°
°
°
°
°
°
°
°
•✧•
9. private teacher
Gadis itu terlihat duduk sendirian di bangku taman, matanya tampak menatap kosong ke arah depan, dengan pikirannya yang entah melambung kemana. Kepalanya tampak kacau, antara perasaan sedih dan juga kecewa.
Di sisi lain dari kejauhan Aarish melihat sikap gadis itu yang tidak seperti biasanya. Entah apa yang terjadi diantara Gracia dan Ezra, yang membuat gadis itu menjadi sekalut ini.
"Strawberry?" laki-laki itu menyodorkan sebuah es krim Strawberry padanya. Gracia menatap es krim itu beberapa saat sebelum kemudian mengambilnya.
Aarish duduk di samping gadis itu tapi hanya diam dan tidak mengeluarkan suara apapun, pasalnya memang laki-laki itu pada dasarnya orang yang malas berbasa basi.
Selama beberapa saat hanya ada keheningan diantara mereka, hanya suara kendaraan dan angin malam yang berhembus mengenai wajah mereka. Gracia yang tenggelam dalam pikirannya dan Aarish yang tidak tau mau berbicara apa. Hingga suara isakan pelan dari gadis itu berhasil menarik perhatian Aarish.
Lelaki itu menoleh pada gadis di sebelahnya, Gracia terlihat beberapa kali mengusap air matanya sembari masih memakan es krimnya.
Aarish yang pada dasarnya tidak tahu apa-apa hanya mengernyitkan dahi, "Kenapa?" tanyanya dengan suara pelan. ia tidak pernah berbicara selembut ini pada Gracia sebelumnya.
Gadis itu menghentikan aktivitasnya memakan es krim, kepalanya menoleh pada Aarish.
"Kenapa Cia? lo di marahin om Ezra?" tanya Aarish lagi.
Gracia mengigit bibir dalamnya untuk menahan isakannya, matanya yang merah dengan air mata yang menggenang dipelupuk matanya. Kemudian ia menggeleng, untuk sesaat tatapan gadis itu membuat Aarish tertegun. Ia tau Gracia memang orang yang cengeng. Namun, ia tidak pernah melihat tatapan sedu gadis itu sebelumnya.
Aarish menghela napas, "Jangan ditahan." Mendengar perintah laki-laki itu seketika tangis Graciapun pecah. Gadis itu tampak terisak dengan bahu bergetar. Bahkan es krim ditangannya yang kini mulai mencair.
"Ai" lirihnya.
"Ai?" gumam Aarish, pasalnya itu panggilan yang selalu Gracia sematkan padanya sedari kecil. Sebelumnya ia tidak pernah menyukai panggilan itu, namun entah kenapa kini rasanya dada Aarish terasa menghangat.
Aarish berdeham, "Ada masalah?"
Gracia mengangguk, "Om Eza nyuruh Cia mundur dari modeling, bahkan kontrak yang selama ini jadi mimpi Cia juga harus Cia lepas," ujarnya sembari mengusap air matanya beberapa kali.
Aarish mencoba memahami posisi gadis itu, "Gue paham," tangannya dengan ragu mengusap kepala Gracia. Rambut gadis itu terasa sangat lembut ditelapak tangannya. Tanpa diduga Gracia memeluk Aarish, dengan menyembunyikan wajahnya pada dada laki-laki itu. Membuat Aarish mematung untuk beberapa saat.
"Cia juga pengen unggul, Cia juga pengen maju, tapi kenapa kalo Cia lagi usaha ada aja rintangannya, di antara yang lain cuma Cia yang tertinggal di belakang," ungkap gadis itu.
Aarish menelan salivanya, kemudian ia dengan ragu mengusap kepala gadis itu lagi, "Lo ga tertinggal, ini bukan akhir, dan mimpi lo masih panjang, lo cuma harus usaha lebih keras lagi."
Gracia mengeratkan pelukannya, "Capek" akunya. Jantung Aarish berdetak dengan sangat kencang. Ia tidak pernah sedeket ini dengan perempuan manapun. meskipun Gracia notabenenya adalah saudarinya. Tapi ada suatu yang tidak seorang pun tau.
