Maaf yah ada typo nyaaa
Sonya berlarian di koridor sekolah dengan wajah urakan. Sial, Newt meninggalkannya pagi ini, mana duit ongkos juga tidak di kasih. Lihat saja, perihal kejadian ini dia akan melaporkan ke mama dan papa!.
Bu Trisna terlihat sedang menulis sesuatu di papan tulis, mampus sudah, Sonya kalah telak, dia terlambat 20 menit masuk kelas, bagus tadi dia tidak usah masuk sekolah.
Awas aja ya lo, gue bikin kelaparan ga makan! Batin nya kesel mengumpat Newt beribu kata indah.
Drrrtt...drrtt...
Sonya memilih duduk di tangga koridor kelas, kemudian beralih menatap ponsel yang menunjukkan pesen Arisha di sana. Gadis itu mengabari akan menunggu Sonya di ruang ganti untuk pembelajaran olahraga nanti.
" SIAL! Baju olahraga gue ketinggalan, AAAAAAAAAA" Ucap Sonya frustasi.
Okeh, sekarang dia harus ngapain? Balik untuk ambil baju? Mana sempat. Duduk bengong? Benar-benar orang bodoh. Ga masuk jam olahraga? Dia bolos dua pelajaran nanti. Haduh hidup itu emang rumit, ada aja cobaan. Sonya menunduk lemas. Nanti saja masalah ini di proses, dia masih sangat lelah habis lari.
" Ngapain? " Mendengar pertanyaan tersebut, gadis lesuh ini mendongak keatas, mendapati tatapan Brian ke arah nya, alis itu mengkerut, kenapa mengkerut? Bisa ekspresi nya biasa aja? Soalnya makin tampan.
" Eee..telat bang, Sonya kesiangan." Jawab nya gugup.
" Oh," setelah mengatakan itu, Brian berniat akan pergi, namun tangan nya di tahan oleh Sonya. Gadis itu menatap Brian senduh.
Kenapa dia? Tanya batin Brian bingung.
" Anu..itu, aduh gimana ya, bang Brian pinjam motor dong, aku mau ambil baju olahraga yang ketinggalan."
Bagus, Sonya hilang akal.
" Bisa bawa? "
" Enggak "
Enteng banget jawabnya.
Sebenarnya Brian masih ingin mengucapkan banyak kalimat, seperti " terus kenapa mau minjam? Kenapa juga ketinggalan? Emang sempat?" Dan lain sebagainya. Tapi Bryan tetap Brian. Mengatakan lebih dari 3 kata saja itu benar-benar buang tenaga.
" Ayoo"
Tanpa menunggu jawaban dari Sonya, Brian langsung menarik tangan nya menaiki tangga, tangga menuju ke kelas kakak tingkat, ngapain beliau ini membawa dirinya kesini. Kalau dia bertemu Newt gimana?
Selang beberapa langkah, mereka tepat berhenti di depan jejeran loker, loker bertanda nama Brian tepat di pandangan Sonya. Namun gadis itu tetap diam saja sambil sesekali curi pandang memperhatikan tindakan santai Brian mengambil sesuatu dari dalam lokernya.
Pemuda tampan, tinggi, dingin, pintar, kaya dan sulit di gapai itu memberikan baju olahraga ke Sonya.
Tunggu? Apa ini?
" Pake aja"
" Ha? Di kasih ke aku?"
" Di kasih pinjam." Jawab Brian membenarkan.
" Ooo, gakpapa bang? Ga usah deh, aku bolos kedua kalinya juga gapapa kok,". Tolak nya halus, selain karena segan dia juga takut, bagaimana nanti ketahuan semua orang dia sedang pake baju Brian, terutama dari pandangan Newt, mana sekolah mereka baju olahraga juga di bikin nama lengkap, kan KIMBEK. Menjadi kimbek di momen seperti ini.
Brian diam menatap Sonya datar, tidak berniat memaksa dan tidak berniat menarik tangannya. Baiklah, lebih baik Sonya ambil saja. Muka beliau di hadapannya ini sedang tidak ingin kompromi lebih banyak. Padahal kan Sonya ingin di paksa gitu loh.
**
" Tunggu dulu tunggu dulu " ucap Arisha menahan pergerakan Sonya.
" Apa sih, "
" Ini baju bang Brian? Abang gue? Kenapa bisa lo pake Bjir? "
" Baju gue ketinggalan,"
" Teruss? Kenapa jadi baju Brian? "
" Karena di kasih pinjam,"
" Serius lo? "
Arisha memasang wajah murung, ada apa dengan pria satu itu? Kenapa terlihat kesenjangan keprimanusian disini, dia pernah ketinggalan baju dan ngos-ngosan ke kelas Brian buat pinjam baju nya dan di tolak tanpa berniat nego. Arisha tidak marah kok sama Sonya, tapi Bryan tega bener ma dirinya.
" Kalau gitu gue juga mau pura-pura ketinggalan baju olahraga deh, siapa tau di kasih pinjam sama bang Newt," ucap Arisha senyum malu-malu. Persetan dengan baju Brian, baju olahraga Newt pasti lebih wangi bukan?
" Terserah lo deh, baju dia bau ketiak,"
" Enak aja,"
Suara itu nyelonong entah dari mana, menatap Sonya kesel dan tengil secara bersamaan. Di tangan nya terlihat baju olahraga kemudian memberikan tepat di wajah Sonya.
" Apa ini ?"
" Pake,"
" Buat apa? Sonya udah ada kok,"
" Yang itu lepas, ganti ini." Ucap Newt kesel sambil nunjuk baju yang dikenakan Sonya.
" Baju gue lebih wangi, wangi surga."
" Idih, ogah banget "
" Apa lo bilang? "
" Eh? Enggak deh bang, yang ini aja, ga enak sama bang Brian, dah di kasih pinjam,"
"....," Newt tidak berniat menjawab, kenapa sama mereka, kalau di tolak selalu diam, kan Sonya jadi bingung. Dirinya benar-benar ga enak sama Brian, tapi dia lebih takut Newt marah padanya, belum lagi dia yang hidup dan tinggal barang Newt. Mampus sudah kalau Newt bisa marah seharian dan susah di bujuk.
Tapi...tapi...aaaaa yowes lahh. Pilihan hidup Sonya lagi-lagi terlalu rumit. Gadis itu mengambil paksa baju Newt dan menarik Arisha ke kamar mandi untuk menemaninya.
Senyum Newt merekah, kemenangan berada di pihaknya lagi, come on Sonya bakal selalu nurut dengannya dan dia tidak akan membiarkan siapapun menjadi andalan Sonya selain dirinya.
Dasar abang posesif dan cemburuan, perihal dapat info dari warga sekolah karena Sonya mengenakan baju olahraga Brian saja hampir buat kedua pria tampan itu adu cetos, bukan keduanya sih, Newt aja yang emosian, Brian mah santai. Lo suruh ganti jadi baju lo juga dia fine-fine aja.
Bulshit, Brian kesulut emosi juga. Tapi masih bisa di tahan, berusaha yakin kan diri, Sonya untuk apa di ributkan.
**
KAMU SEDANG MEMBACA
A Problem
Teen FictionNewt, " SONYA KOK LO BELUM BERSIHIN KAMAR GUE!" teriak Newt dari lantai dua, Sonya yang mendengar itu berlari cepat ke kamar Abang nya. "ada apa sih bang!" jawab Sonya geram, pasalnya ini teriakan Newt kesekian kali untuk hari ini, dari pagi Newt me...
