°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
•✧•
10. Orang baru
"Gracia?" Devan terlihat berjalan ke arah meja mereka. Kedua orang itu secara bersamaan menoleh ke arahnya.
"We meet again" Devan tersenyum ke arah Gracia.
Mata Gracia melebar, dengan memancarkan binar kagum, "Kamu kuliah disini?" Melihat itu Aarish diam-diam mengernyit.
Devan menggeleng atas pertanyaan Gracia, "Engga, cuma kebetulan lagi nongkrong aja sama temen-temen gue."
"Aku kira," gumam Gracia.
"Lo ngapain disini?" tanya Devan
Aarish berdeham, membuat kedua orang itu menoleh pada sang empu. Devan yang sebelumnya sempat tidak menyadari kehadiran Aarish pun mengernyit.
"Dia.. pacar lo?" tanya Devan hati-hati.
Gracia menggeleng cepat, "Engga, dia kakak sepupunya Cia," jelasnya untuk mencegah kesalahpahaman. "Namanya kak Aarish," gadis itu memperkenalkan Aarish pada Devan. Meskipun Aarish diam tapi Devan bisa melihat tatapan tajam pria itu saat Gracia memperkenalkannya sebagai sepupu.
"Gue Devan," Devan mengulurkan tangan. Namun, Aarish tak menghiraukan uluran tangan Devan dan memilih fokus pada bukunya.
"Kayaknya gue ganggu ya?" Devan menggaruk kepalanya karena merasa tidak enak.
"Hm"
"Engga" Gracia menjawab cepat, "Kak Devan engga ganggu kok"
"Tapi abang lo ngerasa gitu," Devan melirik Aarish, kedua orang itu saling melemparkan tatapan tajam.
"Kak Aarish," Gracia menyenggol kaki Aarish pelan.
Laki-laki itu melirik Gracia, "Gue penasaran, lo ketemu orang aneh ini dimana?" tanya Aarish dengan ekspresi tidak berubah.
Gracia mengernyit, "Sejak kapan kak Aarish peduli?"
"gue gak peduli," Aarish terdiam sejenak, "cuma nanya."
Devan tersenyum, "Sebenernya kita baru temenan–" Laki-laki itu menggantungkan ucapannya "at least for now"
"For now?" Aarish mengulangi perkataan Devan dengan sedikit mengernyit.
"Because I don't know what will happen next" Devan tersenyum menatap Gracia.
"Hah?" Gracia tampak tidak mengerti.
Devan menggeleng, " Lo gak masalahkan kalo kita jadi lebih sering ketemu nantinya? " ia berbicara dengan tidak mengalihkan pandangannya dari Gracia.
"Oh iya," Gracia tersenyum, "Cia juga seneng kalo ada temen baru."
Aarish hanya diam menatap dua orang itu yang terlihat begitu dekat. Ia berdeham untuk mengalihkan perhatian mereka, "Bisa kita lanjut?"
"Oh, lo lagi belajar ya?," Devan baru menyadari keberadaan buku ditangan Gracia. Gadis itu terlihat mengangguk, "Iya, Kak Devan mau gabung?"
Aarish melirik tajam.
Devan terkekeh pelan, "Gak perlu, gue cuma pengen nyapa aja. Silahkan lanjut," Laki-laki itu tersenyum, sembari pamit untuk memberikan kedua orang itu ruang, "I will contact you later, and see you, Gracia." Gracia mengangguk, matanya tampak fokus pada Devan yang kini terlihat bergabung dengan teman-temannya.
"So can we continue? kalo lo gak niat belajar gue masih banyak urusan," ucapan Aarish berhasil mengalihkan perhatian Gracia.
"Engga, kita bisa lanjut" Gadis itu terlihat kembali fokus pada bukunya. Selama itu Aarish tetap tidak mengubah ekspresinya, ia hanya menunjukkan raut wajah datar, dan tatapan mata yang tajam.
