chapter 14 sesuatu di balik layar

16 9 1
                                        

Sebelum Seok Zihan Jung membayar belanjaannya, Qin Ziyao Liu segera menolak dan menaruh uangnya di atas meja kasir dan segera pergi dari supermarket. Begitu Seok Zihan Jung ditinggal sendirian, wajahnya tetap tenang dan biasa saja sambil menatap Liu yang berjalan keluar.
Namun didalam, perasaan Zihan tersakiti melihat tindakannya, sampai dia hanya bisa menghela nafas dan menutup matanya.

‘...Liu... Kamu sudah membenciku kah?” Pikirnya didalam batin, sambil bertanya-tanya didalam hatinya itu. Begitu membayar belanjaannya dimeja kasir, ia pergi keluar supermarket, sambil mencoba mencari keberadaan Qin Ziyao Liu yang ternyata sudah menghilang.

‘...Kamu kemana, Liu?’ Tanya Seok Zihan Jung dalam hatinya, sembari berjalan pulang menuju apartnya. Dijalan, dia melewati restoran ramen yang sekarang sudah kembali normal setelah kejadian kebakaran itu. Seperti biasa, restorannya masih ramai seperti di awal pembukaan.

‘...Apa dia masih bekerja disini ya?’ Tanya Seok Zihan Jung dibatinnya, yang melihat restoran ramen yang sudah bangkit kembali dari abunya. Banyak pelanggan yang keluar masuk restoran itu,

Berhubungan Zihan belum makan, dia pun memutuskan untuk makan dulu. Dia memasuki restoran itu dan melihat isi dalam restorannya yang punya beberapa tambahan dekorasi untuk menambah nuansanya.
Dengan jumlah pelanggan yang semakin ramai, tempat duduk pun hampir tidak ada sisa. Untungnya, Zihan berhasil menemukan tempat kosong dan mengambilnya.

Begitu duduk, Zihan dihampiri oleh seorang pelayan. Begitu dia menoleh ke pelayan itu, ternyata itu Qin Ziyao Liu yang sedang menjalani shiftnya. Begitu mengetahui siapa dengan siapa, Qin Ziyao Liu jadi sedikit tidak nyaman, namun dia tetap mencoba bersikap profesional dan memberikan menunya.

“Selamat datang, silahkan mau memesan apa?” Qin Ziyao Liu yang melayaninya. Sikapnya sedikit cuek, walau tersenyum. Zihan pun menarik nafas dalam-dalam dan ia membuka buku menunya. Untuk beberapa alasan, Liu kaget ternyata Zihan memang mau memesan makanan, bukan hanya sekedar mampir mencarinya.

“Aku ingin memesan salmon mentah saja.” Kata Seok Zihan Jung yang membuat Qin Ziyao Liu kaget. Pasalnya, memesan salmon mentah itu seringnya untuk orang-orang yang merasa hidupnya sedang hancur, umumnya ketika sedang memikirkan seseorang.

“...Kamu mikirin seseorang sampai memesan salmon mentah?” Tanya Qin Ziyao Liu dengan penasaran sambil menatap mata Seok Zihan Jung, namun dia tidak menatap balik, matanya tertuju ke menu sembari tenggelam didalam pikirannya itu.

“Tidak ada kok, cuman ingin mencoba makan salmon mentah.”
“Ah, aku juga ingin memesan Sake.” Setelah mendengar pesanan Zihan, matanya Liu langsung melebar karena kaget. Liu melihat kembali ke Zihan yang sekarang menatap ke dirinya.

“M-Maaf, tapi menu alkohol apapum sedang tidak ada selama 5 tahun kedepan. Apa anda ingin memesan salmon mentah saja?” Jelas dan tanya Qin Ziyao Liu yang diam-diam sedikit khawatir, karena Seok Zihan Jung sangat berani sekali ingin memesan alkohol.
Namun mendengar ucapannya Qin Ziyao Liu, Seok Zihan Jung langsung melirik kearah meja disampingnya, dan ada banyak botol alkohol. Barulah Zihan menoleh kembali ke Liu.

“Jika memang kosong, terus kenapa di sampingku ada yang meminumnya?” Tanya Seok Zihan Jung sembari menatap matanya Qin Ziyao Liu, yang terlihat sedikit panik dan mencoba mencari alasan agar Seok Zihan Jung tidak jadi memesan alkohol apapun.

Liu yang melihat tatapan Seok Zihan Jung, jadi sedikit ketakutan, karena tatapannya berbeda dari biasanya. Ada sesuatu di tatapan matanya itu yang tidak bisa Liu jelaskan. Tapi apapun itu, membuatnya agak merinding dan takut.

Qin Ziyao Liu juga sedikit menyesal karena cuek kepada Seok Zihan Jung. Liu awalnya sangat berharap, jika ia cuek kepada  Zihan, maka dia akan mengejarnya terus menerus dirinya, ditambah dengan menatap ke dirinya seolah meminta untuk kembali, namun malah sebaliknya. Zihan sekarang jadi berbeda.

Bahkan sampai memesan alkohol dan salmon mentah, seolah dirinya ingin mencari mati dengan cara aman. Mengetahui ini, Qin Ziyao Liu mulai khawatir terhadap Seok Zihan Jung, tapi akhirnya Liu memberanikan diri dan menatap kearahnya.

“...Apa kamu yakin ingin minum alkohol?” Tanya Qin Ziyao Liu untuk memastikan lagi, dan sekarang dengan ekspresi wajah yang menunjukan kekhawatirannya, sembari menatap Seok Zihan Jung yang memberikan menunya kembali kepadanya.

“Mmmh... Itu saja, jika kamu menggantinya dengan yang lain, jangan harap bertemu dengan aku lagi.” Jawab Seok Zihan Jung sembari tersenyum kecil dan lagi, Qin Ziyao Liu yang melihat senyuman Seok Zihan Jung mulai merinding.

“B-Baik, mohon ditunggu sebentar...” Jawab Qin Ziyao Liu yang sedikit gemetaran ketika melihat tatapan tajam dan dingin dari Seok Zihan Jung yang berakhir Qin Ziyao Liu harus menuruti kemauannya itu.

Liu pun meninggalkan tempat duduknya Zihan untuk mengambil pesanannya. Zihan melihat reaksinya itu, tersenyum karena sesuai rencananya.

’Nice... Actingku berjalan sempurna.’ Pikirnya dalam batin dan merasa puas dan mengingat sebelum ia memasuki restorannya Qin Ziyao Liu.

Beberapa menit sebelum Seok Zihan Jung memasuki restoran, Seok Zihan Jung sudah mempersiapkan rencana. Jika seandainya dia menemukan dan bertemu dengan Liu disana, dia tau Liu dingin dan cuek kepadanya.

“...Jika begitu, berarti aku harus acting agar Liu khawatir kepadaku. Aku juga harus mencoba membuatnya menyerah duluan dalam permainannya sendiri...” Gumannya dan mulai berjalan masuk kedalam restorannya. Dipikirannya, Zihan sudah menyiapkan actingnya untuk Qin Ziyao Liu untuk memecahkan es nya Liu.

‘Seingetku... Ada menu salmon mentah disini, dan memesan itu, menandakan bahwa orang itu sedang tersakiti karena sebuah kejadian.’ pikir Seok Zihan Jung sembari tersenyum. Dia sudah menyiapkan rencananya, bahkan untuk kedepannya dan juga jika seandainya skenario akan berbeda dan harus improvisasi.

Kembali ke masa sekarang, dengan Seok Zihan Jung yang duduk di mejanya dan masih menunggu pesanannya.

‘Actingku tadi lumayan juga, apa harusnya aku ikut klub acting saja?’ pikirnya sembari tersenyum sengir didalam batinnya. Lalu, dia membuka ponselnya dan mulai melihat kamera cctv yang ada di restoran tempat kerja Qin Ziyao Liu. Bagaimana Zihan punya akses ke kamera CCTV di restoran itu? Ternyata restoran itu sudah dibeli oleh Seok Zihan Jung.

Beberapa hari yang lalu, Seok Zihan Jung berjalan menuju restoran tempat kerjanya Qin Ziyao Liu. Disana, dia bertemu dengan pemilik restorannya. Mereka berbincang sejenak dan dan ngobrol santai, bahkan saling berbagi cerita dan tertawa bersama. Dan barulah mereka mulai membahas kembali alasan mengapa Zihan kesana.

“Nak Zihan, anda yakin ingin membeli restoran ini?” Tanya pemilik restoran itu sembari menatap mata Seok Zihan Jung yang tersenyum. Zihan pun menganggukan kepalanya sambil menjawab pertanyaan dari sang pemilik restoran itu

“Yakin, saya akan membeli restoran anda ini. Tapi dengan satu syarat, jangan beri tau identitas pemilik restoran yang baru kepada Qin Ziyao Liu” jawabnya sembari tersenyum kepada sang pemilik restoran itu.

“Begitu ya? Baiklah, jika anda ingin membelinya silahkan tanda tangan surat ini.” kata sang pemilik restoran itu sembari menyodorkan sertifikat dan surat-surat lainnya. Seok Zihan Jung pun menandatangani semua suratnya itu, lalu membuka ponselnya.

“Uangnya akan saya tranfer ke rekening bapak.” Dengan begitu, Seok Zihan Jung sudah mentranfer uangnya ke nomor rekening sang pemilik restoran, sebesar 4.830.000 yen. Melihat banyaknya uang yang di transfer Zihan, sang pemilik kaget melihat ini karena uangnya lebih banyak dari yang ia tawarkan.

“N-Nak? Ini terlalu banyak loh. Padahal harga yang ku berikan cuma 483.000 yen saja...”

“Kumohon, terima saja uangku itu. Ini juga sebagai tanda terimakasihku...” bujuk Seok Zihan Jung sembari tersenyum. Walau agak keberatan, sang pemilik restoran itu menghelakan nafasnya dan menerimanya.

Kembali ke masa sekarang, dimana Qin Ziyao Liu sudah mengantarkan makanannya Seok Zihan Jung ke mejanya. Begitu sudah tiba, Zihan tersenyum kecil dan menoleh ke Liu.


”Terimakasih atas makanannya...”

code love protocol [END] [Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang