°
°
°
°
°
°
°
•✧•
12. distracted
Gadis itu berlari menembus kerumunan di bandara, napasnya tersengal sementara matanya terus mencari sosok itu — Devan. Suara pengumuman keberangkatan terdengar sayup di antara hiruk-pikuk orang yang berlalu-lalang. Langkah Gracia terhenti saat melihat punggung Devan yang siap melangkah ke gerbang keberangkatan.
"Kak Devan!" suara itu menggema diantara ke rumunan. Langkah Devan terhenti, ia reflek menoleh pada sang empu, terlihat raut terkejut dari wajah laki-laki itu.
"Cia kesini sama siapa?" Devan bertanya saat Gracia berlari mendekat, netra laki-laki itu mencari seseorang yang mungkin datang dengan gadis itu.
"Sendiri, naik mobil ayah."
Kening Devan mengernyit, namun kemudian ia menghela napas, "bahaya."
Gracia menggeleng, "Kak Devan kenapa perginya tiba-tiba?" ia menatap wajah laki-laki itu, "Cia pikir masih seminggu atau dua minggu lagi."
Tatapan mata Devan melembut, "Ada urusan yang gak bisa gue tinggalin"
"Tapi... " Gracia menggantungkan ucapannya, "kapan kak Devan balik lagi ke sini?" lanjutnya
"Mungkin... dalam jangka waktu yang lama, karena gue udah engga ada urusan apapun disini," jawab laki-laki itu.
Gracia menunduk, lidahnya seperti terasa kelu, "berapa tahun?" ia menatap laki-laki itu.
Devan diam sejenak, "Jangan nunggu gue."
"Kenapa?" Gracia tampak tidak mengerti.
"Itu bakal buang waktu lo."
Gracia terdiam.
"Lupain kalo gue pernah datang di hidup lo," pinta laki-laki itu. Sedangkan Gracia masih membisu.
"Anggep aja kita gak pernah kenal."
"Kenapa?" Gracia membuka suara, ia menatap laki-laki itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kak Devan marah karena tempo hari Cia engga datang?"
Devan menggeleng, "bukan."
"Terus kenapa? Cia butuh penjelasan yang masuk akal."
Laki-laki itu terdiam sejenak, "Karena gue rasa kita gak cocok, dan pertemuan kita terlalu buang-buang waktu."
"Hah?" Gracia menunjukkan ekspresi tidak percaya. Devan menatap Gracia dengan wajah serius. Udara di sekitar mereka terasa berat, seperti menahan sesuatu yang akan pecah kapan saja. Suara pesawat yang lewat di kejauhan tak mampu menenggelamkan detak jantung mereka yang berdentum kencang.
"Iya, awalnya gue tertarik sama lo tapi–" belum sempat Devan menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Gracia maju—menyentuh wajah Devan dengan tangan yang dingin namun tegas—dan dalam sekejap, bibirnya menempel di bibir Devan. Laki-laki itu membeku.
Ciuman itu singkat, hanya terjadi selama sepersekian detik. Dan saat Gracia menjauh, matanya basah tapi senyumnya lembut. "Aku suka Kak Devan. Jauh dari lama, sejak pertama kali aku liat Kak Devan di tempat ice skating bertahun-tahun lalu. Waktu aku datang lagi kamu engga ada. Aku nunggu, tapi Kak Devan gak pernah datang lagi." Ia berbicara lirih. "Aku pikir aku gak akan ketemu Kak Devan lagi." Lidah Devan tiba-tiba terasa kelu.
"Tapi suatu hari, I saw you again. dan aku pikir akan ada harapan." Gracia tersenyum getir. "Ternyata engga."
Devan menarik napas panjang, "Lo gak pantes buat gue." Kata-kata itu seperti belati yang tiba-tiba menghunus jantung Gracia.
