau ketahui—" ujaran berat dari pemuda dengan mata tajam serupa anjing itu terpotong, tak kala dirinya ditampakkan oleh kehadiran pangeran mahkota Na dan pangeran Seo datang dengan bergandengan tangan.

"Ada apa ini?" ujar Haechan sesampainya didepan meja makan yang menjulang panjang kebelakang.

"Kalian berjalan kemari sembari berpegangan tangan satu sama lain? Kalian berkencan atau bagaimana?" ujar Jeno, pemuda dengan netra tajam serupa anjing berkata tenang.

Jaemin Na, yang memang sudah mendahului kakaknya untuk pergi menuju ruang makan kastil pun ikut bingung menatap telapak tangan mungil sang kakak digenggam erat oleh pangeran Seo.

"Ah.." reflek Renjun melepaskan tangannya, dirinya lupa jika tengah berpegangan tangan dengan Haechan. Pipi hingga cuping telinganya memerah.

Haechan yang menyadari Renjun melepas genggaman tangan mereka dengan cepat, hanya dapat menatap pasrah telapak tangannya. Berharap, telapak tangan itu masih hinggap disana, enggan untuk dilepas.

"Aku.. Tadi.. Aku.." gagap Renjun hendak menjelaskan.

"Aku membantu Pangeran Renjun menuruni anak tangga tadi." ujar Haechan membantu Renjun menjelaskan.

"Dengan cara bergandengan tangan?" ujar Jeno kembali.

"Ya, Pangeran Renjun sedikit tergelincir di beberapa anak tangga saat hendak turun, aku yang kebetulan berjalan dibelakangnya pun membantu." tutur Haechan, sedikit berdusta tidak masalah bukan?

"Astaga. Njunie hyung baik-baik saja??" ujar Jaemin sembari berdiri dari kursi meja makan, menghampiri Renjun panik.

"Ya, aku berpegangan pada pegangan anak tangga, lantas Pangeran Haechan datang membantu, tidak apa, semua baik-baik saja." dusta Renjun. Haechan yang melihat Renjun mengikuti permainan kalimatnya tersenyum kecil.

"Chanie hyung, terima kasih atas bantuannya kepada njunie hyung." tutur Jaemin lembut kepada Haechan sembari sedikit membungkukkan tubuhnya.

"Tidak masalah, aku senang bisa membantu." timpal Haechan sembari tersenyum menawan, melirik Renjum yang juga tengah menatapnya salah tingkah.

Lantas, ketiga pangeran yang tengah berdiri itu pun duduk. Dengan Haechan yang duduk berhadapan dengan Renjun, dan Renjun yang duduk tepat disebelah Jaemin.

"Dimana pangeran mahkota hendery?" tanya Mark pada Haechan.

"Pangeran mahkota hendery tengah berada diruangan milik kami, tengah mencari satu dua barang, mungkin sebentar lagi ia akan turun."jelas Haechan.

Tak kembali bertanya, Mark melanjutkan acara mengobrolnya itu bersama Jeno. Meja makan itu ramai oleh percakapan-percakapan yang entah mengapa semakin hangat terdengar. Seluruh para pangeran yang berada disana tampak saling bertukar senyum kecil.

"Maaf, apa kehadiranku membuat kalian menunggu lama?" suara berat dari arah pintu besar ruang makan terdengar.

Hendery tampak berjalan santai sembari tersenyum lebar menghampiri meja makan yang sudah diisi oleh seluruh pangeran terkecuali dirinya.

"Maafkan aku." ujarnya kembali.

"Tidak masalah, Pangeran Mahkota Hendery." timpal Mark.

"Kau begitu lama, Pangeran Hendery." ujar Haechan kesal.

"Ah sungguh maafkan aku." tutur Hendery tersenyum menyebalkan kearah sang adik.

"Baik, semua sudah berkumpul bukan?" ujar Hendery. Sebagai yang tertua disana, ia yang akan memimpin dimulainya acara makan malam pada hari ini.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 02, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Prince Na | MarkminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang