O8

19 15 26
                                        

°
°
°
°
°
°
°
°

•✧•

8. Dream

Gracia melangkah masuk ke dalam Arena tempat ice skating. Hawa dingin ruangan itu sangat kontras dengan suasana hatinya saat ini. Ia menyempatkan diri untuk memakai sepatu esnya, kulit sepatu bot yang halus melekat di kakinya seperti kulit kedua.

Kemudian ia melangkah ke Arena es. Disana ia bisa merasakan ketenangan menyelimuti dirinya, stres dan kecemasan dari beberapa hari terakhir mencair dengan setiap luncuran sepatu rodanya di atas es yang mengilap. Berseluncur es selalu menjadi pelarian gadis itu, sebagai cara untuk menenangkan pikirannya dan menemukan kedamaian serta kendali di dunia yang sering kali terasa kacau dan tak terduga.

Gracia mulai menambah kecepatan, gerakannya anggun dan luwes saat ia melewati para skater lain di arena. Udara dingin menerpa wajahnya, mengibaskan rambut cokelatnya saat ia memacu dirinya untuk melaju lebih cepat, merasakan sensasi angin dan kekuatan tubuhnya sendiri saat bergerak.

Tubuh Gracia berputar-putar, kedua lengannya terentang dan wajahnya mendongak ke arah lampu-lampu terang di arena. Ia merasa hidup, bebas, dan tak terbebani oleh harapan dan ketakutan yang sering membebaninya. Di atas es, Gracia bisa menjadi dirinya sendiri, tanpa kepura-puraan atau topeng apa pun. Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.

Saat gadis itu tengah asyik mengikuti irama skating, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada seorang laki-laki yang juga tengah meluncur di atas arena es. Gracia terlihat berhenti, kemudian berkedip beberapa kali lantaran kagum dengan ketrampilan ice skating dari pemuda itu.

Gracia telah melihat banyak pemain skate sebelumnya, tetapi ada sesuatu yang berbeda tentang lelaki ini. Ia diam-diam memang mengagumi pemuda itu dari lama, Namun Gracia terlalu malu untuk hanya sekedar menyapa.

Perhatiannya tidak pernah lepas dari laki-laki itu, matanya tampak terpaku pada sang empu. dan tanpa sadar ia memperlambat lajunya. Fokusnya seperti teralihkan hingga ia tanpa sadar kehilangan keseimbangannya sehingga ia tergelincir diatas es.

Semua mata seketika tertuju pada gadis itu, Ada yang langsung datang untuk menolong dan ada juga yang hanya melihat. Kejadian seperti ini bukan pertama kalinya bagi mereka karena memang hal ini sangat lumrah terjadi kala seseorang sedang melakukan ice skating.

"Are you okay?" Pemuda itu mengulurkan tangan pada Gracia.

Gracia terdiam sejenak, sebelum kemudian mengangguk pelan. "Hm," gumamnya. Beberapa orang terlihat membantu Gracia untuk berdiri, salah satunya laki-laki itu.

"Apa ada yang cedera?" Gracia menggeleng.

"Are you sure?," pemuda itu bertanya lagi.

Gracia mengangguk, "I'm okay, thank you." Dia terlihat sedikit kesulitan untuk berjalan ke tepi arena.

"Saya bantu," Laki-laki itu memegang tangan Gracia guna membantunya menuju ke tepi arena ice skating.

"Terimakasih banyak," Gracia menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat dan rasa terimakasih.

"Ngga masalah, apa perlu ke dokter? siapa tau ada cedera."

Gracia menggeleng cepat, "Engga perlu, aku mau pulang aja." Setelah melepas sepatu seluncur nya Gracia segera membereskan barang-barangnya dan kemudian pamit untuk pulang, "Terimakasih sekali lagi,"

"Mau saya antar?" tawarnya.

Gracia menggeleng lagi, "Engga, aku bawa mobil."

Laki-laki itu terlihat menghela napas, "Okay, hati-hati." Gracia mengangguk, tapi langkahnya terhenti karena pertanyaan tiba-tiba dari laki-laki itu, "Can i know your name, miss?"

SequoiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang