***

227 25 9
                                        



— WHAT IF —

Di perjalanan menuju rumah sakit, tak ada satupun yang membuka suara, Jisung diam mendekap kesayangannya erat, dan yang didekap pun tampak semakin tak berdaya, dilihat dari tatapannya yang sayu dan kosong.

Hingga akhirnya saat ini tubuh lemas itu sudah terbaring di ranjang rumah sakit, dengan sang suami yang selalu ada di sebelahnya, menggenggam tangannya.

"Shh– s-sakit.." Baru beberapa menit setelah pemeriksaan tadi, bahkan rasanya dokter baru saja keluar dari ruangan ini, terdengar kembali ringisan dari mulut yang lebih muda, tangan kecil itu meremat kuat tangan milik Jisung, membuat yang digenggam seketika dilanda kepanikan.

"Kenapa, sayang? Mana yang sakit? Kepalanya atau perutnya? Hey, bilang sama aku. " Tanyanya berturut - turut sembari tangannya terus menggenggam dan mengusap tangan Chenle, tangan lainnya yang bebas juga berulang kali memencet tombol bantuan yang ada di dekatnya agar tenaga medis bisa segera datang ke ruangan ini.

"Sakit.. s-sakit banget.. perut aku.. akh–" Genggaman tangannya pada tangan Jisung semakin erat, tangan satunya mencengkram kaos bagian perutnya, badannya meringkuk, matanya pun memejam dengan alis yang mengerut, tanpa sadar air matanya juga luruh karena sakit luar biasa yang menerpa perutnya, terasa seperti ada yang melilit kencang dari dalam.

"Sebentar ya sayang, dokter bakalan ke sini, tunggu sebentar, kuat ya sayang, ya?" Jisung beralih mendudukkan dirinya di sisi ranjang dan membawa kepala Chenle untuk ia pindahkan pada pangkuannya lalu ia dekap.

"Aku di sini sama kamu, kamu kuat sayang.. kamu kuat, tolong tetap sadar ya? Aku mohon.." Lanjutnya kembali dengan suaranya yang bergetar, telapak tangannya bergerak mengusap pelan keringat yang bercucuran di kening sang terkasih. Melihat Chenlenya kembali menangis kesakitan membuatnya semakin hancur, pertahanannya ikut runtuh, satu tetes.. dua.. lalu tiga.. bahkan hingga berbulir - bulir jatuh dari matanya walaupun mulut itu tak bersuara.

"Hey.. Liat aku.." Jisung beri usap pelan pada pipi sang terkasih dengan ibu jarinya yang gemetar. Lama kelamaan pandangan Chenle mulai buram, bayangan wajah suaminya pun tak lagi jelas di netranya, ia rasa kelopak matanya memaksa untuk menutup meskipun ia sudah terus berusaha agar tetap sadar.

"M–maaf.." Lirihan terdengar dari bilah bibirnya, sangat lirih, setengah berbisik, bahkan jika Jisung tak mendekatkan telinganya pada bibir Chenle mungkin lirihan itu tak bisa ia dengar.

"Sayang! No!! Jangan tutup mata kamu, please.. ak–" Semakin samar ia dengar suara Jisung yang memohon di telinganya, ia rasakan juga telapak tangan yang menepuk pipinya berulang kali sebelum akhirnya napasnya terasa semakin berat, semua suara berubah menjadi dengung, pandangannya gelap dan sakitnya pun lenyap.

Chenle tak sadarkan diri.

Jisung sudah tak lagi bisa berpikir dengan jernih saat mendapati genangan cairan berwarna merah pekat yang keluar dari bagian bawah Chenle, merembes pada ranjang rumah sakit yang berwarna biru muda itu.

Tangannya yang sedari tadi tak berhenti memencet tombol bantuan pun terasa semakin gemetar, nafasnya tercekat, sesak sekali.

"Sayang.. kamu kuat, anak kita juga kuat, semu– semuanya baik - baik aja ya.." Lirihnya untuk sekedar menenangkan dirinya sendiri yang sedang kalut, memandang wajah sang pujaan hati yang kini tampak semakin pucat karena pemiliknya hilang kesadaran, semakin erat tangannya merengkuh tubuh si manis.

Bertepatan dengan itu, suara pintu ruangan yang terbuka mengalihkan atensi pemuda jangkung yang kini kalang kabut meminta bantuan pada tenaga medis untuk menolong Chenlenya.

"Tolong.. dokter– tolong.." Racaunya putus asa, badannya kini perlahan terasa bergerak menjauh dari posisi Chenle yang terbaring, ia rasakan dorongan dari beberapa perawat yang menyuruhnya keluar dari ruangan ini sementara dokter bisa menangani Chenle, tangan mungil yang sedari tadi tak lepas dari genggamannya pun terpaksa ia lepaskan tautannya dengan perasaan tak rela.

Youth || jichenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang