˚
˚
˚
˚
˚
˚
˚
˚
•✧•
5. Heartburning
Jam tengah menunjukkan 2 dini hari. Menandakan ini adalah waktu bagi semua orang untuk istirahat. Dari kejauhan terlihat motor laki-laki itu tengah meleset masuk kedalam rumah bernuansa putih. Ia tampak memarkirkan motornya di antara jajaran mobil-mobil milik ayahnya. Dengan sedikit sempoyongan ia turun dari motornya, kemudian ia berjalan menuju pintu utama. dan detik berikutnya laki-laki itu terlihat memencet Bell pintu berkali-kali.
Tak berselang lama knop pintu bergerak, dan pintupun terbuka. Memperlihatkan seorang laki-laki yang memiliki wajah sangat mirip dengannya, yang membedakan mereka hanya pada gaya rambutnya. Laki-laki yang berdiri di pintu tampak lebih rapi dengan rambut hitam meski hanya menggunakan kaos oblong. Sedangkan kembarannya tampak sedikit urakan dengan rambut berwarna pirang dan panjang hampir sebahu yang kini tengah ia kuncir satu.
Laki-laki itu melipat tangannya didada, "Dari mana lo?" tanyanya dengan ekspresi wajah datar.
Kembarannya itu malah cengengesan, "Biasa, Ris," jawabnya dengan santai.
Aarish memutar bola matanya malas, "Nyasar dimana lagi lo? bukannya tadi lo janji pulang jam 11?"
"Gak kemana-mana," jawabnya sembari berjalan masuk kedalam rumah.
Aarish menghela napas, "Lo minum lagi" Laki-laki itu menutup pintu, kemudian berjalan mengikuti kembarannya.
"Dikit," Aaraz terlihat menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.
Aarish memutar matanya,"Kalo mama tau habis lo."
"Ya kan gunanya lo disini buat tutup mulut, " jawab Aaraz dengan santai.
"Brengsek."
Aaraz terkekeh, "tadi gue ketemu Cia."
"Hm?" Aarish menaikkan satu alisnya
"Cantik," ujar Aaraz. Entah kenapa tiba-tiba tenggorokan Aarish terasa tersedak.
"Ya elah biasa aja kali" Aaraz menendang kaki Aarish.
"Anj–" Aarish mengusap kakinya sembari menatap kembarannya menyelidik, "Kenapa? lo naksir?"
"Ya emang boleh? Kalo boleh ya mau."
"Gila."
"Ya menurut lo aja, dia kan adek kita," Papar Aaraz.
Aarish mengangkat bahu, "Gak tau."
"Gue heran deh sama lo, kenapa lo sebenci itu sama Cia?" tanya Aaraz heran.
"Gak juga."
"Ya itu buktinya dari dulu lo gak pernah nganggep dia adek, padahal anaknya seimut itu. Mama aja pengen adopsi tapi sayangnya masih punya bapak ibu," celetuk Aaraz panjang lebar.
Aarish melemparkan bantal ke arah Aaraz, "Tidur, lo berisik."
"Ris!" panggil Aaraz.
"Apaan?"
"Lo gay ya?" tanya Aaraz yang seketika disambut pukulan dari sang empu.
"Matamu."
Aaraz tampak meringis, "Ya lagian, lo gak pernah deket sama cewek."
"Ya, gue kan gak kayak lo. Sasimo," Cibir Aarish.
"Ya apa salahnya nyicip dikit," jawab Aaraz enteng.
