04. Memories of Moonlight

7 4 0
                                    

Hari pemakaman Lady Kalmia berlangsung di bawah guyuran hujan yang tak kunjung reda. Langit kelabu yang suram membentang di atas kerajaan, membayangi area pemakaman khusus, tempat keluarga kerajaan beristirahat untuk selamanya. Berada di tengah-tengah pepohonan cemara yang menjulang tinggi. Aroma tanah yang lembap memenuhi udara, berbaur dengan rasa manis yang samar dari bunga lili segar yang diletakkan di atas pusara yang baru saja terbentuk. Hujan telah turun sejak pagi, rintik-rintik dingin dan tidak berperasaan meresap ke dalam setiap batu dan rerumputan, melunakkan tanah di bawah kaki para pelayat.

Pemakaman hanya dihadiri oleh sekelompok kalangan bangsawan kerajaan. Wajah-wajah yang sudah tidak asing lagi di istana, meskipun ekspresi mereka tidak terbaca di tengah cahaya redup dan hujan deras. Lady Adriana Bauer, tunangan dari Putra Mahkota, berdiri di bawah payung hitam. Sosoknya tampak anggun namun tertutup kabut. Di samping gadis itu adalah ayahnya, Duke Bauer, bahunya tegap dan tatapannya tertuju pada tanah. Komandan Vogel Neumond juga hadir, ditemani oleh beberapa ksatria, kepala mereka tertunduk dalam keheningan. Keluarga Marquess Vergissmein, Count Winkel, dan beberapa keluarga bangsawan lainnya telah mengirimkan perwakilan mereka. Beberapa pelayan istana dari Istana Bulan bergabung dengan para pelayat. Wajah mereka muram dan diwarnai dengan kepedihan yang mendalam atas tragedi ini.

Namun, di antara semua pelayat, ada ketidakhadiran yang begitu ketara. Raja, ratu, dan Pangeran kedua Arglist zwei Kraftvoll, tidak terlihat. Ketidakhadiran mereka adalah sebuah bentuk celaan, sebuah pernyataan tanpa suara bahwa Lady Kalmia tidak dianggap penting dalam keluarga kerajaan.

Dari keluarga kerjaan, hanya Putra Mahkota Lucian ein Kraftvoll yang hadir. Sosoknya yang gagah diwarnai oleh sorot mata yang lembut saat ia memayungi adik perempuannya, Putri Armeria.

Armeria berdiri paling dekat dengan liang lahat, gaun gelapnya basah kuyup di bagian tepi. Tetapi ia tak peduli dengan air hujan yang membasahi kulit dan gaunnya. Wajahnya tenang saat dia menatap ke bawah. Pandangannya tertuju pada gundukan tanah di mana peti mati ibunya kini terkubur. 

Di sekeliling pusara, beberapa sosok bergerak dengan gelisah, suara kain basah dan desahan yang diredam menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan. 

Di belakang Armeria, berdiri agak jauh dengan para bangsawan yang lain, adalah Augen Starksten, yang memperhatikan sang putri dengan tatapan serius.

Dari tempatnya berdiri, Augen tidak bisa melihat wajah Armeria secara utuh. Namun bahu kecil Armeria yang menegang dan posisi tubuh yang tidak bergeming dalam dinginnya udara, cukup memberi tahu Augen apa yang sedang dirasakan sang putri.

Meskipun Augen tidak tahan untuk tidak berpaling, tatapannya menyimpan simpati sekaligus penyesalan saat ia melihat sang putri berduka. Hatinya berat dengan rasa bersalah yang tak terucap. Putri selalu menampakkan kesan bahwa ia adalah sosok yang kuat dan angkuh, seorang wanita yang bermartabat, bahkan dalam kesedihan sekalipun. Namun, pada saat ini, pria itu merasakan kesedihan di dalam sosok wanita itu yang tampak lebih dalam daripada lubang kubur di depannya.

Satu per satu, para pelayat mulai beranjak pergi, memberikan penghormatan dengan membungkukkan badan dan membisikkan ucapan belasungkawa. Augen tetap terpaku di tempat, tidak bisa berpaling dari sang putri.

Pangeran Lucian tetap berada di sisi Armeria, sosoknya yang tinggi tegap dengan setia memayungi sang putri yang masih berdiam diri di tepi makam.

Dada Augen terasa sesak saat ia melihat Putra Mahkota Lucian mencondongkan tubuh ke arah adik perempuannya. Bibirnya mendekat ke telinga Armeria, dan menggumamkan sesuatu yang tak dapat didengar oleh Augen. Kata-kata yang pangeran ucapkan hanya untuk didengar oleh telinga adiknya. Mungkin kalimat penghiburan, mungkin juga kalimat penyemangat, sementara tangan Lucian merangkul bahu Armeria.

The Liar PrincessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang