Epilog

20 4 1
                                        

Beberapa waktu telah berlalu...
Semuanya bagaikan mimpi yang baru saja terjadi. Dimana minpir tersebut mencapai klimaks, namun langsung terbangun dari mimpinya itu, hanya saja detail dari mimpinitu masih bisa diingat dengan baik seolah itu benar-benar terjadi.

Sekarang kembali ke dua orang yang resmi menjadi pasangan, atau lebih tepatnya sudah bertunangan. Mereka pergi dari Jepang menuju tempat kelahiran salah satu pasangan cowok itu, Korea Selatan, dimana mereka menikmati kehidupan mereka yang berlanjut disana.

Sekarang mereka memulai kehidupan kuliah mereka disana, bahkan sudah membeli rumah dimana mereka tinggal dan hidup bersama disana. Tidak lupa juga, mereka berniat mengunjungi orang tuanya si tunangan pria untuk memperkenalkan wanitanya nanti.

Dan pasangan yang dimaksud? Tentunya Seok Zihan Jung dan Qin Ziyao Liu. Saat ini, mereka sedang berjalan -jalan bersama melihat-lihat kota. Dimana Liu tampak terkesan, melihat kota macam ini secara langsung dan mengunjunginya. Dan Zihan tampak merasakan nostalgia yang membanjiri kepalanya, baik kenangan buruk dan indahnya.
Namun dengan kehadirannya Liu, Zihan merasa segalanya bisa dia hadapi semua itu. Kali ini, mereka sekarang sedang beristirahat disebuah cafe. Liu menyandar ke pundaknya Zihan sambil menatap ke wajahnya.
Begitu mata mereka bertemu, mereka tersenyum dan Zihan mengelus kepalanya Liu juga pipinya.

‘Tidak pernah aku merasa ataupun menyangka bisa sebahagia ini dalam hidup ini...’ Tutur batinnya Zihan sembari mengelus kepala Liu. Suasana disana walaupun malam, tapi suasana masih sangat ramai dan hidup.
Ekspresi wajahnya Liu menunjukan kenyamanan walau wajahnya memerah, karena mereka sudah tidak perlu merasa malu akan gestur sayang seperti itu.

‘Ehehe... Kamu bener-bener kayak pangeran yang datang dari sebuah cerita, Zihan... Aku gak pernah merasa menyesal memilihmu dan menjadi milikmu...’ Tutur batinnya Liu yang sembari menatap mukanya Zihan, dimana mereka tersenyum melihat satu sama lain.

Selama beberapa menit, mata mereka terpaku dan fokus ke mata mereka masing-masing. Terasa dan terlihat dengan jelas perasaan yang mereka rasakan, ketulusan dan kebahagiaan yang terpapar jelas, selaku mata berbicara lebih jelas dan kuat daripada kata-kata yang dilontarkan dari bibir.

Menyadari berapa lama mereka begitu, mereka sedikit tertawa dan memalingkan wajah menatap ke pemandangan kota dari tempat duduk mereka di balkoni café.

“Liu...”
“Zihan...”

Secara bersamaan mereka memanggil nama masing-masing, tanpa menoleh manatap wajah. Mereka benar-benar menikmati perasaan dan suasana yang sekarang ini...

Damai, tentram, hangat, serta serasa ditemani tidak hanya secara fisik, tapi juga secara emosional serta spiritual. Itulah yang mereka rasakan sekarang...

“Aku... Mencintaimu...”
“...Zihan...”
“...Liu...”

Disaat itu juga, angin malam yang pelan berhembusan membawa bunga berwarna putih dan hitam terbang mengitari sekeliling kota dan daerah luarnya.

Dimulai dari dua ekor kucing putih dan hitam bertemu dan duduk bersebelahan.
Dua ekor burung hantu disarang mereka menjaga tiga ekor anakan mereka yang baru menetas.
Lalu terbang melewati rumah berisi keluarga dengan tiga oranv anak.

Dan akhirnya...
Diakhiri dengan tiga saudara yang berkeluarga mengunjungi orang tua mereka beserta dengan pasangan dan anak-anak mereka.
Dimana orang tua mereka itu sudah tua, namun menyambut anak-anak mereka, anak mertua serta cucu-cucu mereka dengan senyuman, sembari berggandengan tangan...

code love protocol [END] [Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang