°
°
°
°
°
°
°
•✧•
11. Unexpected
Gracia menatap pantulan dirinya di cermin. Malam ini ia mengenakan blouse putih kesayangannya, yang jatuh lembut di pundaknya, dan celana jeans biru muda yang memberi kesan santai tapi tetap anggun. Hari ini ia ada janji akan makan malam dengan Devan. Pipinya bersemu merah saat membayangkan dirinya akan menghabiskan waktu untuk mengenal lebih dekat dengan laki-laki itu.
Namun, sebelum sempat Gracia melangkah keluar dari kamar, ponselnya berdering. Nama "Kak Aarish👺" tertera di layar—membuat jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Dengan ragu, ia mengangkat.
"Halo, Kak Aarish?"
Tak ada jawaban beberapa detik, hanya deru napas berat. Lalu suara yang sudah sangat ia kenal, tapi kini terdengar asing—serak, berat, seperti terseret emosi dan... alkohol.
"Cia..." gumam Aarish, "Lo dimana? "
Gracia mengernyit, "Kak Aarish? Cia udah bilang kan engga bisa belajar malam ini?"
"Gue tau." Suaranya pecah, dan Gracia bisa dengar dentingan botol di latar belakang. "Tapi– gue butuh lo."
Dadanya mengencang. Ada sesuatu dalam nada Aarish malam ini— Sesuatu yang tak pernah dia tunjukkan sebelumnya. Tapi malam ini... Gracia juga punya janji. Sesuatu yang sudah ia rencanakan, sesuatu yang berarti.
"Kak Aarish mabuk ya?"
Aarish terdiam, hening tak ada jawaban.
"Kak Aarish dimana?" Gracia meremas handphonenya.
"Hm" gumam Aarish.
"Cia panggilin kak Aaraz ya," saran Gracia, Namun ucapan sang empu berikutnya membuat Gracia terdiam.
"Gue mau lo–"
"Hah?"
"Ke sini" lanjut Aarish.
Gracia terdiam sejenak. Ia menoleh ke arah jam dinding. "Kak Aarish... Bukannya Cia engga mau. Tapi Cia udah–"
"Gue ngerti," potong Aarish pelan, hampir tidak terdengar. "Gue ganggu lo."
Hening. Hanya suara napasnya yang tersisa di ujung telepon.
"Kak–" Belum selesai Gracia menyelesaikan ucapannya telepon disana seperti diambil alih.
"Halo halo, siapapun disana, Gue Arsha." Terdengar suara kresek-kresek dari seberang sana. "Iya bentar dulu," laki-laki yang bernama Arsha itu tampak sedikit kesal dengan Aarish.
"Siapa namanya?" Gracia bisa mendengar pria itu sedikit berbisik pada Aarish, "Kia? Ki- Oh Cia"
Laki-laki itu berdeham, "Halo Cia, ini Arsha temenan Aarish. Lo bisa tolong kesini engga? ini anaknya engga mau pulang."
"Gimana ya kak? Soalnya Cia ada urusan, Cia suruh kak Bian ke sana ya?" Gracia tampak bingung.
"Aduh ris gak bisa dia, lo pulang bareng gue aja lah." Arsha terlihat membujuk Aarish, "Gini loh Dek Cia, masalahnya gue udah nawarin nganterin pulang malah ditonjok sama Aarish."
"Kok bisa?"
"Mabuk berat dia, minum hampir– berapa tadi ya." Arsha tampak berpikir, "5 kayaknya."
Gracia mengernyit, "5 gelas?"
"Botol."
Gracia melebarkan matanya, "is he crazy?"
"Makanya itu, nih anak kalo minum engga nanggung-nanggung masalahnya." Arsha tampak mengomel sendiri.
