O7

21 15 25
                                        

°
°
°
°
°
°
°
°

•✧•

7. Disturb

Motor Aaraz berhenti tepat didepan rumah Gracia, dengan segera gadis itu turun dari motor Aaraz, "makasih kak," ujarnya sembari memberikan helm kepada Aaraz.

Aaraz mengangguk, "Aman, dah sana masuk" titahnya. Namun gadis itu malah diam sembari menatap Aaraz dengan tatapan khawatir.

Laki-laki itu tampak mengernyit, "apa lagi?"

"Janji dulu jangan bilang ayah," Gracia menjulurkan jari kelingkingnya

"Engga janji," Sahut Aaraz dengan senyum yang menyebalkan.

Gracia memajukan bibir bawahnya, "Kok jahat."

Aaraz terkekeh melihat reaksi Gracia, "Emang gue dapet apa kalo bantuin lo?"

Gadis itu berpikir sejenak, "Coklat?"

"Gak suka coklat."

"Es krim?"

"Udah punya, gak akan habis punya gue," sahut Aaraz asal.

"Iyakah? Cia baru tau Kak Aaraz punya toko es krim."

"Bukan toko es krim,"

"Terus?"

"Es krim gue spesial gak akan bisa didapetin dimana-mana," lanjut Aaraz dengan senyum jahilnya. Kalian pasti sudah tau apa yang laki-laki itu maksud, beruntung tidak ada saudara mereka yang lain atau Aaraz akan mendapatkan pukulan kematian dari Athazio jika sampai laki-laki itu tau.

"Cia mau juga," jawab Gracia, yang masih dengan perasaan penasaran.

"Wah gak bisa, Ci. Ini tidak untuk dibagi-bagi, spesial punya gue."

"Kenapa gitu? Engga baik jadi orang pelit, apa lagi kita saudara sebagai saudara harus saling berbagi, kata bunda gitu."

"Engga deh."

"Ih kenapa," Gracia mengerutkan keningnya.

Akhirnya Aaraz memilih menautkan jari kelingking mereka sebagai pengalihan, "Iya dah, lo tenang aja"

"Apa?"

"Ya itu tadi."

"Bener?"

"Hm,"

"Kalo bohong hidungnya panjang," ancam Gracia.

"Gue emang udah mancung sih,"

Gracia memutar bola matanya, "Jelek gitu." Kemudian Gracia berjalan ke arah pintu, "Kak Aaraz jelek, awas aja kalo ngadu." Setelah itu ia bergegas masuk kedalam.

Aaraz tampak menaikkan alisnya, sebelum kemudian terkekeh, "dasar bocil."

❀:ཻུ۪۪

"Tumben udah pulang," Lelaki itu melirik saudaranya yang kini tengah duduk disofa dengan menggunakan setelan santai celana pendek dan kaos hitam polos, terlihat fokus pada layar laptopnya namun tetap bisa melihat kedatangan Aaraz.

"Berisik," jawab Aaraz singkat.

Tak ingin mengambil pusing laki-laki itu hanya menghendikkan bahu, dan kemudian kembali fokus pada layar laptopnya.

Langkah Aaraz terhenti, ia beralih menatap kembarannya serius, "Papa udah pulang ris?"

Aarish hanya berdeham, "hm."

"Kok gak jadi pergi?" Tanya Aaraz penasaran.

Aarish kembali menghendikkan bahu, "mungkin kerjaannya udah selesai."

SequoiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang