Chapter 8 ✅

482 45 3
                                        

Wu Xie merasakan kakinya semakin lelah dan sakit. Lorong-lorong di depannya seolah tak memiliki ujung, setiap langkah yang dia ambil seperti membawanya masuk semakin jauh ke dalam makam, bukan mendekati pintu keluar.

"Lorongnya nggak habis-habis... Gimana caranya aku keluar? San-shu... Tolong aku! " pikirnya, matanya kembali berair.

Wu Xie merasa dinding-dinding sempit ini semakin menghimpitnya.

Di depannya, lorong itu berkelok tajam, dan dia berbelok tanpa berpikir. Namun, begitu dia berbelok, lantai di bawah kakinya kembali terasa aneh. Sebelum dia bisa bereaksi, dia mendengar suara keras dari atas. Wu Xie mendongak, dan matanya membelalak lebar saat melihat batu besar jatuh dari langit-langit, tepat di jalurnya.

"Aaaaah!!"

Wu Xie menjerit, tubuhnya secara refleks terjatuh ke lantai, berguling di sisi lorong yang sempit. Batu besar itu melesat ke bawah dengan suara gemuruh, menghantam lantai hanya beberapa sentimeter dari tempat Wu Xie terjatuh.

Tangannya gemetar saat dia mencoba berdiri lagi. "Aku... aku hampir kena! Apa... Apa tempat ini beneran mau bunuh aku?" katanya sambil terisak.

"Wu Xie... Wu Xie..."

Suara itu seperti datang dari segala arah, memenuhi setiap inci udara di sekitarnya.

“Kenapa suara itu terus manggil aku?” tanya Wu Xie dalam hati, tangannya mencengkeram dadanya yang terasa semakin berat.

Bisikan itu semakin mengganggunya, membuatnya merasa seolah dia tidak sendiri, ada sesuatu yang mengintai dari bayangan, sesuatu yang menunggunya terjatuh dalam jebakan mereka.

Tiba-tiba, Wu Xie kembali merasakan lantai di bawah kakinya bergetar.

“Apa lagi ini?!” serunya panik.

Tanpa sempat berpikir, dia melompat maju, dan saat dia bergerak, lantai tempat dia berdiri amblas, membentuk lubang yang dalam. Wu Xie terjatuh ke depan, berguling di atas lantai batu, terhindar dari perangkap maut itu dengan selisih yang sangat tipis.

“Aduh... Aduh... Aku nggak mau di sini lagi!” erangnya frustasi.

Tangan Wu Xie gemetar saat mencoba berdiri lagi, lututnya terasa perih karena tergores batu. Tapi di tengah kepanikannya, dia tiba-tiba melihat sesuatu yang berbeda. Lorong di depannya berakhir di sebuah ruangan besar lainnya, yang lebih terang dibandingkan lorong-lorong sempit yang dia lalui sebelumnya.

Ruangan itu tampak lebih menakutkan daripada yang sebelumnya. Lantainya penuh dengan ukiran-ukiran aneh, dan di tengah ruangan terdapat altar besar yang dikelilingi patung-patung batu yang tinggi. Setiap patung tampak seperti penjaga makam, dengan wajah yang menyeramkan, menatap kosong ke arah altar. Di atas altar itu, ada sebuah peti mati besar yang tampak tua dan kuno, dikelilingi lilin-lilin kecil yang berkelap-kelip lemah.

Wu Xie menelan ludah, tubuhnya gemetar saat dia melangkah lebih dekat ke ruangan itu.

“Ini... Tempat apa?” bisiknya, suara kecilnya penuh rasa takut dan heran. Dia mendekati altar dengan langkah hati-hati, tapi tiba-tiba suara bisikan kembali terdengar, lebih kuat dari sebelumnya.

"Wu Xie... Wu Xie..."

Suara itu bergema di seluruh ruangan, seolah-olah datang dari patung-patung penjaga yang berdiri kokoh di sana. Wu Xie merasa lututnya lemas, dan dia terjatuh berlutut di lantai.

"Aku nggak mau dengar! Aku nggak mau dengar!" serunya dengan putus asa, menutup telinganya dengan kedua tangan.

Tapi suara-suara itu tidak berhenti, justru semakin kuat, seolah-olah mereka mendekat. Patung-patung itu seolah-olah bergerak dalam kegelapan, mendekatinya perlahan.

Di Bawah Kutukan MakamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang