Ciuman Pertama

6.2K 204 10
                                        

Malam harinya, sekitar pukul 20.11, Sean memutuskan keluar rumah untuk berjalan-jalan sebentar mencari angin.

"Mah, Sean mau jalan-jalan bentar ke depan," pamitnya.

"Udah malam, Dek," jawab Mamah dengan nada khawatir.

"Cuma sekitar sini aja."

"Ya sudah, tapi jangan malam-malam. Hati-hati."

"Iya, Mah."

Saat itu di rumah hanya ada Mamah, karena Papah sudah berangkat dinas sejak pagi tadi. Suasana rumah terasa lebih sunyi dari biasanya, hanya suara televisi kecil dari ruang tengah yang menemani.

Sean keluar rumah dengan langkah santai. Udara malam langsung menyentuh wajahnya, terasa lebih dingin dibanding siang hari yang panas dan melelahkan. Langit gelap tidak sepenuhnya pekat, ada sedikit cahaya lampu jalan yang memantul di aspal, membuat suasana terasa tenang.

Ia berjalan tanpa tujuan jelas, hanya mengikuti kaki melangkah. Kadang ia memasukkan tangan ke saku, kadang menatap langit yang sesekali terlihat di sela kabel listrik. Tidak ada musik, tidak ada obrolan—hanya suara langkahnya sendiri dan sesekali kendaraan yang lewat jauh di jalan utama.

Untuk sesaat, pikirannya terasa kosong. Tidak ada sekolah, tidak ada kejadian nabrak orang, tidak ada Kai yang menyebalkan, dan tidak ada rasa canggung di kelas baru. Hanya dirinya dan malam yang diam.

Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 21.05.

Sean merasa cukup. Ia memutuskan untuk pulang.

Namun di perjalanan kembali ke rumah, suasana berubah.

Saat melewati jalan kecil dekat pos ronda, Sean melihat segerombolan remaja sedang nongkrong. Jumlahnya sekitar empat sampai lima orang. Mereka tertawa keras, suara mereka memantul di dinding sekitar. Ada yang duduk di motor, ada yang berdiri sambil merokok, ada juga yang hanya bermain ponsel.

Perasaan Sean langsung tidak enak.

Ia tidak mengenal mereka, tapi instingnya berkata untuk tidak terlalu lama di situ. Sayangnya, jalan pulang satu-satunya memang melewati titik itu.

Sean menurunkan pandangannya sedikit, mempercepat langkah tanpa terlihat mencolok. Ia mencoba bersikap seolah tidak memperhatikan mereka.

Tapi justru itu yang membuatnya semakin sadar—bahwa ia sedang diperhatikan.

Salah satu dari mereka bersiul pelan.

Yang lain tertawa kecil. Suara itu tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat dada Sean terasa berat.

Ia tidak menjawab. Langkahnya tetap cepat.

"Anak baru ya itu?" suara lain menyusul.

Sean terus berjalan, berusaha tidak menoleh. Tangannya mulai sedikit dingin.

Percakapan mereka makin samar di belakang, tapi suasananya terasa menekan. Seolah ada sesuatu yang mengikuti langkahnya, meskipun ia tidak ingin memastikan.

Saat ia hampir melewati area itu, Sean tanpa sadar menoleh sekilas. Di kejauhan, ia melihat tiga orang mulai berdiri dan berjalan ke arahnya.

Detik itu juga, rasa takut muncul begitu saja tanpa sempat ia kendalikan. Jantungnya seperti jatuh ke perut.

Tanpa pikir panjang, Sean langsung berlari.

Langkahnya cepat, napasnya mulai tidak teratur. Jalanan malam yang tadi terasa tenang berubah jadi lintasan kabur yang hanya berisi suara langkah dan detak jantungnya sendiri.

"WOI!" suara dari belakang terdengar.

Sean tidak menoleh lagi. Ia hanya fokus ke depan, mencari jalan yang lebih terang. Kepalanya terasa kosong, hanya satu hal yang ia pikirkan: kabur dulu.

Setelah cukup jauh berlari, ia mulai merasa suara di belakangnya mengecil. Nafasnya sudah tersengal, dadanya naik turun cepat.

Ia berhenti sebentar di dekat tikungan, lalu menoleh ke belakang.

Tidak ada lagi yang mengejar.

Sean menarik napas lega, meskipun tubuhnya masih tegang. Ia merasa sedikit aman.

Tapi malam sepertinya belum selesai menguji keberuntungannya.

Saat ia kembali menoleh ke depan—

Brug!

Tubuhnya menabrak seseorang yang berdiri tepat di jalurnya. Benturan itu membuat mereka berdua kehilangan keseimbangan. Sean jatuh ke depan, hampir sepenuhnya menimpa orang itu.

Dalam sepersekian detik yang kacau itu, wajah mereka terlalu dekat. Posisi yang tidak seharusnya terjadi dalam keadaan apa pun. Dan tanpa sengaja, bibir mereka bersentuhan singkat—tidak lama, tapi cukup untuk membuat otak Sean berhenti bekerja sesaat.

Semuanya terjadi terlalu cepat.

Tidak ada suara lari lagi. Tidak ada teriakan dari belakang. Hanya keheningan yang tiba-tiba terlalu keras di telinganya sendiri.

Sean membeku.

Matanya melebar, tubuhnya kaku, pikirannya kosong total.

Apa yang barusan terjadi?

Beberapa detik berlalu seperti waktu yang berhenti.

Begitu kesadarannya kembali, Sean langsung tersentak bangun. Wajahnya panas, panik, dan kacau dalam waktu yang sama. Ia bahkan tidak berani melihat orang yang ia tabrak.

"Ma-maaf!" suaranya nyaris pecah karena panik.

Tanpa menunggu jawaban, tanpa memastikan siapa orang itu, tanpa berani menatap wajahnya, Sean langsung berdiri dan berlari.

Langkahnya kembali kacau, kali ini bukan karena dikejar orang lain, tapi karena dirinya sendiri.

Sesampainya di rumah, napas Sean masih belum stabil. Dadanya naik turun cepat, rambutnya sedikit berantakan, dan pikirannya benar-benar tidak bisa diajak tenang.

Pintu rumah terbuka.

"Sean, kok pulangnya malam banget?" tanya Mamah heran dari ruang tengah.

Sean berhenti sejenak di pintu.

Mulutnya terbuka sedikit, tapi tidak ada kata yang keluar.

Ia ingin menjelaskan. Ia ingin mengatakan sesuatu. Tapi kejadian tadi seperti menumpuk di kepalanya sekaligus, membuatnya tidak bisa merangkai kalimat yang masuk akal.

Tanpa menunggu pertanyaan lanjutan, Sean langsung berjalan cepat menuju kamar. Langkahnya terburu-buru, seperti ingin menghindari seluruh dunia sekaligus.

Pintu kamar tertutup.

Sean langsung menjatuhkan diri ke kasur.

Ia menutup wajahnya dengan tangan.

"Gila..." gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.

Bukan karena takut dikejar lagi. Tapi karena satu hal yang terus berputar di kepalanya tanpa bisa dihentikan.

Kejadian tadi, dan orang yang bahkan belum sempat ia lihat wajahnya.

Di luar, malam tetap berjalan seperti biasa. Tapi di dalam kamar itu, Sean baru saja kehilangan ketenangan yang sebelumnya ia kira masih tersisa.

Teman Rahasiaku [BxB] (SEGERA TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang