Tujuh

650 38 10
                                        



Sebenarnya tidak semudah itu, sebelum mereka berpisah ada drama kecil dari Juju yang tidak ingin pergi bersama orangtuanya.

"Papiii~ i don't wanna gooo!" Rengek Juju yang tidak ingin pergi dari tempat itu.
"I would like to stay here with them~" Ujarnya kembali, tangan kecilnya menggenggam tangan Chenle dan Jisung, enggan berpisah dengan keduanya.

"No no sayang, we have to visit grandpa's house now. Besok kan kita ke rumah papile sama papaji, jadi bisa main lagi." Renjun berbicara pelan, membujuk anaknya agar mau menurut. Namun sepertinya Juju memang masih ingin sekali bermain bersama kedua paman kesayangannya, kepalanya menggeleng pelan, bibir kecilnya melengkung ke bawah, matanya pun menatap sedih ke arah Chenle dan Jisung bergantian, membuat Renjun menatap suaminya yang juga menatapnya balik.

Akhirnya Chenle pun turun tangan, ia berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Juju.
"Papi was right, Juju. Besok kan kita bisa main lagi, you can play anything with me and papaji. So now you better go with papa and papi, okay?" Ujarnya lembut dengan mengusap kepala balita itu. Usaha Chenle untuk membujuknya tidak sia - sia, walaupun dengan raut yang masih menunjukkan kesedihannya, Juju akhirnya mau menurut.

"Okay.. tapi janji ya besok kita main lagi?" Kelingkingnya terangkat, menuntut janji pada Chenle membuat sang empu terkekeh kecil lalu turut menautkan jari kelingking miliknya.
"Iya, papile janji." Tiga orang dewasa yang sedari tadi menyaksikan interaksi lucu itu pun tersenyum hangat karena merasa lega.

"Ayo sini sama papa, gendong mau?" Kata Donghyuck sembari tersenyum lembut pada anaknya.
"Mau!" Jawabnya antusias. Balita itu jelas tidak bisa menolak, binar lucu di matanya pun kembali hadir seperti sebelumnya. Kaki kecilnya melangkah ke arah Donghyuck lalu merentangkan tangannya yang langsung disambut oleh si papa yang menggendongnya.

"Good boy." Puji Donghyuck sembari mengusap surai anaknya, Renjun pun turut mengusap punggung kecil Juju yang berada di gendongan suaminya itu.

"Yaudah kita duluan ya le, sampai ketemu besok!!" Ujar Renjun sembari melambaikan tangan.
"Iya kak besok kabarin aja kalau mau ke rumah." Balas Chenle dengan senyum manisnya.
"Okay! Juju, say bye to papile and papaji." Renjun kembali bersuara lalu menggerakan tangan kecil anaknya agar melambai ke arah Jisung dan Chenle.

"Babay papajiii!! Babay papilee!! Besok main sama Juju lagi ya!" Teriaknya saat berjalan menjauh dengan melambaikan tangan kecilnya ke arah Chenle dan Jisung. "Iya Jujuu!" Jawab Jisung dan Chenle bersamaan.

Sekarang hanya ada dua insan yang memang berniat menghabiskan waktunya di taman ini. Chenle yang awalnya hanya ingin duduk santai di bangku taman tetapi atensinya teralihkan dengan beberapa stand jajanan yang ada di sekitarnya. Matanya seketika berbinar, tapi diam - diam ia berpikir apakah ia diizinkan memakan jajanan itu oleh Jisung? Sedangkan ia tahu suaminya cukup ketat dalam menjaga kesehatan terutama pada pola makan, apalagi sekarang ada bayi di dalam perutnya jadi ia tidak bisa sembarangan jika memilih makanan.

Jisung yang menyadari kesayangannya seperti sedang mengamati sekitar pun bertanya.
"Kenapa, hm? Kamu butuh sesuatu?" Tangannya yang sedari tadi merangkul pinggang si manis ia gerakkan untuk mengusapnya. Oh iya, mereka ini masih saja dalam posisi berdiri setelah Donghyuck, Renjun, dan juga Juju yang berpamitan tadi.

Kepala Chenle menoleh dan matanya memberikan tatapan memohon pada suaminya, ah sekarang Jisung paham situasi apa ini, ia sedikit gelisah tentang apa yang sebenarnya Chenlenya inginkan.

"Hehe.. mau itu boleh?" Pertama, ia menunjuk salah satu stand yang menjual es krim di ujung sana.
"Kamu ini, maunya es krim terus. Nanti di rumah aku bikinin aja yang dari buah ya?"
Paham akan penolakan dari sang suami, ia pun mengganti permintaannya walaupun dengan mengerucutkan bibirnya terlebih dahulu karena kesal.

Youth || jichenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang