"ada apa Arcella?" Sahut tikus putih yang pasti tidak akan di mengerti.
Arcella yang mendengar tikus itu bercicit hanya terdiam namun wajah kesal. Tetapi karna saat ini dia yang membutuhkan bantuan jadi dia harus sedikit sabar.
"Jangan mendekat! Diam saja disitu." Titah Arcella dengan begitu tegas saat melihat tikus itu akan menghampirinya.
Dan karna tikus itu mengerti jadi ia tidak berani bergerak apalagi saat melihat tatapan tajam itu.
"Kenapa badan sebesar itu takut dengan makhluk imut seperti ku? Aku kan sangat imut dan lucu" cicit tikus putih yang tidak dapat di mengerti.
" Cuwit jangan berisik! Aku sedang membutuhkan bantuanmu. Kamu tau saat ini adikku Aracilla sedang dalam keadaan memprihatinkan, ia seperti terkena kutukan aneh karna tubuhnya berubah menjadi merah. Dan aku sedikit curiga dengan kerajaan ini. Bisa bantu aku?" Mohon Arcella dengan wajah lesuh, sejujurnya dalam hati ia sangat amat sedih dengan kejadian ini namun ia harus selalu tegar.
Deg
Seketika tikus putih itu mematung, ia bahkan tidak berani bergerak setelah mendengarnya.
"Tidak itu bukan kutukan tetapi- ah dijelaskan pun kau tidak akan mengerti apa yang aku ucapkan dan hal itu membuat aku ingin menangis"
Tikus putih itu terlanjur lelah karna selalu berusaha berbicara namun semua tidak bisa dimengerti oleh Arcella.
Namun saat memperhatikan tikus putih itu Arcella berusaha itu mengerti walau tetap saja tidak bisa setidaknya ia akan mencoba menebak.
"Apa hal ini lebih besar dari sebuah kutukan?" Tanyanya dengan pelan dan tikus putih itu menganggukan kepalanya dengan pelan.
"Sial! Aku harus apa sekarang?" Tanyanya yang hanya mendapatkan tatapan bingung dari hewan kecil itu.
Tak lama hewan itu seperti memiliki ide yang cukup cerdik, ia berjalan menyusuri rak buku dengan cepat.
Ia mencari-cari sesuatu dan arcella hanya bisa menatap dalam kebingungan.
Apa yang dia cari?
Tak lama ada suara jatuh dari rak kelima, dan tentu hal itu mengangetkan Arcella. Namun tak urung ia juga menghampiri rak itu.
Sebuah buku yang dijatuhkan oleh hewan kecil itu, ternyata hewan itu cukup cerdik.
Ternyata buku yang dijatuhkan adalah buku yang Arcella benar-benar butuhkan saat ini.
Buku perjanjian merah.
Arcella mulai membuka buku itu untuk mencari sebuah informasi bahkan semua hal yang tidak ia mengerti.
"Apa ini?!!"
"Hey tikus, apa kamu memberikan buku palsu?" Tikus itu menggelengkan kepala dengan cepat.
" Lalu kenapa tidak ada apapun yang tertulis?" Dengan tatapan tajam Arcella layangkan pada hewan mungil itu.
Arcella menghela nafas kecewa bahkan wajah memerah menahan tangis, jujur sejak awal dia memang tidak siap ada di dunia ini bahkan rasanya ini seperti mimpi panjang yang tak bisa bangun.
Tikus seperti memang tidak bisa diam, karna saat ini yang Arcella lihat ia berjalan ke arah gaunnya.
APA!!
GAUNNYA? GAUN - NYA?!
"Kamu mau apa? Jangan dekat-dekat!" Seru Arcella sambil mundur dengan perlahan.
Tikus putih itu menggeleng ia seperti ingin menunjukkan sesuatu, karna tikus itu berjalan ke arah lorong perpustakaan dengan pelan bahkan sambil berusaha mengajaknya.
Arcella yang entah bagaimana ia sedikit mengerti, jadi ia mengikuti tikus itu.
Sampailah mereka didepan sebuah rak yang usang, rak yang begitu berbeda dengan rak buku lainnya.
Tikus itu menjatuhkan sebuah buku yang telah usang. Dengan cepat Arcella mengambilnya.
"Buku apa ini? " Tanyanya dengan pelan, namun saat ia akan menatap tikus putih itu ternyata sudah tidak ada dihadapannya.
"Aneh, cepat sekali dia!"
***
Sakga Dhuwana
__________
'Hal yang tidak bisa kalian sangkal adalah sebuah takdir.'
Ketika pangeran dan putri tidak bisa bersatu karena sebuah perjanjian leluhur, mereka mencoba melawan hal yang sudah ditakdirkan dengan sebuah cinta. Namun begitu banyak dampak yang mereka dapat.
Kehancuran, kematian dan kegelapan. Mereka tidak pernah mempercayai takdir itu, mereka membenci dan saling mengutuk.
Takdir adalah hal yang tidak bisa ditentang oleh siapapun!
Dalam sebuah perjanjian, tidak ada yang boleh melanggar apapun yang sudah dijanjikan.
Hanya keturunan murni dari mereka yang dapat membuat kutukan itu berakhir.
Tetesan darah dari keturunan murni dapat melenyapkan hal yang mustahil.
Pernjanjian adalah darah yang murni.
_______________________________
"Kenapa jadi pusing gini sih, padahal nyari jalan keluar! Kenapa kayak jadi nyari masalah?!" Seru Arcella sambil memijat dahinya pusing.
"Tapi kalau darah murni itu berarti harus cari keturunannya ga sih?"
"Benar-benar gak masuk akal. Lama-lama kayaknya gila nih gue!" Decak nya dengan kesal.
Walau begitu Arcella masih terus memikirkan semuanya, ia bahkan beberapakali membaca tulisan di buku itu.
Anehnya buku itu tidak memiliki tulisan lain selain itu, sisanya hanya foto-foto yang cukup unik, indah, sedih dan mengerikan.
Saat lembaran yang dibuka mendekati ke akhir halaman buku, Arcella menjadi salah fokus bahkan matanya menelisik foto yang sedikit tidak asing.
Sebuah gelang yang diberikan oleh sang ratu, gelang dengan permata berbentuk hati.
***
Segitu dulu ya teman-teman, jangan lupa komen kalau mau next part hahaha
KAMU SEDANG MEMBACA
kartu AS
FantasíaIni kisah tentang perjalanan mereka berempat yang terdampar disebuah negeri yang tidak ada didunia nyata. Hanya karna sebuah kartu Remi yang mereka mainkan bersama. Sebuah tempat yang asing yang mempunyai seribu rahasia dan penuh dengan teka teki. M...
